Internasional

Kekeringan Berulang: Mengapa Inggris dan Wales Terus Dilanda Krisis Air (Kali Ketiga dalam 5 Tahun)

×

Kekeringan Berulang: Mengapa Inggris dan Wales Terus Dilanda Krisis Air (Kali Ketiga dalam 5 Tahun)

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Why do parts of England and Wales keep falling into drought?

jurnalistik.co.id – Lebih dari separuh wilayah Inggris dan seluruh Wales kini dinyatakan berada dalam kondisi kekeringan untuk minggu ini. Ini menjadi kejadian ketiga dalam lima tahun terakhir.

Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan besar: mengapa wilayah yang seharusnya memiliki penopang musim hujan tetap berulang mengalami kekurangan air? Para ahli menekankan bahwa “kekeringan” tidak hanya soal curah hujan, melainkan menyangkut dampaknya pada lingkungan, pertanian, hingga pasokan air minum.

Menurut Environment Agency (EA), tidak ada satu definisi tunggal mengenai kekeringan. Penilaian bergantung pada siapa yang terkena dampak, ketersediaan air, dan cara air digunakan. Karena itu, respons pemerintah dan pelaku usaha bisa berbeda-beda, mulai dari upaya penyelamatan serta pemindahan ikan, peningkatan pengecekan pemakaian air, hingga redistribusi pasokan.

Sumber air untuk konsumsi dan pertanian di Inggris dan Wales juga beragam. Tiga sumber utama meliputi sungai, waduk, serta air tanah dalam (groundwater). Pada periode cuaca panas kali ini, penurunan waduk terjadi karena kombinasi minimnya hujan dan tingginya permintaan rumah tangga.

Sebagai langkah pencegahan, sejumlah “temporary use bans” atau pembatasan penggunaan selang (hosepipe bans) diberlakukan untuk sekitar 20 juta orang. Langkah ini umumnya muncul ketika level waduk terus menurun sementara kebutuhan tetap tinggi.

Namun, ada lapisan lain yang membuat situasi tidak cepat pulih meski musim dingin sempat membawa curah hujan di atas rata-rata. Saat ini, perusahaan air hampir semuanya berada pada tingkat kekeringan level 1, sementara Anglian menjadi pengecualian di level 2, dari kemungkinan maksimum 4.

Yang paling terasa dampaknya adalah kondisi aliran sungai dan level air tanah. Data dan penilaian EA menunjukkan bahwa sungai serta groundwater ikut “terpukul” oleh penurunan curah hujan yang datang secara mendadak. Di South East England, ketergantungan terhadap groundwater lebih menonjol karena air hujan tersimpan di bawah permukaan melalui ruang pori dan retakan batuan.

Area kapur (chalk) di berbagai wilayah—dari Yorkshire Wolds hingga Wessex Downs—melaporkan level yang berada di kisaran harapan atau di bawah normal untuk waktu tahun ini. Salah satu kawasan yang disebut paling sulit adalah Cotswolds.

Prof Alan MacDonald dari British Geological Survey menjelaskan bahwa penyimpanan groundwater berperilaku berbeda dibanding sungai. Ia menyatakan bahwa simpanan itu “respond more slowly to changes in the climate than rivers, which is why they provide a useful buffer during periods of drought”.

Karena respons groundwater cenderung lebih lambat, tekanan bisa berlanjut bahkan ketika kondisi musiman tampak membaik. Wales, misalnya, baru menerima sekitar 8% dari rata-rata curah hujan pada bulan ini. Di Inggris angkanya sekitar 7% dari rata-rata, dan di bagian selatan bahkan tercatat serendah 1% dari rata-rata.

Cuaca panas ikut memperparah karena suhu tinggi meningkatkan laju penguapan. Dalam penilaian EA, hampir 80% sungai di Inggris mengalir di bawah normal atau lebih rendah. River Thames di Reading disebut mencatat level terendah sepanjang pencatatan.

Dampak paling terasa bagi petani

Di musim panas, petani membutuhkan air untuk tanaman dan ternak, bukan hanya dari pengisian alami, tetapi juga dari penyimpanan selama musim hujan. Mereka memanfaatkan curah hujan yang tersimpan di lahan dan mengekstraksi air dari sumber alam melalui proses yang disebut abstraction, baik dari groundwater maupun dari air permukaan seperti sungai dan anak sungai.

Ketika level turun, ketersediaan menjadi masalah serius. Eleanor Gilbert menyampaikan bahwa cuaca panas membuat kondisi di lahannya “very tough” dan Berkshire mencatat “less than 30mm of rain since the end of March”.

Gilbert juga menjelaskan bahwa kadar kelembapan harus berada pada level tertentu agar panen berbagai jenis tanaman dapat berjalan sesuai standar. Ia menyebut mereka memanen sekitar pukul 03:00 BST karena pada jam itu lebih sejuk sehingga air dapat mengembun, tetapi cuaca kering akibat panas menghalangi biji untuk “swelling”. Dampaknya, hasil panen turun hingga hampir setengah dari capaian tahun sebelumnya.

EA dan Natural Resource Wales memberikan lisensi abstraction kepada petani, namun saat cadangan menurun, otoritas dapat menerapkan pembatasan yang dikenal sebagai “hands-off flow restriction”. Pembatasan ini berarti petani dicegah mengambil air, dengan tujuan melindungi lingkungan.

