Olahraga

Henry Pollock: Kesepakatan klub £1 juta per musim diprediksi sulit ditemukan karena aturan salary cap

×

Henry Pollock: Kesepakatan klub £1 juta per musim diprediksi sulit ditemukan karena aturan salary cap

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Henry Pollock: Why £1m-a-season club deal will be hard to find

jurnalistik.co.id – Henry Pollock disebut punya target gaji sekitar £1 juta per musim, namun aturan salary cap Premiership membuat kesepakatan sebesar itu diperkirakan sangat sulit diwujudkan. Agen Eddie Hearn ikut menyoroti rumitnya ruang gerak finansial klub-klub Liga Utama rugbi Inggris.

Pada musim ini, salary cap Premiership ditetapkan sebesar £6,4 juta per klub. Secara sederhana, total pengeluaran gaji seluruh skuad harus berada di angka itu atau di bawahnya.

Secara teori, ada peluang sebuah klub bisa membayar Pollock mendekati £1 juta pada musim berikutnya jika klub tersebut memiliki sisa ruang dalam batas cap. Namun, kondisi ini tidak mudah terjadi karena struktur batasnya sangat ketat.

Laporan salary cap terakhir yang dipublikasikan untuk periode 2024-25 menyebut satu tim yang dianggap paling mungkin berada di kisaran tersebut, yaitu Newcastle. Meski begitu, data terbaru Newcastle tidak tersedia setelah perubahan kepemilikan oleh Red Bull dan rangkaian perekrutan yang melibatkan nama-nama seperti Raffi Quirke dan Hoskins Sotutu.

Selain batas atas £6,4 juta, ada juga lantai pengeluaran yang menjadi pertimbangan tambahan. Untuk musim 2026-27, klub diwajibkan membelanjakan minimal £5,4 juta, yang oleh banyak pihak disebut sebagai salary cap floor baru.

Dengan adanya lantai pengeluaran tersebut, ruang “kelonggaran” bagi masuknya satu pemain dengan bayaran besar menjadi semakin terbatas. Artinya, jika target Pollock dibayangkan sebagai angka utama, klub harus memastikan penyeimbangan skuad secara menyeluruh.

Saat Pollock menegosiasikan kontrak baru, skenario agar ia bertahan di Northampton terlihat menantang dari sisi cap. Jika ia ingin menerima paket senilai £1 juta, Northampton perlu memastikan struktur gaji internal mereka bisa mengakomodasi angka itu tanpa melampaui aturan.

Klub dapat mencoba “membuka ruang” dengan menurunkan gaji rekan setim Pollock yang ikut bernegosiasi tahun ini. Tetapi langkah seperti itu tentu tidak otomatis mulus, karena menyangkut kepentingan banyak pemain dan bisa menjadi urusan yang sensitif.

Di sinilah muncul gagasan tentang pemain yang masuk kategori “excluded players” atau, dalam istilah lama, marquee players. Dalam kerangka ini, beberapa pemain bisa saja pendapatannya tidak sepenuhnya menghitung langsung ke batas £6,4 juta sebagaimana gaji pemain lain.

Namun, jalur excluded player memiliki syarat yang tidak sesederhana “menunjuk” kapan saja. Dalam regulasi Premiership, klausul terkait excluded players menyebut Pollock harus menjadi pemain klub tersebut minimal selama dua tahun penuh salary cap sebelum tahun ketika ia dinominasikan sebagai excluded player.

Konsekuensinya, Pollock tidak bisa langsung menjadi excluded player untuk tahun cap yang akan datang hanya karena ia saat ini berstatus pemain Northampton. Jika opsi ini ingin dipakai, nominasi harus disiapkan pada periode berikutnya, bukan sekadar untuk musim mendatang.

Aturan ini pada dasarnya dirancang untuk mencegah klub saling “meminang” pemain secara agresif lalu mengatur kontrak agar dampak pengeluaran bisa ditata secara tidak wajar. Selain itu, sistem ini juga bertujuan menahan manipulasi cap dengan pola kontrak yang berpindah-pindah.

Contoh yang disebut dalam penjelasan aturan adalah praktik berisi lonjakan di awal kontrak lalu merosot tajam pada tahun-tahun berikutnya. Tidak boleh, misalnya, membayar pemain X £5 juta di tahun pertama sebuah kesepakatan excluded, lalu menurunkan menjadi sekitar £100 pada tahun kedua dan ketiga dengan pola yang diulang untuk nama pemain besar berbeda setiap musim.

Untuk mencegah skenario seperti itu, cap bekerja menggunakan mekanisme “averaging” atau perataan rata-rata. Ringkasnya, regulasi menilai rata-rata gaji excluded player selama jangka waktu tertentu, bukan hanya nominal pada satu tahun.

