jurnalistik.co.id – Insiden ambruknya tribune penonton dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Drift Speed Fest di kompleks GOR Satria Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, bertambah jumlah korbannya. Hingga Senin (27/7/2026), sebanyak 90 penonton dilaporkan mengalami luka-luka.
Awalnya, jumlah korban yang tercatat masih 75 orang. Pemkab Banyumas menyampaikan penambahan tersebut berdasarkan pembaruan layanan medis dan pendataan korban.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan pihaknya masih terus mengupayakan pembaruan data yang lebih rinci. “Total 90 orang, tapi saya belum update hari ini. Saya lagi minta update yang pasti, yang sudah rawat jalan berapa, yang rawat inap berapa, yang masih proses observasi ada berapa,” kata Sadewo kepada wartawan, Senin (27/7/2026).
Menurut Sadewo, para korban menyebar di sejumlah rumah sakit. Mereka ditangani di 11 fasilitas kesehatan, yakni Wijayakusuma, Elisabeth, Geriatri, Ananda, Dadi Keluarga, Wiradadi Husada, Orthopaedi, RSUD Margono Soekarjo, Sinar Kasih, Jogja International Hospital (JIH) Purwokerto, serta RSUD Banyumas.
Ia menuturkan bahwa pada malam hari pihaknya bersama penyelenggara berkunjung untuk menjenguk korban di rumah sakit. “Saya tadi malam bersama pihak penyelenggara keliling ke rumah sakit menjenguk para korban,” ujar Sadewo.
Korban mengalami cedera dari ringan hingga patah tulang
Sadewo menjelaskan kondisi korban bervariasi, mulai dari cedera ringan hingga berat. “Kondisinya dari mulai ringan sampai patah tulang. Kebanyakan patah tulang, kalau yang pingsan langsung pulang. Ada yang ibu hamil 8 bulan juga, tapi kondisi aman,” kata Sadewo.
Dalam penjelasannya, Sadewo menyebut tidak semua korban menjalani perawatan intensif. Ia mengacu pada kategori yang dinilai memerlukan observasi lebih lanjut dibandingkan korban yang dinyatakan dapat dipulangkan.
Berita Terkait
Pihaknya juga menginformasikan proses evakuasi para korban dilakukan menggunakan ambulans dari berbagai pihak. “Ia menambahkan, para korban dilarikan ke rumah sakit menggunakan sekitar 20 mobil ambulans dari berbagai rumah sakit dan organisasi,” kata Sadewo.
Dari keterangan yang disampaikan, jumlah ambulans itu digunakan untuk memastikan perawatan segera dan distribusi korban ke beberapa rumah sakit. Penanganan dilakukan setelah kejadian pada Minggu (26/7/2026) di lokasi acara berlangsung.
Penyelidikan awal polisi menyoroti faktor pergeseran penonton
Polisi sebelumnya menyampaikan dugaan awal penyebab ambruknya tribune penonton. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, tribune non-permanen dari rangka besi diduga tidak kuat menahan akibat pergeseran penonton pada titik tertentu.
Kapolresta Banyumas Kombes Petrus P Silalahi mengaitkan peristiwa ambruk dengan rangkaian aktivitas yang terjadi saat lomba berlangsung. Saat event sedang berlangsung, ada parade drifter sambil membagikan kaus dengan cara melempar dari mobil ke arah tribune.
Menurut Petrus, penonton yang berada di atas tribune—terutama area VIP—menjadi tidak beraturan karena lemparan tersebut. “Penonton yang berada di tribune, terutama tribune VIP tidak beraturan karena lemparan itu. Mereka berdesak-desakan, kemudian terjadi pergeseran (penonton ke titik tertentu),” ungkap Kapolresta Banyumas.
Ia menambahkan bahwa situasi seperti itu terjadi berulang kali. “Itu berulang, pembagian itu lebih dari satu kali. Pelemparan kaus mengakibatkan pergeseran penonton, kemudian panggung non-permanen itu jadi goyang-goyang dan roboh,” jelas Petrus.
Dengan demikian, dugaan yang disampaikan mengarah pada hubungan antara pergeseran massa penonton dan kondisi struktur tribune yang bersifat non-permanen. Kepolisian masih terus menindaklanjuti keterangan serta hasil pemeriksaan untuk memastikan faktor-faktor yang paling berperan dalam insiden tersebut.
Hingga pendataan terbaru, perhatian terus berfokus pada pemulihan para korban dan koordinasi layanan medis di berbagai rumah sakit. Pemerintah daerah juga menyatakan akan memperbarui informasi rinci terkait kategori perawatan sesuai hasil pembaruan dari fasilitas kesehatan.












