jurnalistik.co.id – Di tengah penurunan angka imunisasi anak di seluruh Inggris Raya, sebuah klinik di West Yorkshire justru mencoba mengubah cara layanan vaksinasi “mendekati” keluarga. Pendekatannya dibuat agar orang tua tidak perlu menempuh perjalanan panjang, sementara kesempatan untuk bertanya dan memutuskan bisa datang tanpa rencana yang rumit.
Luke Mintz melaporkan kisah yang berawal dari keterlambatan vaksinasi yang pada akhirnya membuat bayi terlewat jadwal penting. Salah satunya dialami Grayson, yang ketika berusia dua puluh minggu seharusnya sudah menerima vaksin polio dan difteri pada usia delapan minggu.
Ibunya, Lily, sebenarnya sejalan dengan prinsip imunisasi. Namun, ia terbebani oleh masa-masa awal menjadi orang tua dan mengalami depresi pascapersalinan setelah kelahiran yang sulit. “Saya sudah melewati masa yang berat, terjaga sepanjang malam. Anda tidak ingin keluar rumah, atau harus pergi ke kota lain,” kata Lily.
Waktu berjalan, dan Grayson pada akhirnya melewatkan suntikan polio serta difteri yang semestinya diberikan di usia delapan minggu. Pada titik itu, NHS mengklasifikasikannya sebagai “terlambat” untuk vaksinasi—seakan Lily berada di “daftar nakal” dokter umum (GP) sang anak.
Kejadian itu berubah ketika Lily mengetahui ada klinik yang lokasinya praktis berada di dekat rumah. Klinik tersebut berada di Keighley, West Yorkshire, dan menempati ruang ritel kosong di Airedale shopping centre—sebuah kawasan pertokoan bergaya awal 1960-an yang, menurut warga, belakangan mengalami masa-masa sulit dengan banyak toko yang tutup dan unit-unit yang terbengkalai.
Gagasan mendirikan klinik dari ruang kosong tersebut disebut sebagai solusi kreatif untuk persoalan nasional. “Ini toko yang kosong; tidak ada apa-apa di dalamnya, jendela-jendelanya juga ditutup,” ujar Flora Jennings, koordinator lembaga lokal, saat kunjungan dilakukan ke klinik tersebut.
Selama sekitar lima belas tahun terakhir, angka vaksinasi anak di Inggris dilaporkan menurun. Di Inggris, proporsi anak usia lima tahun yang menerima suntikan “empat dalam satu” kini berada di 81%, turun dari 89% pada 2014. Sementara itu, sekitar 84% anak sudah mendapatkan dua dosis MMR (campak, gondongan, dan rubela), turun dari 88% satu dekade lalu.
Prof Dan Hungerford, epidemiolog di University of Liverpool, menilai penurunan ini mungkin tidak tampak “terlalu buruk” jika hanya dilihat secara umum. Namun, bila dibandingkan dengan negara lain—terutama tetangga Eropa—Inggris justru termasuk negara dengan kinerja terburuk dalam memastikan vaksinasi awal pada anak-anak.
Karena itu, muncul pertanyaan politik tentang bagaimana sebuah negara yang kerap dikenang sebagai tempat lahir Edward Jenner—julukan “bapak imunologi”—bisa membiarkan angka imunisasi jatuh terlalu rendah. Salah satu usulan yang dikemukakan adalah mempertimbangkan kebijakan “mandatory” untuk imunisasi anak.
Anti-vaksin atau sekadar “tidak sempat menolak”—apa sebenarnya yang terjadi?
BBC mengaitkan kekhawatiran ini dengan fakta bahwa vaksinasi berperan besar dalam menurunkan kematian anak. Ilmuwan sepakat bahwa kemajuan kesehatan yang membuat angka kematian jauh berkurang tidak lepas dari imunisasi, selain akses air bersih dan sanitasi.
Beccy Baird, analis senior dari think tank The King’s Fund, menekankan bahwa meski pemberitaan media sering menyoroti isu “anti-vaxxer”, sebagian besar orang tua yang tidak memvaksinasi bukanlah mereka yang benar-benar menolak secara ideologis. “Kenyamanan memainkan peran besar,” katanya. Menurutnya, angka vaksinasi tertinggi terjadi ketika orang tua berinteraksi secara rutin dengan tenaga medis—interaksi yang sekaligus mengingatkan waktu suntikan dan menunjukkan dengan tepat tempat untuk mendapatkannya.
