Entertainment

Kucing liar di Coventry: dari malam rave hingga pub, mereka menemukan rumah di tengah keramaian

×

Kucing liar di Coventry: dari malam rave hingga pub, mereka menemukan rumah di tengah keramaian

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: How stray cats in Coventry made rave nights and pubs their home

jurnalistik.co.id – Dua kucing liar di Coventry kini berubah fungsi dari sekadar “tamu tak diundang” menjadi bagian dari rutinitas warga kota—mulai dari malam rave yang ramai hingga suasana pub yang hangat.

Fargo dan Murphy menarik perhatian bukan karena kelucuan yang kebetulan, melainkan karena kehadiran mereka terasa “nyambung” dengan tempat yang mereka datangi, sampai akhirnya melahirkan komunitas penggemar.

Dalam waktu singkat, keduanya juga memunculkan merchandise tersendiri dan membuat banyak orang datang bukan untuk acara utamanya, melainkan untuk memastikan kucing tersebut sedang ada atau tidak.

Murphy menetap di pub

Murphy pertama kali terlihat tinggal di bawah semak, sebelum kemudian berjalan masuk ke area parkir The Old Windmill di pusat kota.

Saat ditemukan, kondisinya digambarkan “rake thin” dan membutuhkan perawatan, lalu perlahan menjadi penghuni yang menetap.

Peter Dunkley dari tempat tersebut mengatakan, “We’ve had people who’ve never been in the pub before, but have seen him on social media,” dan menambahkan bahwa pertanyaan pertama pengunjung sering kali langsung mengarah ke Murphy: “They come in and the first question is ‘where’s Murphy’?”

Bagi Dunkley, Murphy tidak hanya hadir sebagai hewan peliharaan yang ramah, tetapi juga menjadi daya tarik yang menghidupkan ruang publik di dalam pub.

Ia pun ikut mendorong penggalangan dana untuk tujuan baik, lewat merchandise yang dijual atas namanya.

Fargo sebagai ikon di Fargo Village

Sementara itu, Fargo dikenal sebagai sosok yang sering terlihat di Fargo Village—pusat kreatif yang diberi nama berdasarkan dirinya.

Ia kerap muncul di sekitar toko dan bar di kawasan tersebut, berbaur dengan pengunjung yang sedang menikmati musik dan minuman.

Untuk melacak pemilik Fargo, staf Fargo Village membuat akun Instagram, dan inisiatif itu menarik pengikut setia yang ingin mengikuti “petualangan harian” sang kucing.

Bernie Blossom, manajer bar di Village venue The Box, menyebut respons pengunjung sangat kuat: “Loads of people come here just to see the cat,” katanya. Ia melanjutkan, “He’s such a darling, we’ve all fallen in love with him.”

Blossom mengatakan Fargo pertama kali terlihat sekitar Oktober, bermula saat Halloween. Menurutnya, “We were all outside the venue during Halloween and this black and white cat just kind of appeared, and started hanging out.”

Setelah itu, dalam beberapa bulan berikutnya Fargo makin sering terlihat, termasuk saat rave dan malam yang lebih larut di The Box.

Preferensi musik Fargo yang khas

Alun Roberts, pemilik toko rekaman Just Dropped In, menyatakan, “The cat’s been coming to us for well over six months now.”

Roberts menuturkan Fargo mulai datang ke beberapa konser di tempatnya, lalu “would plop itself on to one of our seats.”

Namun Fargo tidak hadir di setiap jenis pertunjukan dengan minat yang sama. Roberts berkata, “Some of the noisier gigs, some of the punk gigs, he’s not so keen on,” dan menjelaskan preferensinya: “He loves a bit of folk, a bit of ambient – [he’s] not keen on drumming and stuff like that.”

Ia menambahkan bahwa pengunjung rela datang hanya untuk melihat keberadaan Fargo: “Customers come in just to see where the cat is.”

Saat mencari pemilik, Blossom bahkan sempat memasang paper collar pada Fargo.

Blossom menjelaskan prosesnya, “We saw him more and more and more over winter, until we kind of deducted that he might not have an owner because he was so dirty.”

Di antara para pengunjung, kemudian muncul julukan yang kini melekat pada Fargo: “We do call him Six-Dinners Sid because he gets fed in the record store, Beedlebop and The Box,” kata Blossom.

Upaya cek chip, perawatan, dan dukungan kebugaran

Sarah Friedlos, pemilik studio cetak Beadlebop Design print studio, mengatakan ia sempat membawa Fargo ke sebuah charity untuk mengecek microchip, tetapi tidak membuahkan hasil.

Ia juga rutin memberi makan. “He comes in here, has a good old scoff, and then a sleep and goes off for a bit,” ujarnya.

Friedlos menambahkan ada momen ketika orang datang ke tempatnya sambil menunjuk sesuatu, dan ia sempat bertanya, “can I help you?” karena, menurutnya, ia kadang lupa bahwa kucing itu sedang berada di sana.

Melihat kebutuhan perawatan yang makin jelas, bisnis-bisnis di Fargo Village kemudian meluncurkan rangkaian merchandise agar pemasukan dapat dipakai untuk vet bills dan kesejahteraan hewan.

Jo Taylor dari Village’s Indie Mart menjelaskan produk yang dibuat meliputi mugs, key rings, prints, dan badges, menggunakan karya ilustrasi dari Martha King Slaye.

Menurut Taylor, “We’ve had him checked over, but he’ll need injections.” Ia juga menyebut, “He was neutered so he had an owner at some time,” sambil menambahkan, “but in the six months he’s been around he looks so much healthier.”

Ia menilai Fargo berwatak ramah: “He’s so friendly with everyone, he’s a joy to have around.”

Murphy dan kontribusi untuk Coventry Foodbank serta RSPCA

Kembali ke The Old Windmill, Murphy juga mengumpulkan perhatian hingga mendorong penggalangan dana. Dunkley menyebut hasil penjualan cat mugs dengan nama Murphy telah mengumpulkan sekitar ÂŁ80 untuk proyek Coventry Foodbank, dan masih ada rencana lanjutan: “and there’s more to come”, kata Dunkley.

Penanganan kesejahteraan hewan menjadi perhatian serius bagi pihak pub, termasuk terkait kondisi awal Murphy.

Dunkley mengatakan, “When he first moved in he hadn’t been chipped or neutered, so that’s all taken care of,” dan menyimpulkan bahwa kebutuhan perawatan tersebut sudah diurus.

Hubungan Murphy dengan tempat itu pun dipandang saling menguntungkan. Dunkley menjelaskan, “As far as we’re concerned,” lalu menegaskan peran Murphy dalam menarik perhatian pengunjung.

Ia berkata, “Murphy does our marketing, and we pay him in food and accommodation, and the customers love him.” Dunkley menutup dengan kalimat yang menggambarkan posisi Murphy sebagai figur yang akrab bagi banyak orang: “It’s like hanging around with somebody who’s really famous.”