jurnalistik.co.id – Kepolisian mengungkap dugaan penyebab ambruknya tribune penonton VIP saat Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Drift Speed Fest di GOR Satria Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Peristiwa itu menimbulkan korban luka pada sejumlah penonton, dengan total 75 orang dilarikan ke rumah sakit.
Menurut keterangan Kapolresta Banyumas Kombes Petrus P Silalahi, temuan sementara mengarah pada kondisi tribune yang bersifat non-permanen. Struktur tersebut, yang tersusun dari rangka besi, diduga tidak memiliki daya menahan yang cukup ketika pergerakan penonton terjadi pada titik tertentu.
Petrus menjelaskan, sebelum insiden berlangsung, terjadi parade drifter yang diiringi aksi pembagian kaus. Kaos dibagikan dengan cara dilempar dari mobil ke arah area tribune, sehingga menarik perhatian penonton yang duduk di atas struktur tersebut.
Dalam situasi itu, penonton berebut untuk mendapatkan kaus yang dilempar. Kepadatan dan dorongan kemudian memunculkan ketidakteraturan di area tribune, terutama pada bagian VIP yang menjadi lokasi ambruknya struktur.
“Penonton yang berada di tribune, terutama tribune VIP tidak beraturan karena lemparan itu. Mereka berdesak-desakan, kemudian terjadi pergeseran (penonton ke titik tertentu),” ungkap Petrus kepada wartawan, Senin (27/7/2026).
Kapolresta menambahkan bahwa kondisi serupa tidak terjadi sekali. Ia menyebut pembagian kaus dilakukan lebih dari satu putaran, sehingga pergeseran penonton yang semula mulai terjadi, kemudian terulang lagi dalam rangkaian kegiatan yang sama.
“Itu berulang, pembagian itu lebih dari satu kali. Pelemparan kaus mengakibatkan pergeseran penonton, kemudian panggung non-permanen itu jadi goyang-goyang dan roboh,” jelas Petrus.
Meski dugaan tersebut sudah mengerucut berdasarkan penyelidikan sementara, pihak kepolisian menegaskan proses pemeriksaan masih berjalan. Mereka masih melakukan rangkaian penyelidikan untuk memastikan mekanisme ambruknya tribune secara lebih utuh.
“Nanti akan kami sampaikan kalau sudah rampung penyelidikannya, kemudian kami tingkatkan penyidikan,” kata Petrus.
Berita Terkait
Sebelum peristiwa terjadi, Petrus menyebut aparat telah melakukan koordinasi pengamanan dengan penyelenggara. Menurutnya, koordinasi itu mencakup pemeriksaan dan pengecekan lokasi, termasuk kondisi panggung/tribune yang bersifat non-permanen.
Ia juga menyampaikan bahwa tribune VIP yang ambruk memiliki kapasitas 250 orang. Berdasarkan evaluasi internal, struktur itu disebut sudah diuji lebih dahulu pada hari pertama kegiatan, yakni Sabtu (25/7/2026), dan dinilai aman hingga malam saat rangkaian acara berlangsung.
“Sudah dicoba di hari Sabtu, Sabtu kan hingga malam kegiatan itu,” kata Petrus.
Dalam pandangannya, insiden robohnya tribune pada saat penutupan Kejurnas Drift Speed Fest menjadi pelajaran bagi penyelenggara. Petrus menekankan bahwa kejadian tersebut menunjukkan perlunya pengaturan yang lebih ketat untuk mencegah pergeseran massa penonton di area struktur sementara.
“Tentunya insiden robohnya tribune pada saat penutupan kejurnas drift ini menjadi pelajaran terutama bagi pihak penyelenggara,” kata Petrus.
Diberitakan sebelumnya, tribune penonton Kejurnas Drift Speed Fest di GOR Satria Purwokerto mengalami ambruk pada Minggu (26/7/2026). Insiden itu menyebabkan 75 orang penonton mengalami luka dan harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Kombes Petrus juga menyoroti bahwa mekanisme ambruk diduga terkait dengan dinamika massa di area yang sempit dan tersusun untuk kebutuhan sementara. Ketika perhatian penonton tersedot oleh aktivitas lempar kaus, konsentrasi orang kemudian bergerak tidak merata dan menekan bagian tertentu secara berulang, hingga menimbulkan gangguan pada keseimbangan struktur.
Dalam penjelasannya, pemeriksaan awal tidak berhenti pada kesimpulan tunggal, melainkan menelusuri rangkaian kejadian sejak sebelum insiden sampai proses pergeseran penonton yang akhirnya berujung pada robohnya tribune. Polisi memetakan bagaimana gelombang kerumunan terbentuk, termasuk adanya pengulangan pembagian kaus yang membuat pergeseran terjadi lebih dari sekali selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Koordinasi pengamanan yang disebut telah dilakukan sebelumnya juga akan menjadi bagian yang dievaluasi dalam penyelidikan lanjutan, terutama terkait prosedur pengecekan lokasi serta kesiapan elemen konstruksi sementara. Dengan kapasitas VIP 250 orang dan status struktur non-permanen, pihak kepolisian menilai penting untuk memastikan bahwa aspek pengendalian kerumunan dan penempatan penonton berjalan disiplin agar kejadian serupa tidak terulang pada gelaran berikutnya.