Namun, titik pertemuan itu menjadi lebih jarang. England mencatat penurunan sekitar 45% jumlah health visitors selama satu dekade terakhir, dibandingkan periode sebelumnya. Health visitor—perawat atau bidan yang mendampingi keluarga dengan anak kecil di rumah—memiliki bagian kerja untuk mengingatkan orang tua tentang vaksin, bahkan pada sebagian kasus memberikan suntikan langsung.
Dalam periode yang kurang lebih sama, jumlah GP (dokter umum) yang telah terlatih penuh juga dilaporkan sulit mengejar lonjakan kebutuhan pasien di Inggris. Di sisi lain, menurut Nuffield Trust, pasien menjadi lebih kecil kemungkinannya untuk bertemu dokter yang sama pada kunjungan berikutnya—sehingga keluarga tidak membangun hubungan kepercayaan dengan dokter yang mereka kenali.
Kasstan-Dabush merangkum situasi ini: “Sentuhan-sentuhan itu menjadi lebih sedikit.”
Hasilnya, penurunan angka imunisasi tampak tidak hanya berhubungan dengan klaim salah di media sosial. BBC menyinggung temuan ilmuwan Amerika tahun lalu yang menunjukkan bahwa membaca satu komentar Facebook anti-vaksin tentang vaksin HPV pada remaja dapat membuat sebagian orang tua ragu. Akan tetapi, para ahli kesehatan masyarakat yang diwawancarai BBC menyatakan sentimen media sosial berperan, namun bukan penyebab utama penurunan.
“Mereka cenderung melihat bahwa orang tua anak kecil kini punya lebih sedikit kontak tatap muka dengan tenaga medis dibandingkan 10 atau 15 tahun lalu,” demikian arah penjelasan para pakar.
Berita Terkait
Pada saat yang sama, Inggris mengalami kejadian luar biasa terkait campak: tahun lalu terjadi wabah di Birmingham, Bristol, dan London utara. Hingga tahun ini, dua anak di Inggris dilaporkan meninggal akibat penyakit tersebut. Di Januari, anggota parlemen dari Health Committee menggambarkan kemunduran itu sebagai “a national disgrace”.
Mengubah lokasi, membuat keputusan terasa lebih mudah
Di klinik yang berlokasi di pusat perbelanjaan Keighley, suasana dibuat lebih ramah. Petugas menyampaikan makanan ringan, sementara Jennings menuturkan bahwa area dapur tersedia, ada tempat bermain (playpen), dan bahkan soft-play agar orang tua bisa menempatkan anak saat saudara lain menjalani vaksinasi.
Jennings mengatakan idenya memang sengaja dibuat menarik, “seolah Anda sedang berjalan ke rumah seseorang.” Bagi beberapa staf yang mula-mula melihat gagasan klinik di tengah arcade pertokoan kota, rencana itu tampak aneh. Namun kini mereka menilai justru itulah kunci keberhasilan klinik.
“Kita perlu membuatnya sederhana. Kita perlu menempatkan layanan di tempat orang-orang datang,” ujar Jennings. Pendekatan ini memungkinkan keluarga yang hanya berbelanja “sekadarnya”—orang yang “sekilas mengintip dari pintu”—bisa memutuskan vaksinasi anak tanpa merencanakan jadwal jauh-jauh hari.
Jennings juga menyinggung hambatan sehari-hari yang kerap menjadi alasan tertunda. Di pusat kota, aksesnya relatif datar sehingga orang tua tidak perlu mendorong stroller menanjak. Ia menambahkan bahwa sebagian orang tua tidak akan hadir bila lokasi menuntut lebih dari satu bus.
Selama pagi hari, klinik melakukan vaksinasi untuk sepuluh bayi. Sebagian di antaranya dikategorikan NHS sebagai “terlambat”. Dalam banyak kasus, orang tua sebenarnya datang untuk layanan lain seperti penimbangan bayi, tetapi setelah berada di dalam klinik, dokter umum utama di sana, Dr Zoyah Hussain, mengajukan saran imunisasi dengan cara yang pelan dan personal—dan kebanyakan orang tua mengatakan setuju.
Hussain menggambarkan adanya banyak pertanyaan yang muncul. “Saya mendapat banyak pertanyaan… ‘kenapa kita perlu memberi mereka suntikan?’, ‘kenapa tidak saja membiarkan alam mengatur semuanya?’,” katanya.
