jurnalistik.co.id – Sutradara teater dan penulis drama Peter Gill meninggal dunia pada usia 86 tahun. Ia dikenang sebagai sosok yang memberi pengaruh “quietly seismic” di panggung teater Inggris.
Gill, yang disebut sebagai “gentle man with a fierce intelligence”, dikenal luas karena kemampuan kreatifnya yang tidak hanya kuat, tetapi juga terasa teliti dan peka. Jejaknya melintasi berbagai ruang seni, dari panggung besar hingga karya-karya yang membentuk cara penonton dan pelaku teater membaca naskah.
Pria kelahiran Cardiff ini tampil bersama Royal Shakespeare Company (RSC) sebelum menapaki karier penyutradaraan. Ia juga pernah muncul di film-film seperti HMS Defiant dan Zulu, sebelum perhatiannya makin mengerucut pada dunia teater dan arahan pertunjukan.
Perjalanan dari aktor ke sutradara
Peter Gill lahir pada 7 September 1939 dan tumbuh dalam komunitas kelas pekerja. Menurut sebuah obituari yang ditulis oleh agensinya, Gill “fiercely proud of his Welsh heritage throughout his life”.
Ia memulai karier akting sejak usia 18 tahun, lalu beralih lebih dalam ke teater. Di ruang yang paling dekat dengan identitas artistiknya, yaitu Royal Court di London, ia dikenal sebagai figur yang membantu memperkenalkan karya-karya penulis Inggris, DH Lawrence, ke lingkungan teater.
Gill terkait erat dengan tiga naskah DH Lawrence: A Collier’s Friday Night, The Daughter-in-Law, dan The Widowing of Mrs Holroyd. Ia juga menampilkan dua karya awalnya sendiri, The Sleeper’s Den dan Over Gardens Out, sebelum kemudian menjadi associate director pada 1970.
Keberhasilan ketiga pementasan Lawrence itu, menurut agensi Gill, “revived interest in Lawrence’s dramatic work and helped spark a renaissance of his plays in London theatre circles after decades of relative obscurity following his death in 1930”. Dengan kata lain, perhatian yang sempat meredup menemukan kembali daya tariknya di panggung London.
Di luar peran-peran itu, Gill juga dipuji melalui cara orang-orang yang bekerja dengannya mengenang ketajaman batin sekaligus kebijaksanaannya. Agen Gill, Mel Kenyon, menggambarkan pekerjaannya memiliki “rare emotional delicacy” yang “beautifully observed and finely tuned”.
Kenyon juga menuturkan bahwa Gill “gentle man with a fierce intelligence” sekaligus “voracious reader” dengan pengetahuan seni yang luas. Dalam kutipan yang ia sampaikan, Kenyon berkata, “Whenever we talked, I walked away a wiser person. He taught me so much just by being him. He was a singular man, a kind, generous and curious man. I will miss him greatly,”.
Berita Terkait
Langkah artistik di Riverside Studios dan karya-karya besar
Pada 1976, Gill menjadi artistic director di Riverside Studios. Pementasannya atas William Shakespeare, As You Like It, menandai pembukaan resmi teater berbasis Hammersmith tersebut pada tahun yang sama.
Tahun berikutnya, ia juga dikenal melakukan adaptasi terhadap The Cherry Orchard karya Anton Chekhov. Transformasi yang disebut agensinya cukup tegas: Gill membantu mengubahnya dari “small fringe theatre” menjadi sebuah venue yang “regarded as the equal of the leading theatres of the West End”.
Untuk pengabdiannya pada dunia teater, Gill menerima penghargaan OBE pada 1980. Selain itu, ia mendirikan National Theatre Studio pada 1984 dan menjalankannya hingga 1990.
Dalam komentar yang menyoroti kontribusinya bagi teater Inggris, Michael Grandage—sutradara dan produser—mengatakan bahwa ia meyakini kontribusi Gill akan “come to be regarded as quietly seismic”. Grandage menambahkan bahwa, “Through the observation of the domestic, he always gave us something universal,” serta menyebut generasi berikutnya yang menemukan karya Gill akan berjumpa dengan “some of the finest plays written in the last 70 years with unquestionably some of the most beautiful prose in the English language”.
Kenangan lain datang dari tamu-tamu yang pernah bersinggungan langsung dalam karya. Luke Evans, aktor asal Wales, mengunggah penghormatan melalui Instagram dan menekankan perubahan arah kariernya setelah Peter Gill memberinya peran dalam revival Small Change tahun 2008.
Dalam unggahan itu, Evans menulis: “This man gave me a role in a play when I was 27 that changed my whole professional life.” Ia juga menambahkan, “Peter Gill has passed away at 86 leaving behind a legacy of work that I was very lucky enough to be a small part of.” Lalu Evans berkata, “Without that play Small Change that he wrote and directed me in, I don’t think I would have ever had a film career, or any career to be honest.” Di bagian akhir, ia menulis, “RIP dear Peter and thank you.”
Kenangan dari RSC
Tamara Harvey, co-artistic director Royal Shakespeare Company, menyampaikan apresiasinya dengan menyebut Gill sebagai “true artist and tirelessly devoted to the theatre”. Ia menambahkan, “His unerring ability to capture the complexity of human existence will live on in his writing but he will, nevertheless, be deeply missed,”.
Jika melihat rangkaian peran Gill—dari kerja kreatifnya di RSC, keterhubungannya dengan Royal Court, hingga arah artistik yang ia jalankan di Riverside Studios dan upayanya memperkuat ekosistem melalui National Theatre Studio—maka yang paling sering muncul dalam kesaksian adalah konsistensi: ketekunan, ketepatan, serta cara Gill memandang ruang domestik sebagai pintu menuju sesuatu yang universal.











