jurnalistik.co.id – Kinerja ekspor motor utuh atau completely built up (CBU) buatan Indonesia pada semester pertama 2026 menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), ekspor JanuariāJuni 2026 mencapai 316.819 unit.
Angka tersebut naik 17,9 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yang tercatat 268.743 unit. Kenaikan ini memperlihatkan bahwa permintaan terhadap produk roda dua nasional tetap kuat di pasar ekspor.
Pergerakan ekspor per bulan
Ekspor pada Januari dibuka dengan 52.924 unit. Setelah itu, jumlah kiriman meningkat menjadi 57.688 unit pada Februari.
Pada Maret, ekspor sempat turun ke 48.970 unit. Namun, tren kembali menguat pada April dengan realisasi 52.411 unit, lalu bertambah menjadi 54.759 unit di Mei.
Meski demikian, pada Juni ekspor kembali terkoreksi menjadi 50.067 unit. Jika dibanding Mei, nilai tersebut turun sekitar 8,6 persen secara month to month (MtM) atau berkurang 4.692 unit.
Secara rata-rata, ekspor motor CBU pada enam bulan pertama 2026 berada di kisaran 52.800 unit per bulan. Fluktuasi yang masih terlihat dari bulan ke bulan menandakan bahwa pergeseran permintaan di negara tujuan ekspor belum sepenuhnya stabil.
Meski total semester menunjukkan peningkatan, perubahan level ekspor dari satu periode ke periode berikutnya tetap mencerminkan dinamika pasar global. Hal ini juga sejalan dengan penilaian pelaku industri bahwa kondisi ekonomi dunia memengaruhi ritme permintaan.
Berita Terkait
Ketua Bidang Komersial AISI, Sigit Kumala, menilai produk motor Indonesia pada dasarnya memiliki daya saing. āProduk motor kita sebenarnya sangat kompetitif, apalagi dengan rupiah yang melemah, harusnya lebih bersaing,ā ujar Sigit.
Menurut Sigit, ketidakpastian kondisi global justru menjadi pembatas yang membuat pertumbuhan permintaan sulit meningkat lebih jauh. Ia menyebut bahwa situasi geopolitik dan kondisi ekonomi internasional masih membatasi potensi kenaikan di berbagai negara tujuan.
Sigit juga menyampaikan bahwa target ekspor 2026 diposisikan mendekati capaian 2025. ā(Target ekspor 2026) kurang lebih sama dengan 2025. Tidak berharap ada peningkatan signifikan karena kondisi geopolitik global juga belum mendukung,ā kata Sigit.
Dengan demikian, semester pertama 2026 memperlihatkan hasil yang lebih tinggi dibanding semester yang sama tahun sebelumnya, sekaligus menegaskan adanya ketahanan ekspor. Namun, pola fluktuasi bulanan dan sentimen eksternal tetap menjadi faktor yang berpengaruh pada proyeksi periode berikutnya.
Jika dilihat dari pola enam bulan, ekspor motor CBU bergerak di rentang yang relatif dekat, dengan lonjakan di awal semester dan penyesuaian pada beberapa titik. Februari menjadi bulan dengan realisasi tertinggi dibanding bulan-bulan di sekitarnya, sedangkan Maret mencatat koreksi sebelum kembali naik pada April dan Mei.
Perbedaan level ekspor antarbulan tersebut memberi sinyal bahwa ritme pengiriman sangat dipengaruhi oleh kebutuhan pasar luar negeri yang berubah-ubah. Walau demikian, tidak ada penurunan ekstrem; koreksi lebih terlihat sebagai penyesuaian, kemudian diikuti pemulihan pada periode berikutnya, terutama setelah Maret.
Di sisi lain, AISI menekankan bahwa produk motor Indonesia dinilai tetap memiliki nilai kompetitif. Sigit Kumala menyebut pelemahan rupiah dapat mendorong daya saing, sehingga perusahaan berpeluang mempertahankan atensi pasar, meski kinerja ekspor tetap harus menyesuaikan kondisi permintaan global.
Dalam pandangan AISI, target ekspor 2026 sengaja didekatkan dengan capaian 2025 karena terdapat pembatas dari ketidakpastian global. Sentimen geopolitik dan kondisi ekonomi internasional disebut masih berpengaruh pada berbagai negara tujuan, sehingga pertumbuhan yang lebih tinggi tidak menjadi skenario utama pada semester berjalan maupun proyeksi berikutnya.












