jurnalistik.co.id – Produktivitas kerja sering dipahami sebagai capaian target yang dapat dihitung dan dibandingkan dari waktu ke waktu. Namun, praktik di lapangan menunjukkan bahwa ukuran angka saja belum tentu menjelaskan mengapa performa bisa melonjak, tetapi juga bisa menurun ketika tekanan kerja meningkat.
Praktisi human capital Agus Dwi Handaya menilai, produktivitas tidak cukup dinilai dari pencapaian target dan angka semata. Menurutnya, kualitas manusia menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan produktivitas, terutama di tengah meningkatnya tekanan kerja yang berisiko memicu kelelahan (burnout) serta menurunkan kesejahteraan psikologis pekerja.
Gagasan ini berangkat dari kebutuhan organisasi untuk meninjau ulang cara pandang terhadap produktivitas. Agus menegaskan bahwa hasil kerja yang tinggi belum tentu dapat dipertahankan apabila aspek pengembangan manusia diabaikan.
Dalam rilisnya, Kamis (9/7/2026), Agus menyampaikan pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat dari keberlanjutan kinerja. Ia menekankan bahwa produktivitas sejati tidak berhenti pada sasaran yang ditetapkan, melainkan bergantung pada bagaimana manusia terus berkembang.
“Bila kita salah membaca manusia, kita hampir pasti salah mengelola produktivitas. Produktivitas sejati tidak hanya dibangun dari target, sistem, atau kemampuan teknis, tetapi dari manusia yang terus berkembang melalui pengetahuan, keterampilan, karakter, motivasi, keyakinan, lingkungan, dan kepemimpinan yang tepat,” ujar Agus.
Menurut Agus, kesalahan interpretasi tentang manusia akan berdampak pada cara organisasi mengelola produktivitas. Karena itu, perubahan pendekatan diperlukan agar pengukuran dan pengelolaan kinerja tidak semata-mata berorientasi pada output, tetapi juga memperhitungkan fondasi pengembangan pada level individu maupun tim.
Pemikiran tersebut dituangkan Agus dalam buku PeopleMath yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas (Kompas Gramedia). Buku ini membawa pendekatan yang menempatkan manusia sebagai fondasi utama produktivitas, dengan penjelasan yang mencoba mempertemukan praktik pengembangan dengan kerangka berpikir yang lebih terstruktur.
Dalam PeopleMath, Agus menggunakan logika persamaan matematika untuk menjelaskan berbagai faktor yang memengaruhi kualitas manusia. Ia menyatakan bahwa pendekatan ini bukan bertujuan menyederhanakan manusia menjadi sekadar angka, melainkan membantu melihat keterkaitan yang membentuk produktivitas.
Agus menjelaskan bahwa pengetahuan dan keterampilan menjadi fondasi utama. Namun, keduanya perlu didukung oleh karakter, motivasi, keyakinan, pengalaman, sistem, kepemimpinan, teknologi, hingga lingkungan kerja.
Melalui kerangka itu, buku PeopleMath mencoba menjelaskan hubungan antarunsur yang memengaruhi kualitas manusia. Tujuannya, produktivitas tidak hanya dinilai dari hasil kerja, tetapi juga dari keberlanjutan pengembangan yang menopangnya.
Agus menegaskan prinsip dasar pendekatan PeopleMath. Ia menyatakan bahwa metode yang digunakan tidak menghilangkan manusia sebagai subjek utama, tetapi justru memperluas cara memahami faktor-faktor yang membentuk seseorang untuk bertumbuh.
Berita Terkait
“PeopleMath bukan tentang mematematikkan manusia ke dalam rumus atau angka. Justru melalui logika persamaan, kita dapat melihat manusia secara lebih utuh, memahami apa yang membentuk seseorang untuk bertumbuh, apa yang membuat sebuah tim mampu bergerak bersama, dan apa yang membuat organisasi dapat membangun produktivitas secara berkelanjutan,” katanya.
Agus juga menyebut bahwa PeopleMath memuat 21 rumus. Dari total tersebut, ada dua rumus inti dan 19 rumus turunan yang disusun sebagai kerangka untuk memahami bagaimana kualitas manusia dibangun.
Dengan adanya kerangka itu, menurut Agus, organisasi bisa memetakan unsur-unsur yang relevan dalam pengembangan kualitas manusia. Produktivitas pun tidak berhenti menjadi label atas target, melainkan dipahami sebagai proses yang menuntut konsistensi dalam penguatan faktor-faktor pendukung.
Berangkat dari pengalaman pengembangan sumber daya manusia
Agus menyampaikan bahwa gagasan dalam PeopleMath lahir dari pengalaman hampir tiga dekade berkecimpung di bidang pengembangan sumber daya manusia. Ia menilai bahwa pemahaman tentang manusia tidak cukup diperoleh dari satu jenis rujukan, tetapi perlu diuji dalam berbagai situasi pengelolaan organisasi.
Ia menyebut konsep PeopleMath dipengaruhi oleh dua pengalaman berbeda. Pertama, kehidupan masa remajanya di Medan. Kedua, perjalanan profesionalnya dalam mengelola transformasi organisasi di beberapa bank, termasuk Danantara.
“Yang membedakan PeopleMath adalah gagasan ini tidak hanya lahir dari teori manajemen atau konsep akademik, tetapi dari dua ‘laboratorium’ kehidupan yang saya alami secara langsung,” ujarnya.
Dengan latar itu, Agus memandang bahwa produktivitas perlu dibaca sebagai hasil dari interaksi berbagai faktor yang membentuk manusia, baik dari sisi kemampuan maupun kondisi yang menyertainya. Dalam penjelasannya, faktor teknis dan sistem juga penting, tetapi tidak berdiri sendiri tanpa pembacaan atas manusia yang menggerakkan sistem.
Ia juga menempatkan pengembangan sebagai bagian dari keberlanjutan. Ketika organisasi mengabaikan penguatan pengetahuan, keterampilan, karakter, motivasi, keyakinan, serta lingkungan kerja, produktivitas yang tampak tinggi berisiko tidak bisa dipertahankan dalam jangka panjang.
PeopleMath, sebagaimana dijelaskan Agus, menawarkan cara pandang yang mencoba menghubungkan unsur-unsur tersebut dengan logika yang lebih sistematis. Lewat kerangka persamaan, buku ini berusaha memperlihatkan keterkaitan yang membentuk produktivitas, bukan sekadar menilai hasil dari target.
Pada akhirnya, pandangan Agus menggeser fokus dari pengukuran yang semata-mata angka menuju penilaian yang juga mempertimbangkan manusia. Dalam konteks tekanan kerja yang dapat memicu burnout dan menurunkan kesejahteraan psikologis, organisasi dituntut melihat produktivitas sebagai proses pengembangan yang terus dirawat.