Saat ini tercatat 1.353 pembatasan “hands-off flow restriction” yang berlaku. Selain itu, EA juga memperingatkan kemungkinan pembatasan sukarela pada bulan berikutnya, ketika petani diminta menurunkan volume penggunaan, hanya mengairi pada malam hari, atau mengikuti hari-hari tertentu dalam seminggu.

Ben Andrews—petani organik campuran di Herefordshire bagian utara—menyatakan bahwa ia sudah mengalami pembatasan izin abstraction sejak awal bulan. Ia mengutip, “We will have paid for the plants, paid for the labour, if we don’t get to pick any of them then it’s investment that’s lost.”

Meski berbagai mekanisme pembatasan dijalankan, kekeringan tetap menimbulkan kejadian lingkungan. Dilaporkan ada 61 insiden lingkungan akibat kekeringan, termasuk kasus kematian ikan yang jumlahnya lebih rendah dibanding tahun sebelumnya, tetapi meningkat dengan cepat dan dinilai masih bisa kurang tercatat.

Kekeringan dapat memburuk bila tren pemanasan berlanjut

Para ilmuwan menilai perubahan iklim meningkatkan suhu global. Dalam konteks Inggris, kondisi ini diperkirakan berujung pada musim panas yang lebih kering serta gelombang panas yang lebih intens dan berlangsung lebih lama, yang pada akhirnya dapat menekan level sungai dan air tanah lebih jauh.

Pada hari Rabu, National Drought Group—yang melibatkan regulator, pemerintah, Met Office, perusahaan air, petani, Canal & River Trust, komunitas nelayan, serta pakar konservasi—mengadakan briefing bersama Water Minister Emma Hardy. Defra menyatakan kelompok tersebut meninjau dampak kekeringan di Inggris, termasuk kesiapan dan respons.

Hardy menegaskan, “We’re delivering long-term change in the water industry and driving record investments in infrastructure, including nine new reservoirs.” Ia menambahkan bahwa perusahaan air diharapkan mengikuti rencana kekeringan masing-masing, melakukan tindakan “go further and faster” untuk mengurangi kebocoran, serta memastikan suplai tidak terganggu bahkan pada kondisi cuaca terkering.

Di bulan Mei, Lords Environment and Climate Change Committee meminta pemerintah menjalankan rangkaian langkah, termasuk investasi pada pengumpulan dan berbagi data kekeringan serta peningkatan kapasitas penyimpanan air melalui pembangunan waduk berukuran besar. Baroness Sheehan, ketua komite, menyatakan: “England is at risk of sleepwalking into serious water scarcity if the government does not act now to safeguard the water system”.

Sementara itu, National Farmers’ Union for England and Wales (NFU) meminta pemerintah mengubah sistem perencanaan terkait air. NFU mendorong agar lisensi abstraction dibuat lebih fleksibel sehingga lebih banyak air bisa diambil selama bulan-bulan musim dingin yang cenderung lebih basah dan lebih ringan sebelum gelombang musim kering datang. NFU juga meminta proses pengajuan pembangunan waduk di lokasi dipercepat.

Tekanan juga diperkirakan bertambah karena permintaan air di tahun-tahun mendatang. Pertumbuhan kebutuhan datang dari rumah baru, pusat data, dan sektor lain yang berpotensi makin menekan pasokan yang sudah menipis.

Untuk jangka panjang, usulan peningkatan kapasitas penyimpanan menjadi sorotan. Sir John Armitt—mantan ketua National Infrastructure Commission—menyampaikan bahwa investasi harus dilakukan baik di skala lokal untuk mendukung petani maupun di skala lebih besar agar perusahaan air dapat membangun waduk baru.

Ia menambahkan bahwa pemerintah selama waktu yang lama cenderung menahan diri membangun waduk baru karena opsi lain dapat dicari. Namun, cuaca ekstrem yang dialami Inggris belakangan ini, menurutnya, “have really caught people out”. Disebutkan pula bahwa tidak ada waduk besar yang selesai dibangun di Inggris sejak 1992.

Sir Jon Cunliffe, mantan wakil gubernur Bank of England, meninjau sektor ini tahun lalu dan menyimpulkan adanya “underinvestment”. Ia menilai masalah tersebut berasal dari kurangnya investasi, dengan menyalahkan baik industri air maupun regulator.

Armitt juga menekankan bahwa industri perlu menangani kebocoran dan pola penggunaan. Ia mengaitkannya dengan tanggung jawab bersama: “That’s beholden on all of us to try to reduce the amount we use, and we could save a similar amount if we could get down to the levels of Denmark who use about 100 litres per person a day.” Rata-rata pemakaian di Inggris disebut sekitar 140 liter per orang.

Perusahaan payung industri, Water UK, merespons pada waktu yang sama dengan menyatakan, “Everyone agrees the system has not been working…. fundamental change has been long overdue.” Dalam rencana jangka lebih panjang, disebut ada dua waduk yang diproyeksikan selesai pada 2036 dan 2040-an, sementara lebih banyak lagi sedang menunggu persetujuan.

Di bulan Mei tahun lalu, pemerintah menyampaikan bahwa perusahaan air berkomitmen menghadirkan sembilan waduk baru pada 2050. Lokasi yang disebut meliputi Lincolnshire, Cambridgeshire, Oxfordshire, Somerset, Suffolk, Kent, East Sussex, dan West Midlands, dengan potensi tambahan pasokan sekitar 670 juta liter air per hari.