jurnalistik.co.id – Sepeda motor di Indonesia kini menunjukkan pergeseran fungsi yang semakin nyata. Kendaraan roda dua tidak lagi berhenti sebagai alat berpindah tempat, tetapi berkembang menjadi penanda karakter pemiliknya.
Perubahan itu mengemuka dalam acara Berkampus Ria, kolaborasi AHM dan Kompas.com, yang digelar di Unika Atma Jaya, Cisauk. Di kesempatan tersebut, Ahmad Muhibbuddin—General Manager Corporate Communication PT Astra Honda Motor (AHM)—membahas fenomena dari sudut pandang perilaku konsumen.
Menurut Muhibbuddin, kedekatan emosional antara pengguna dan motornya tergolong erat. Motor dipandang sebagai bagian dari keseharian, sekaligus cermin dari gaya hidup yang dijalani.
Motor sebagai identitas, bukan sekadar kendaraan
Muhibbuddin menjelaskan, pilihan tipe atau model motor yang digunakan kerap mencerminkan kecenderungan kepribadian pengendara di jalan. Dari situlah muncul filosofi yang kemudian hidup di masyarakat.
Ia mengungkapkan contoh dengan gaya komunikasi yang santai. “Kalau aku menggunakan motor Scoopy, aku lebih modis. Kalau aku menggunakan Vario, maka aku lebih sporty,” kira-kira begitulah ungkapannya, dan ia menyampaikannya pada Rabu (8/7/2026).
Filosofi itu juga merambah pada segmen motor sport dan dual-purpose. Saat bercanda, Muhibbuddin mencontohkan bagaimana karakter motor trail bisa ikut membentuk rasa percaya diri pengendara ketika berada di komunitas.
Ia menuturkan, “Kalau aku menggunakan CRF, motor trail, maka akan lebih ganteng. Nambah lima persen gantengnya biasanya.” Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa motor diposisikan bukan hanya sebagai kendaraan, melainkan juga sebagai alat pembentuk citra sosial di ruang publik.
Hobi berkendara dan modifikasi ikut menggerakkan ekonomi
Berita Terkait
Lebih lanjut, Muhibbuddin menekankan bahwa indikator pergeseran ini terlihat dari cara masyarakat menghabiskan waktu dan uang mereka. Sepeda motor kini menjadi “modal” untuk menyalurkan beragam hobi berkendara.
Aktivitas yang disebut mencakup sunmori, kegiatan bermain tanah masuk hutan (adventure), hingga sekadar berkumpul bersama komunitas. Dalam konteks ini, motor berfungsi melebar: tidak hanya untuk kebutuhan harian, tetapi juga untuk menambah gaya dan menjadi bagian dari lifestyle masyarakat Indonesia.
Menurutnya, ketika motor sudah masuk ke wilayah hobi dan kreativitas melalui modifikasi, dampaknya dapat bergulir ke sektor lain. Titik baliknya terlihat ketika kebutuhan untuk mempercantik tampilan kendaraan mendorong transaksi di luar lini pabrikan inti.
Bagian yang paling ditekankan adalah efek lanjutan terhadap perputaran ekonomi, termasuk peluang bagi pelaku usaha kecil. “Hobi memodifikasi, itu luar biasa dalam gerakan untuk perekonomian. Sangat menentukan,” ujar Muhibbuddin.
Dengan kata lain, nongkrong akhir pekan dan kebutuhan memperbarui tampilan motor tidak semata menjadi konsumsi gaya. Kegiatan tersebut ikut membuka keran ekonomi baru melalui aktivitas yang terkait langsung dengan aksesoris, pengerjaan modifikasi, dan ekosistem pendukung lainnya, termasuk UMKM.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tren di dunia otomotif berkembang sebagai budaya. Ketika identitas dan kepuasan pengguna bertemu dengan kreativitas, maka muncul dampak yang terasa sampai ke tingkat ekonomi yang lebih luas.
Dalam cara pandang yang dibagikan pada Berkampus Ria, motor juga diposisikan sebagai “bahasa” yang dipakai pengendara saat berinteraksi. Ketika seseorang merasa cocok dengan suatu model, sikap dan kebiasaannya ikut terbaca lewat cara ia memilih kendaraan, lalu ditunjukkan kembali saat berdiskusi atau berkumpul. Dengan begitu, motor tidak berhenti menjadi barang fungsional, melainkan menjadi rujukan kecil untuk mengekspresikan diri di ruang publik.
Lebih jauh, dorongan untuk membuat tampilan motor semakin sesuai selera berpengaruh ke banyak aktivitas yang saling terhubung. Kebutuhan akan aksesoris, pengerjaan modifikasi, sampai persiapan untuk ikut kegiatan komunitas ikut membuka peluang usaha yang bersifat lebih dekat dengan keseharian warga. Ekosistem pendukung yang tumbuh dari hobi ini juga menjadi ruang bagi pelaku berskala kecil, termasuk UMKM, karena transaksi tidak hanya berhenti pada lini pabrikan.
Karena itu, perubahan yang terjadi terasa bukan hanya pada jalanan, tetapi juga pada ritme aktivitas mingguan. Saat waktu luang dipakai untuk nongkrong, memperbarui bagian tertentu, atau menyiapkan motor untuk ikut acara, konsumen pada akhirnya menjalankan pilihan yang sekaligus menegaskan selera dan membentuk perputaran ekonomi di sekitarnya. Pada level budaya, praktik seperti ini membuat tren otomotif mengarah menjadi cara berekspresi bersama.












