jurnalistik.co.id – Gelombang panas yang melanda Italia musim ini membawa kekhawatiran serius bagi kesehatan. Kementerian kesehatan mengeluarkan red alert untuk 27 kota besar di seluruh Italia, termasuk tujuan wisata populer seperti Milan, Naples, Venice, dan Rome.
Di tengah musim liburan Eropa yang terus berlangsung, banyak wisatawan berupaya mencari cara agar tetap bisa menikmati perjalanan tanpa mengambil risiko. Sebagian orang di Italia menilai panas yang terjadi bukan sesuatu yang benar-benar baru, sementara pengunjung dari wilayah selatan justru kaget ketika melihat kondisi di kota-kota utara.
Untuk mengurangi dampak terburuk, waktu keluar rumah menjadi kunci. Simone Quilici, direktur Archaeological Park of the Colosseum, menegaskan bahwa mendatangi destinasi luar ruang pada jam-jam terpanas—yakni setelah makan siang—adalah “big mistake”.
Quilici menjelaskan bahwa pengaturan jadwal kunjungan tidak ditentukan sepihak oleh pihak Colosseum, melainkan mengikuti arahan otoritas regional. Namun, pada Agustus, Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan memberi izin agar beberapa tempat tetap buka hingga sore–malam untuk membantu pengunjung menghindari panas puncak.
Perubahan jam buka itu meliputi Colosseum di Rome yang dibuka pada Jumat dan Sabtu, antara 19:45 hingga 23:30. Pantheon di Rome beroperasi dari 19:00 sampai 23:00 setiap hari kecuali Kamis. Sementara itu, Sforza Castle di Milan dibuka dari 17:30 hingga 19:30.
Di area Colosseum, petugas juga menyiapkan perangkat pendingin berupa kipas yang menghembuskan kabut halus di pintu masuk. Pada saat suhu tinggi, jumlah pos medis untuk keadaan darurat pun ditingkatkan.
Quilici menggarisbawahi bahwa kondisi ini bukan kejadian terpencil, melainkan bagian dari “global phenomenon” perubahan iklim. Ia menyebut sedang berdiskusi dengan para arkeolog untuk menghadirkan lebih banyak vegetasi yang mampu memberi naungan.
Bagi wisatawan yang ingin menyesuaikan ritme perjalanan, Mateo Medina menyampaikan skema yang mulai banyak dicari. Direktur operasi Vivicos International Travel itu mengatakan timnya menambah tur dari 22:00 hingga tengah malam, sekaligus melihat lonjakan permintaan untuk tur pukul 08:00.
Kegiatan di dalam ruang juga menjadi pilihan yang paling masuk akal ketika cuaca sangat panas. Medina menyebut museum ber-AC adalah tempat yang populer untuk berlindung dari panas, dan gereja-gereja di Italia memberi kesempatan sekaligus untuk menyerap warisan budaya Katolik.
Selain itu, kelas memasak dan sesi mencicipi anggur—yang umumnya digelar di lokasi ber-AC—makin diminati sebagai alternatif berjalan kaki. Medina turut merekomendasikan taman-taman di Rome seperti villa Borghese, villa Adriana, dan Parque de Acquedotti untuk mencari keteduhan, serta mengunjungi Catacombs of San Sebastian dan San Callisto.
Di Naples, Marco Carrino mengingatkan agar tidak mendatangi situs arkeologi terbuka pada jam terpanas. Banyak tur yang ia jalankan berangkat dari rute ke Pompeii, sehingga ia menyarankan berangkat lebih pagi atau, bila memungkinkan, menghindari bulan-bulan terpanas sama sekali.
Jika ingin fokus pada aspek sejarah, Carrino juga mendorong kunjungan ke National Archaeological Museum of Naples. Ia menyebut museum itu “very important for archaeology and has a great Roman, Egyptian and even Greek collection”.