Poin ini merujuk pada regulasi 3.28.2 yang secara teks dinilai panjang dan bertele-tele, tetapi intinya adalah rata-rata penghasilan excluded player dalam rentang tiga tahun menjadi komponen kunci. Jika seorang pemain mendapatkan £100.000, £150.000, dan £200.000 selama tiga tahun, rata-ratanya menjadi £150.000.

Selanjutnya, bila klub ingin menaikkan bayaran menjadi £1 juta untuk periode setelahnya, selisih besar di atas rata-rata tersebut justru akan ikut diperhitungkan ke dalam cap. Dengan kata lain, tambahan £850.000 tidak otomatis “terlepas” dari aturan karena berada di luar ambang rata-rata.

Karena mekanismenya seperti itu, regulasi excluded players membuat pergerakan pemain antar-klub untuk mencari spot tarif khusus menjadi jauh lebih sulit. Nilai yang terlalu “melonjak” di satu periode akan kembali memukul perhitungan cap melalui mekanisme rata-rata.

Regulasi tersebut juga menyertakan elemen kerahasiaan: identitas excluded players tidak boleh diketahui secara bebas. Secara teknis, sebuah klub tidak berhak mengetahui identitas excluded players dari klub lain.

Jika Northampton sudah memiliki pemain yang dinominasikan sebagai excluded player, maka memindahkan slot tersebut ke Pollock akan memerlukan perhitungan yang sangat rumit. Prosesnya melibatkan banyak penyesuaian spreadsheet dan optimasi angka agar tetap patuh aturan.

Bagi pihak di luar dunia rugbi profesional, tata kelola seperti ini memang bisa terlihat tidak adil atau bahkan “tidak masuk akal”. Namun, prinsip salary cap pada dasarnya bertujuan menahan klub dari keputusan finansial yang terlalu berisiko.

Prem Rugby menjelaskan bahwa salary cap didesain untuk mencegah klub membelanjakan dana secara berlebihan. Mereka juga menekankan bahwa aturan ini membantu mengendalikan tekanan inflasi dari biaya klub sekaligus menjaga kelayakan dan daya saing klub-klub.

Prem Rugby menyatakan: “The salary cap is designed to prevent clubs from over-spending. It helps control inflationary pressures from club costs and ensures the viability and competitiveness of clubs.”

Mereka menambahkan bahwa musim ini Premiership diproyeksikan mencatat pendapatan rekor, lebih dari £200 juta untuk pertama kalinya, dan angka itu diperkirakan terus bertumbuh dari tahun ke tahun. Prem Rugby menyebut: “This year the Prem is forecast to post record revenues of more than £200m for the first time, with that number forecast to grow again year-on-year.”

Dari sisi kompetisi, Prem menggarisbawahi bahwa dalam tujuh musim terakhir ada enam pemenang berbeda, sehingga persaingan tidak dianggap stagnan. Sementara itu, klub-klub seperti Saracens pernah mendorong peningkatan salary cap, dan perdebatan berikutnya diperkirakan akan mengikuti kondisi liga setelah stabilitas dijaga melalui penghapusan promosi dan degradasi.

Prem Rugby juga menyinggung proses perubahan struktur cap: “Any change to the wider cap structure would always go through a full club consultation and be up for discussion amongst the men’s professional Rugby Board before any decision is made.”

Adapun penghapusan promosi dan degradasi disebut sebagai keputusan strategis terpisah untuk memberi kepastian investasi jangka panjang. Prem Rugby mencontohkan kondisi yang terlihat dari kepemilikan baru di Newcastle oleh Red Bull dan Black Knight Rugby di Exeter Chiefs, serta investasi baru dari Sir James Dyson di Bath.

Meski demikian, ada faktor lain yang membuat angka besar tetap mungkin muncul di luar pendapatan klub. Beberapa pemain bisa mendapatkan kesepakatan komersial besar di luar rugbi, yang dapat melampaui pendapatan mereka dari kontrak klub.

Contoh yang disebut melibatkan Ilona Maher, Siya Kolisi, dan Ellie Kildunne. Dalam konteks tersebut, gaji klub bukan satu-satunya sumber penghasilan, sehingga perbandingan antara “nilai di lapangan” dan “nilai kontrak klub” tidak selalu berjalan lurus.

Pada akhirnya, membayar Pollock £1 juta per musim dalam rugby klub tetap dinilai mungkin secara angka, tetapi peluangnya sangat kecil untuk diwujudkan di Northampton untuk saat ini. Kombinasi salary cap £6,4 juta, adanya floor £5,4 juta pada 2026-27, serta mekanisme excluded players yang membutuhkan syarat dan perhitungan rata-rata membuat jalan menuju kesepakatan sebesar itu semakin sempit.