jurnalistik.co.id – Penyelenggara Eurovision Song Contest (EBU) tengah mempertimbangkan perubahan aturan untuk menekan kampanye suara yang didorong tujuan politik dan dinilai mengganggu cara publik menilai penampilan para peserta.
Usulan ini muncul melalui surat kepada penyiar yang berpartisipasi, dengan fokus pada mekanisme pemungutan suara penonton yang selama ini memberi ruang bagi mobilisasi besar-besaran.
Rencana perubahan: pemungutan suara sepenuhnya online dan pembatasan pilihan
Saat ini, penonton dapat memberikan suara hingga 10 kali untuk kontestan favorit melalui telepon, pesan singkat, atau platform online.
Dalam surat yang dilaporkan BBC, EBU disebut mengusulkan agar voting dipindahkan sepenuhnya ke kanal online dan penonton diminta memilih tiga entri teratas mereka, alih-alih dapat memberikan banyak suara pada satu kontestan yang sama.
EBU menilai bahwa voting yang bermotif politik telah menjadi “persistent” dan dipandang “deeply worrying”.
Menurut surat tersebut, EBU meyakini perubahan itu akan “help dilute the effect of a mobilised block vote, without compromising fairness or trust”. Pernyataan ini pertama kali dilaporkan oleh surat kabar Swedia Aftonbladet.
Alasan utama: respons terhadap mobilisasi suara pada 2025
Aturan ini ramai dibahas setelah pemerintah Israel mendorong penggemar untuk mendaftarkan banyak suara bagi kontestan negara tersebut pada Eurovision 2025.
Yuval Raphael membawakan lagu “New Day Will Rise” dan pada penilaian juri ia menempati posisi ke-15, tetapi justru melampaui semua peserta lain pada pemungutan suara publik dengan mengumpulkan 297 poin.
Pada akhirnya, Raphael menyelesaikan kompetisi sebagai runner-up secara keseluruhan.
Sejumlah penyiar kemudian mempertanyakan bagaimana Israel bisa meraih posisi setinggi itu. Mereka menyoroti permintaan suara yang datang dari akun media sosial resmi yang terkait dengan pemerintah Israel, termasuk akun Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang disebut meminta publik memberikan suara sebanyak 20 kali kepada Raphael—yakni maksimal yang diizinkan pada masa itu.
EBU kemudian mengubah aturan untuk edisi 2026 dengan menurunkan maksimum jumlah suara menjadi 10.
Namun, pada persiapan menjelang kompetisi, EBU juga harus mengeluarkan peringatan resmi kepada penyiar Israel, Kan, setelah kontestan Israel merilis video yang menginstruksikan penggemar untuk “vote 10 times for Israel”.
Menurut Eurovision, EBU berpendapat unggahan tersebut tidak sejalan dengan “the spirit of the competition”, sehingga konten diminta dihapus.
Usulan terbaru pada dasarnya mengakhiri kemungkinan memilih beberapa suara untuk negara/entri yang sama secara berulang. Akan tetapi, surat itu masih memungkinkan penggemar berdedikasi mendaftarkan akun tambahan dengan metode pembayaran yang berbeda.
Berita Terkait
Isi surat dan dasar teknis
Dalam suratnya, EBU menyatakan bahwa sistem voting saat ini memengaruhi cara penonton memandang kontes.
Surat tersebut menulis, “Even without major paid campaigns, and with a voting system that we can vouch for, it has become clear that today’s geopolitical climate is driving votes for certain artists for reasons that have very little to do with their performances.”
EBU menegaskan, “This is nothing new in Eurovision’s history – we have seen it happen before – but this time it is persistent, and for many it is deeply worrying.”
Bagian lain dari surat menjelaskan langkah yang mengarah pada dua perubahan, yakni “Moving the public vote completely online and requiring people to vote for more than one entry, for example their three favourites,” yang ditandatangani oleh Jean Philip De Tender selaku kepala eksekutif EBU dan Ana Maria Bordas selaku ketua Eurovision Reference Group.
Dalam penjelasannya, EBU menyebut pemindahan voting ke sistem online dipertimbangkan karena ada kesulitan teknis bila meminta penonton memberikan suara untuk lebih dari satu entri melalui telepon atau pesan singkat.
Catatan lain yang disebut dalam laporan adalah Inggris sudah beralih ke sistem voting berbasis online-only, dimulai sejak kompetisi tahun ini.
Perubahan lain di sekitar Eurovision dan isu sponsor
Selain pembahasan aturan suara, EBU juga menyampaikan bahwa perusahaan kosmetik Israel Moroccan Oil mengakhiri dukungan sponsor Eurovision setelah enam tahun.
Laporan tersebut tidak menyebut alasan spesifik berakhirnya kemitraan, yang selama ini mencakup penyediaan hairstylists profesional dan produk perawatan rambut bagi para artis yang berpartisipasi.
Meski demikian, sorotan kritik muncul dalam beberapa tahun terakhir terkait kehadiran Israel di Eurovision, terutama di tengah protes yang lebih luas seputar perang di Gaza.
Langkah-langkah kebijakan juga terus bertambah. Pada awal pekan ini, penyelenggara mengumumkan bahwa penyiar tidak akan lagi memenuhi syarat untuk menjadi tuan rumah jika negara mereka terlibat dalam “armed conflict” atau “sensitive geopolitical situation”.
Dalam pengumuman lain, usia minimum penyanyi yang mengikuti kompetisi dinaikkan dari 16 menjadi 18, dan Eurovision memperkenalkan aturan yang lebih ketat mengenai penggunaan vokal yang sudah direkam sebelumnya.
Di sisi lain, pada hari Kamis disebutkan kota pesisir Burgas di Bulgaria akan menjadi tuan rumah Eurovision 2027.
Bulgaria meraih hak penyelenggaraan setelah wakilnya, Dara, memenangkan kedua penilaian—juri dan publik—untuk lagu kebangsaan klub “Bangaranga” pada Eurovision tahun ini.
Edisi ke-71 kompetisi dijadwalkan berlangsung pada 12 hingga 15 Mei 2027.
Sementara itu, EBU dalam pernyataan kepada BBC News menyebut, “We can confirm that we have begun investigating a move to wholly online audience voting for the Eurovision Song Contest and more details will be announced in the months ahead.”