Berita Terkait
Alessia Armenise, pakar perjalanan dan penulis, melihat kebiasaan sederhana yang sering luput dari perhatian. Ia menyebut supermarket sebagai “underrated gem” karena ber-AC, sehingga wisatawan bisa singgah ke area deli dan mengambil sandwich segar yang dibuat sesuai pesanan dengan harga yang masuk akal, “instead of queuing for those silly focaccia places that honestly taste the exact same”.
Armenise juga mendorong wisatawan untuk mengambil jalur yang lebih jarang dilalui sekaligus merencanakan jadwal lebih awal. Untuk menjaga rasa nyaman, ia mencontohkan menikmati minuman dingin seperti granita khas Sisilia atau grattachecca di Rome.
Jika lokasi memiliki perairan alami atau fasilitas air, rencanakan kegiatan dengan memanfaatkan elemen tersebut. Armenise menyarankan, “Instead of walking, get a boat” karena kadang pengunjung bisa melihat hal-hal yang tidak dapat diakses lewat jalur darat.
Ia juga menyebut opsi melihat garis pantai dari laut, dengan keuntungan tambahan air yang menyentuh tubuh saat bergerak. Cara seperti ini membantu mendinginkan pengalaman tanpa harus bergantung pada aktivitas pejalan kaki.
Untuk mereka yang memilih rute berkendara, Dr Agata Chrzanowksa—sejarawan seni dan pemandu tur di Florence—menilai wilayah perbukitan serta pegunungan di utara kota sebagai pilihan yang baik. Ia menyoroti khususnya region Garfagnana, yang ia sebut sebagai “a very good spot to runaway from the heat”.
Namun, bila destinasi tertentu tidak boleh dilewatkan, perencanaan tiket perlu dipercepat. Untuk mengunjungi Vatican di Rome, Armenise menyarankan pemesanan lebih awal agar tidak harus menunggu dalam antrean pada suhu ekstrem.
Sejumlah landmark menjual tiket secara online lebih dahulu, tetapi Medina menekankan pentingnya kesiapan karena tiket dapat cepat habis. Ia menyiratkan bahwa keputusan mendadak berisiko membuat wisatawan kehilangan kesempatan.
Dalam pendekatan yang lebih dekat dengan kebiasaan warga setempat, Armenise mengajak untuk mencoba galeri dan museum di kota atau lingkungan yang lebih kecil. Biasanya tempat seperti ini lebih jarang dipadati pengunjung dan menyediakan kafe agar orang bisa bertahan berjam-jam.
Ia memberi contoh pengalamannya saat perjalanan ke Bologna, ketika udara terasa sangat panas pada suatu sore. Ia akhirnya memilih pergi ke bioskop, dan Armenise menilai pengalaman itu berbeda karena wisatawan bisa saja menemukan teater tua yang tetap menjadi bagian dari sejarah kota tersebut.
Jika berada di Verona dan mencari aktivitas malam, Chrzanowksa menyarankan konser di Verona Arena, sebuah amfiteater di pusat kota. Pilihan seperti itu memberi agenda hiburan tanpa harus bertahan di luar pada jam terik.
Chrzanowksa juga membagikan rekomendasi untuk Florence berupa kafe dan toko buku Odeon. Ia menggambarkan tempat itu sebagai bioskop atau teater bergaya art-nouveau yang baru dimodernisasi, kini berubah menjadi toko buku indah tempat pengunjung bisa memesan minuman, ber-AC, dan bersantai dengan buku di sekeliling.
Di Venice, Fiona Giusto—pemandu tur yang menjalankan Venice Tours—menyusun mayoritas rute berdasarkan titik singgah yang teduh. Ia juga mendorong wisatawan untuk tetap terhidrasi, memakai topi, dan menggunakan sunscreen.
Giusto merangkum sarannya dengan kalimat, “the best advice I can give is simply good common sense when visiting Venice in the summer”. Ia menambahkan untuk merasakan budaya tanpa terik, wisatawan bisa menuju Teatro La Fenice yang bersejarah dan museum seni Ca’ Rezzonico, lalu menutup dengan penekanan yang sama: “good common sense”.