Dalam kisah perorangan, ada Lily—yang kini berusia 18 tahun—yang akhirnya mendapatkan polio dan difteri untuk putranya, Grayson. Ada pula Keeley, asisten di toko keramik, yang datang bersama bayinya, Luca, dan merasa terbantu karena fasilitas ini tidak mengharuskan panggilan telepon pada pukul 08.00 ataupun formulir daring yang rumit. “Mudah sekali,” kata Keeley.
Jennings dan para tenaga medis juga menghadapi pertanyaan yang berkaitan dengan rumor. Lily menyebut ia pernah melihat unggahan anti-vaksin di Facebook, termasuk klaim bahwa vaksin bisa menyebabkan ADHD. Hussain juga mengatakan ia masih mendengar orang tua menanyakan apakah vaksin MMR menyebabkan autisme, meski sudah 28 tahun sejak hubungan itu pernah disarankan dalam sebuah paper yang kini dianggap tidak kredibel—dikaitkan dengan nama mantan dokter Andrew Wakefield.
Klinik ini, yang melayani komunitas dengan tingkat ekonomi relatif lebih rendah, dilaporkan sudah memvaksinasi ratusan bayi sejak 2023. Dampaknya, cakupan imunisasi di wilayah yang sebelumnya dikenal memiliki angka vaksinasi rendah kini terlihat meningkat.
Per Maret tahun ini, 88% anak yang terdaftar dengan Modality AWC—praktik GP yang menjalankan klinik—telah menerima dosis pertama MMR sebelum usia 18 bulan, naik dari 78% tiga tahun lalu. “Kami sedang membalik tren nasional,” kata Bill Graham, administrator senior dari praktik tersebut.
Kalau model Keighley ingin diperluas, apa yang perlu dilakukan?
BBC juga menyoroti opsi yang dapat ditiru dari model Keighley. Salah satu gagasan adalah membuka klinik jalan masuk (walk-in) di unit ritel kosong. Jennings berpendapat bahwa banyak pusat perbelanjaan di seluruh negeri berada dalam kondisi “rapuh” akibat perubahan kebiasaan belanja yang bergeser ke daring.
Beccy Baird setuju bahwa vaksin bekerja paling efektif ketika diberikan di tempat lokal yang kecil dan mudah diakses, seperti pusat perbelanjaan, bukan di pusat vaksinasi besar yang bisa terasa menakutkan karena menuntut perjalanan panjang. Dalam sebuah kajian, Baird mempelajari penyebaran vaksin Covid di Gloucestershire dan menemukan bahwa vaksin yang disalurkan secara lokal melalui tempat komunitas yang dikenal—bukan lewat pusat massal—membuat akses lebih mudah dan lebih bisa dipercaya. Ia merangkum idenya dengan kalimat: “Kalau Anda taruh di parkiran Tesco, orang-orang akan datang.”
Namun, tidak semua ahli sepakat bahwa pendekatan ini cukup. Hungerford menyebut kemiskinan anak sebagai pendorong penting penolakan vaksin. Ia mengatakan orang tua yang harus memikirkan tagihan sering tidak memiliki ruang pikiran untuk mempertimbangkan imunisasi.
Di sisi lain, politisi Partai Buruh Paulette Hamilton—mantan perawat—yang baru-baru ini menjadi pelaksana ketua Health Committee di Parlemen, mendorong pendekatan yang lebih tegas melalui “national conversation” mengenai apakah imunisasi anak seharusnya “opt out” daripada “opt in”. Hamilton menegaskan ia tidak berbicara atas nama komite, tetapi menyampaikan bahwa Inggris yang dulu terbebas dari sebagian penyakit masa kecil kini justru makin buruk. “Percakapan harus membahas, apakah Anda memberi pembayaran kecil jika anak divaksin? Apakah Anda menjadikannya wajib, sehingga orang tua opt out, bukan opt in?”
Di tengah perdebatan kebijakan dan kekhawatiran publik, klinik di Keighley menunjukkan satu hal yang berulang: ketika layanan dibuat lebih dekat, lebih sederhana, dan lebih mudah diakses, peluang orang tua untuk mengambil keputusan vaksinasi tampak meningkat—setidaknya pada komunitas yang dilayani klinik tersebut.











