jurnalistik.co.id – Indonesia memiliki warisan panjang dalam pemanfaatan jamu sebagai bagian dari budaya sekaligus praktik kesehatan. Di tengah perkembangan zaman, jamu tidak lagi hanya dipandang sebagai tradisi turun-temurun, tetapi juga terus bergerak menjadi produk yang lebih modern dan semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Kekayaan biodiversitas Indonesia ikut menjadi fondasi penting dalam perkembangan tersebut. Tercatat ada 30.000 jenis tanaman yang berpotensi menjadi bahan baku obat. Potensi inilah yang membuat jamu kerap disebut sebagai salah satu pintu untuk memperkuat posisi Indonesia di sektor kesehatan dan bahkan membuka peluang agar Indonesia bisa menjadi pusat keunggulan medis dunia.
Perkembangan jamu juga tak lepas dari peran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Lembaga ini mendorong masyarakat untuk hidup sehat dengan mengkonsumsi jamu, sekaligus memperkuat ekosistem industri herbal melalui regulasi, pendampingan UMKM, dan kolaborasi lintas sektor. Dalam konteks itu, BPOM tidak hanya melihat jamu sebagai produk konsumsi, tetapi juga sebagai industri yang memerlukan pengawasan dan tata kelola yang kuat.
Pengawasan dan Standar Keamanan
BPOM juga melakukan pengawasan terhadap produksi dan peredaran jamu di tanah air untuk menjamin keamanannya. Pengawasan ini menjadi bagian penting agar pengembangan jamu berjalan seiring dengan perlindungan terhadap konsumen.
Di sisi lain, data yang tercatat menunjukkan bahwa dari lebih dari 18.000 jamu yang terdaftar, baru ada 71 obat herbal terstandar dan 20 fitofarmaka. Angka ini menggambarkan bahwa masih ada ruang besar untuk mendorong peningkatan kualitas dan pengembangan produk herbal agar naik kelas dalam ekosistem kesehatan nasional.
Dengan potensi nilai ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp350 triliun per tahun, industri jamu dinilai sebagai salah satu sektor strategis yang perlu terus dikembangkan. Besarnya potensi itu membuat jamu tidak lagi cukup hanya dibicarakan dari sisi budaya, tetapi juga harus dilihat sebagai sektor yang punya masa depan ekonomi yang kuat.
Momentum Hari Jamu Nasional
Hari Jamu Nasional menjadi momentum penting untuk mengangkat kembali peran jamu. Peringatan ini bukan semata soal merayakan warisan budaya, melainkan juga menegaskan bahwa jamu bisa tumbuh sebagai industri berkelanjutan yang relevan dengan kebutuhan masa kini.
Dalam momentum tersebut, CNBC Indonesia menggelar Health Forum 2026 dengan tema “Dari Warisan Budaya Menjadi Industri Jamu Berkelanjutan”. Forum ini akan berlangsung pada Selasa, 26 Mei 2026, pukul 10.00-12.00 WIB. Melalui forum ini, CNBC Indonesia membuka ruang diskusi antara regulator dan pelaku industri untuk memperkuat arah pengembangan jamu agar semakin kompetitif dan relevan di masa depan.
Health Forum sendiri merupakan program talkshow spesial CNBC Indonesia TV yang menyoroti peran jamu sebagai warisan budaya Indonesia yang terus berkembang menjadi bagian dari industri kesehatan modern dan berkelanjutan. Dalam momentum Hari Jamu Nasional, forum ini dihadirkan untuk memperlihatkan bagaimana jamu bisa terus hidup di tengah perubahan zaman tanpa kehilangan akar budayanya.
Diskusi Regulator dan Pelaku Industri
Health Forum 2026 menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur regulator dan industri. Mereka adalah Kepala BPOM Taruna Ikrar, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM Mohamad Kashuri, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu Jony Yuwono, serta Presiden Direktur PT Phytochemindo Reksa Patrick Kalona.
Keempatnya akan membahas arah kebijakan dari BPOM, peran kolaborasi lintas sektor, serta peluang pengembangan jamu agar semakin relevan, kompetitif, dan diterima di pasar nasional maupun global. Diskusi ini diharapkan dapat memberi gambaran yang lebih jelas mengenai arah industri jamu, dari sisi kebijakan, pengawasan, hingga peluang pengembangan usaha.
Di tengah besarnya potensi dan makin besarnya perhatian terhadap produk herbal, jamu kembali ditegaskan sebagai bagian penting dari perjalanan kesehatan Indonesia. Dari warisan budaya, jamu kini diposisikan untuk tumbuh sebagai industri yang berkelanjutan, dengan dukungan regulasi, pengawasan, serta kolaborasi yang melibatkan banyak pihak.






