Internasional

Lansia Pemulung Kardus Ramai di Hong Kong, ‘Nenek Kardus’ Hantui Kota Terkaya Dunia

0
×

Lansia Pemulung Kardus Ramai di Hong Kong, ‘Nenek Kardus’ Hantui Kota Terkaya Dunia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Nenek Kardus "Hantui" Kota Terkaya Dunia, Ramai Lansia Jadi Pemulung

jurnalistik.co.id – HONG KONG — Di kota yang kerap disebut sebagai salah satu yang terkaya di dunia, pemandangan lansia memulung kardus justru makin sering terlihat. Banyak di antara mereka sudah berusia 70 tahun atau lebih, tetapi tetap turun ke jalan demi mengangkut puluhan kilogram kardus agar bisa bertahan hidup.

Fenomena yang oleh warga setempat disebut sebagai kehadiran “nenek kardus” itu menjadi gambaran kontras antara kemewahan Hong Kong dan kerasnya hidup sebagian penduduk lanjut usia. Pada hari yang baik, penghasilan mereka hanya sekitar US$ 12 atau Rp 212.736, jumlah yang nyaris tidak cukup untuk membayar dua kali makan.

Rutinitas dini hari demi beberapa dolar

Salah satu pemulung kardus itu adalah Wu Sau-jing, yang berusia 71 tahun. Setiap malam, ia turun ke jalan pada pukul 02.00 dini hari untuk mulai mengumpulkan kardus-kardus yang dibuang bisnis dan restoran.

Setelah itu, ia memilah hasil temuannya ke dalam beberapa kategori sebelum membawanya ke perusahaan daur ulang lokal untuk dijual. Biasanya, ia baru pulang ke rumah sekitar pukul 11.00 siang.

“Saya mempertahankan mata pencaharian dan ini juga merupakan hobi saya. Jika Anda tidak menyukainya, ini bisa menjadi hal yang cukup melelahkan,” kata Sau-jing sebagaimana dimuat CNN International, Senin (25/5/2026).

Bagi Sau-jing, pekerjaan itu bukan sekadar upaya mencari uang. Ia melihatnya juga sebagai cara membantu lingkungan, meski harus menghadapi kerja fisik yang berat dan jam kerja yang melelahkan. Selama tiga dekade terakhir, ia terus kembali ke jalan yang sama dengan rutinitas yang sama setiap malam.

Ia bahkan menyamakan kebiasaannya itu dengan kecanduan. “Ini seperti merokok dan berjudi. Ini adalah hobi yang tidak bisa Anda hilangkan… Saya akan melakukannya sampai hari di mana saya tidak bisa melakukannya lagi,” kelakar Sau-jing.

Penghasilan yang terus tergerus

Kondisi serupa juga dialami Lai, seorang lansia berusia 70-an tahun yang telah memulung kardus selama 20 tahun terakhir. Dalam setahun terakhir, pendapatannya merosot hingga setengahnya.

Perusahaan daur ulang yang biasanya membayar sesuai rekomendasi minimum pemerintah, yakni US$ 0,078 atau Rp 1.383 per kilogram, kini hanya menawarkan US$ 0,038 atau Rp 674. Dalam beberapa kesempatan, ia bahkan tidak memperoleh uang sama sekali.

Situasi itu terjadi ketika orang asing atau petugas pemerintah membuang barang-barang yang telah dikumpulkannya karena salah mengira benda tersebut sebagai sampah yang menyumbat jalan. Bagi Lai, kondisi tersebut membuat hasil kerja kerasnya bisa hilang begitu saja.

Di Hong Kong, kota dengan biaya hidup tinggi, banyak warga lansia memang harus berjuang keras untuk bertahan. Badan amal Oxfam Hong Kong dalam laporan tahun 2024 memperkirakan ada 580.000 lansia di kota itu yang hidup dalam kemiskinan.

Pemerintah setempat sebenarnya menawarkan tunjangan bulanan kecil kepada warga lansia. Namun, sebagian dari mereka tetap perlu dan memilih untuk mencari penghasilan tambahan guna menutupi biaya hidup di salah satu kota termahal di dunia itu.

Kisah 95 tahun yang tetap berjalan

Nasib buruk juga menimpa Chan Ngai-kan yang berusia 95 tahun. Pada suatu sore, setelah mendorong kereta dorongnya dari satu distrik ke distrik lain, ia mendapati pos daur ulang yang biasa ia kunjungi sudah tidak lagi menerima kardus akibat perubahan kebijakan.

Chan akhirnya terpaksa membuang hasil angkutannya di tempat sampah terdekat dan berjalan pergi tanpa membawa uang sepeser pun. “Anak-anak saya berada di Kanada dan saya tidak punya uang,” ujar Ngai-kan, menyebut peristiwa itu sebagai pukulan yang sangat besar baginya.

Di tengah para perempuan lansia, ada pula Cheung yang berusia 80 tahun sebagai salah satu dari sedikit pria yang mengumpulkan kardus di jalanan. Ia tidak memiliki jadwal tetap dan lebih memilih mengambil kardus apa saja yang ia temui.

Ketika kardus sudah cukup banyak, Cheung harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit dengan mendorong kereta dorong dari rumahnya ke pusat daur ulang terdekat. Tak jarang, ia juga melewati beberapa jalan curam demi memenuhi kebutuhan hidup.

Sampah banyak, yang didaur ulang masih sedikit

Masalah yang dihadapi para pemulung lansia itu juga berkelindan dengan kondisi pengelolaan sampah Hong Kong. Kota tersebut menghasilkan sekitar 1,51 kilogram sampah per kapita setiap hari, lebih tinggi dibandingkan Tokyo yang 0,88 kilogram, Seoul 0,95 kilogram, dan Taipei 1,139 kilogram.

Menurut data resmi, hanya sekitar 30% hingga 40% sampah di Hong Kong yang didaur ulang. Angka itu masih tertinggal dari Taiwan dan Korea Selatan yang masing-masing mendaur ulang lebih dari separuh sampahnya.

Bagi Sau-jing, kerja malam yang ia jalani selama ini merupakan gabungan antara menjaga lingkungan dan menyambung hidup. Meski berat, ia tetap kembali ke jalan dengan ritme yang sama setiap hari.

Di kota yang identik dengan gedung tinggi, pusat keuangan, dan citra kemakmuran, para lansia pemulung kardus itu justru memperlihatkan sisi lain Hong Kong. Mereka bertahan di tengah tekanan biaya hidup, pendapatan yang kecil, dan usia yang terus menua, tanpa banyak pilihan selain terus berjalan.