jurnalistik.co.id – Perbaikan airbag setelah kecelakaan tidak boleh berhenti pada penggantian komponen fisik. Sistem keselamatan pasif yang sudah terlanjur “deployed” perlu dipulihkan lewat tahapan teknis yang benar, termasuk proses digital agar kembali selaras.
Ketika mobil mengalami tabrakan keras, yang bermasalah bukan hanya bodi bagian luar. Airbag, sensor-sensor, hingga seatbelt juga masuk daftar yang harus ditangani secara spesifik karena fungsi keselamatan berkaitan langsung dengan respons kendaraan terhadap benturan.
Owner diler dan bengkel spesialis Beli Mobil Rusak (BMR) di Pondok Gede, Alvian Akmal, menegaskan bahwa pengerjaan sistem airbag pasca-insiden memang tidak sesederhana yang terlihat. Ada urutan kerja yang krusial, sebab pekerjaan yang salah dapat membuat indikator peringatan menyala dan sistem dianggap tidak normal oleh mobil.
Untuk memberi gambaran, airbag bekerja menggunakan inflator kimia. Proses pemicunya memanfaatkan amonium nitrat; gas yang cepat menguap kemudian mengembang ketika panas dihasilkan oleh pemicu tersebut.
Perbaikan fisik saja belum cukup
Meski komponen baru dipasang dengan rapi di kemudi maupun dasbor, sistem keamanan tidak otomatis kembali aktif sepenuhnya. Kesalahan yang kerap terjadi di bengkel awam adalah melewatkan sinkronisasi komputer saat modul diganti.
Alvian menjelaskan bahwa modul baru yang dipasang tanpa penyelarasan dapat membuat lampu indikator airbag di panel instrumen tetap menyala. Kondisi itu membuat mobil mendeteksi gangguan sehingga sistem keselamatan dinilai tidak berfungsi semestinya.
Di sinilah tahapan “coding” menjadi bagian yang wajib. Alvian menyebutnya sebagai penyesuaian kode dari modul baru terhadap sistem kendaraan, agar modul dikenali dan bisa berjalan sesuai konfigurasi pabrik.
Berita Terkait
“Coding” memakai perangkat pemindai khusus
Proses coding atau kalibrasi ulang dilakukan dengan perangkat komputer pemindai khusus. Langkah digital ini dibutuhkan agar Engine Control Unit (ECU) dapat mengenali dan menerima modul keselamatan yang baru.
Dengan demikian, sistem bisa kembali siap melindungi penumpang bila terjadi benturan pada masa mendatang. Tanpa prosedur tersebut, modul memang mungkin sudah terpasang, tetapi komunikasi dengan pusat kontrol tidak kembali tersinkron.
Dua metode pengerjaan airbag pasca-kecelakaan
Secara teknis, Alvian menyebut ada dua metode untuk mengembalikan fungsi airbag setelah mengalami benturan. Pilihan metode biasanya disesuaikan dengan kebutuhan pemilik kendaraan dan kondisi komponen yang benar-benar rusak.
Metode pertama berfokus pada penggantian pemicu ledak atau inflator. Alvian menjelaskan bahwa bagian yang rusak setelah airbag “meledak (deployed)” adalah pemicunya, sehingga penggantian dilakukan pada inflator, bukan sekadar komponen lain. Ia mengatakan, “Jadi kita ganti di peledaknya (inflator) nih. Karena kan yang setelah dia meledak, yang rusak itu peledaknya. Kalau balon dan lain-lain itu kan sebenarnya tetap normal.”
Metode kedua memungkinkan penggantian komponen secara menyeluruh. Pada opsi ini, bengkel melakukan penggantian full set, lalu melakukan penataan terakhir agar modul dan mobil kembali cocok meski sebelumnya belum sinkron. Alvian menambahkan, “Ada juga yang kita ganti total. Jadi ganti full set . Jadi paling terakhir-terakhir tinggal kita nge-set antara modul dan mobil karena kan belum sinkron.”
Pada mobil modern, fitur keselamatan pasif seperti airbag juga berjalan beriringan dengan sistem bantu lain. Misalnya pada New MG ZS yang disebut memiliki ABS, EBD, ESP, HSA, serta enam buah airbag ganda.
Intinya, baik memilih penggantian inflator maupun mengganti full set, tahapan pemulihan tidak berhenti pada perubahan komponen fisik. Prosedur penyelarasan berbasis komputer tetap menjadi penentu agar sistem keselamatan benar-benar siap, bukan sekadar terlihat sudah “terpasang”.












