Internasional

Spanyol Kewalahan Kebakaran Hutan Mematikan: 12 Tewas, 4 Warga Inggris Termasuk, 23 Hilang

×

Spanyol Kewalahan Kebakaran Hutan Mematikan: 12 Tewas, 4 Warga Inggris Termasuk, 23 Hilang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Spain battles to contain one of its deadliest wildfires as at least 12 killed

jurnalistik.co.id – Kebakaran hutan mematikan di bagian tenggara Spanyol masih sulit dikendalikan, sementara tim penyelamat terus berupaya menjangkau titik-titik api yang menyala kembali. Di wilayah yang dilaporkan paling terdampak, otoritas setempat menyatakan sedikitnya 12 orang tewas.

Peristiwa ini terjadi di sekitar desa Bedar. Dari jumlah korban jiwa tersebut, empat di antaranya disebut berasal dari Inggris berdasarkan keterangan otoritas Spanyol.

Selain korban tewas, sebanyak 23 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Pemerintah daerah di area Los Gallardos, AlmerĂ­a, memperingatkan bahwa angka kematian berpotensi bertambah, termasuk adanya kekhawatiran lebih banyak warga Inggris menjadi korban.

Musim panas kali ini ditandai gelombang panas yang berkelanjutan. Suhu dilaporkan berada di kisaran 40 derajat Celsius (104 Fahrenheit), kondisi yang diikuti tanah kering dan angin yang kuat sehingga kebakaran menyebar cepat.

Kebakaran di Los Gallardos dilaporkan meluas pada sore hari Kamis. Antonio Sanz, menteri kesehatan dan keadaan darurat Andalusia, mengatakan pada Sabtu api telah menghanguskan sekitar 6.600 hektare lahan.

Menurut Sanz, penyebab kebakaran diduga berkaitan dengan jatuhnya sebuah kabel listrik. Namun, perusahaan listrik setempat membantah klaim tersebut dan menyatakan tidak ada informasi tambahan yang secara resmi diungkapkan terkait peristiwa temuan korban.

Pemerintah juga masih belum merilis identitas empat orang yang ditemukan meninggal di dalam sebuah mobil yang hangus. Sanz sebelumnya menyampaikan bahwa mereka diduga “berasal dari Inggris”, dan mobil tersebut memiliki setir di sisi kanan.

Dalam laporan lapangan, kondisi cuaca berangsur membaik pada malam hingga menjelang pagi. Sanz menyebut perubahan ini membuat penanganan dapat dilakukan secara lebih langsung, setelah pada periode sebelumnya cuaca dan perilaku api hanya memungkinkan upaya bertahan.

Ia menekankan bahwa hari berikutnya menjadi fase pertama yang memungkinkan serangan langsung terhadap kebakaran. Hingga saat itu, tim lebih banyak melakukan tindakan defensif karena risiko pergerakan api yang cepat.

Saksi yang sempat berada di area Bedar menggambarkan situasi yang sangat mendadak. Lucinda Curtois, yang datang ke Spanyol bersama pasangannya Riyaz Cheytan dan dua anak mereka yang masih remaja untuk berlibur, menceritakan pengalaman melarikan diri.

Curtois mengatakan seolah ada “awan jamur” tebal dari asap, dan rasanya seperti ledakan. Ia juga menyatakan ketakutannya bahwa setidaknya dua warga negara Inggris lain kemungkinan ikut menjadi korban.

Menurut Curtois, orang-orang yang ia maksud meninggalkan rumah dengan berjalan kaki, namun ia tidak mengetahui alasan pastinya. Ia hanya menduga hal itu terjadi karena akses jalan terputus, mengingat mereka tinggal di wilayah pedesaan.

Di sisi lain, pihak setempat di Bedar menyebut tidak semua korban mengikuti rute evakuasi yang direkomendasikan. Namun, hingga kini belum jelas seberapa baik arahan tersebut tersampaikan dan dipahami oleh warga pada saat situasi memburuk.

Baik otoritas Spanyol maupun Kantor Luar Negeri Inggris belum mengungkap identitas para korban. Sanz menyatakan kebakaran yang terjadi berlangsung cepat dan memiliki pola yang rumit, sehingga sulit memastikan apakah sebagian besar atau bahkan seluruh korban merupakan warga asing.

Sejumlah pernyataan internasional juga muncul seiring upaya konsuler. Maxime Prévot, menteri luar negeri Belgia, mengatakan banyak warga Belgia memiliki rumah kedua di negara tersebut, dan layanan konsuler berupaya menghubungi “warga Belgia yang belum berhasil dihubungi”.

Dengan sedikitnya 12 korban jiwa, kebakaran ini sudah masuk daftar kebakaran hutan paling mematikan dalam sejarah Spanyol. Catatan peristiwa serupa pernah terjadi pada tahun 1984 di Pulau La Gomera, ketika 20 orang tewas. Pada tahun 1979, kebakaran hutan dekat Lloret de Mar di bagian timur laut Spanyol menewaskan 21 orang, termasuk sembilan anak.

Penyelidikan penyebab dan penanganan lanjutan masih berjalan, sementara proses pencarian korban hilang menjadi prioritas. Pemerintah daerah menyebut perubahan cuaca membantu tim untuk mengalihkan pendekatan dari defensif menjadi upaya serangan langsung, dengan harapan dapat memperkecil risiko bertambahnya korban.

Di tingkat lebih luas, perubahan iklim disebut mendorong kenaikan suhu dan memperberat dampak cuaca ekstrem. Layanan iklim Copernicus menyebut Eropa menjadi benua yang memanas paling cepat, bahkan sekitar dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global.

Situasi ini, menurut penjelasan Copernicus, meningkatkan frekuensi gelombang panas musim panas, menambah tekanan pada ketersediaan air, serta membuat kebakaran hutan menjadi lebih intens. Dalam konteks tersebut, kebakaran di Spanyol kembali menunjukkan bagaimana kombinasi suhu tinggi, kondisi tanah kering, dan angin dapat mempercepat laju api.

Saat proses penanggulangan berlangsung, otoritas berharap kondisi yang lebih stabil memungkinkan pergerakan tim penyelamat yang lebih aman dan efektif. Namun, mengingat masih ada 23 orang yang dinyatakan hilang, upaya identifikasi dan verifikasi informasi korban diperkirakan akan terus memakan waktu.