jurnalistik.co.id – Kepolisian Australia merilis rekaman kamera tubuh (bodycam) yang menampilkan wawancara dengan pria yang dihukum membunuh turis asal Inggris, Peter Falconio. Dalam rekaman tersebut, penyidik berupaya mendorong Bradley Murdoch untuk memberikan informasi terkait lokasi jenazah Falconio.
Falconio, yang berasal dari Huddersfield, tewas ditembak di jalan raya terpencil dekat Barrow Creek, Wilayah Utara (Northern Territory), pada Juli 2001. Lokasinya berada sekitar 186 mil (300 km) di utara Alice Springs.
Bradley Murdoch, 67 tahun, meninggal di penjara tahun lalu karena kanker tenggorokan. Hingga akhir hayatnya, ia tidak mengungkap di mana sisa jenazah Falconio berada.
Rekaman itu dirilis oleh pihak Northern Territory Police menjelang peringatan 25 tahun hilangnya Falconio. Juru bicara kepolisian menyatakan mereka tetap berkomitmen membawa penyelidikan ini hingga kesimpulan maksimal.
Di dalam video, seorang petugas terdengar berbicara langsung kepada Murdoch dan mengaitkan permintaan informasi dengan hubungan pribadi. Petugas mengatakan: “I need you to have a think about if Peter Falconio was your son… and somebody knew something about where his body was.”
Murdoch, yang mengenakan pakaian penjara berwarna hijau, menjawab dengan nada menolak. Ia mengatakan: “I don’t know anything about it.”
Petugas kemudian kembali mendorong Murdoch agar mempertimbangkan ulang. Namun Murdoch menegaskan bahwa ia tidak memiliki informasi yang bisa diberi. Ia menambahkan: “Don’t beat around the bush because I’m just going to cut you short everytime, okay?”
Dalam rekaman yang sama, Murdoch menyebut bahwa ia telah berulang kali menyampaikan penolakannya selama bertahun-tahun. Ia berkata: “I know nothing. I’ve said this for 22 years. I know nothing. You keep asking these questions. I know nothing.”
Ketika diminta untuk memikirkan kembali, Murdoch memberikan jawaban yang dipenuhi ungkapan kesal. Ia mengatakan: “I’m not thinking about it. I’ve thought about. I thought about it for 22 years.”
Ia juga menyampaikan bahwa dirinya merasa tengah berada di fase akhir hidup. Murdoch menambahkan: “I’ve said the same story over and over and over, and now you’re here at the last minute because I’m dying.”
Menurut rekaman, Murdoch kemudian menyatakan tidak mempunyai informasi yang dapat membantu penyelidik. Ia berkata: “I don’t have information. This is what I’m trying to say to you. I don’t have this information.”
Berita Terkait
Falconio saat kejadian sedang bepergian keliling Australia bersama pacarnya, Joanne Lees, yang juga berasal dari Huddersfield. Keduanya dibunuh setelah peristiwa yang kemudian menjadi dasar tuntutan terhadap Murdoch.
Dalam persidangan Desember 2005, pengadilan mendengar kesaksian bahwa Murdoch—saat itu berusia 43 tahun—mendekati kendaraan mereka dan mengklaim telah melihat percikan api dari mobil van yang dikemudikan Falconio. Setelah itu, Murdoch disebut menembak Falconio di bagian kepala ketika memeriksa kendaraan tersebut.
Setelah penembakan, Murdoch membawa Lees ke dalam mobilnya. Ia kemudian mengikat pergelangan tangan Lees dengan cable ties.
Lees akhirnya berhasil meloloskan diri. Ia bersembunyi di semak belukar pedalaman selama beberapa jam sebelum dapat melambaikan tangan kepada dua orang yang mengendarai truk.
Murdoch dinyatakan bersalah atas pembunuhan Falconio oleh juri yang bulat. Ia juga dinyatakan bersalah atas penganiayaan dan percobaan penculikan terhadap Lees.
Meski bukti DNA mengaitkannya dengan kejahatan, Murdoch tetap mempertahankan klaim bahwa ia tidak bersalah. Upaya bandingnya untuk membatalkan putusan juga tidak berhasil sebanyak dua kali.
Rekaman tersebut muncul di tengah penjelasan dari proses lanjutan setelah kematian Murdoch. Dalam sidang inquest pada bulan Maret, terungkap bahwa pria tersebut menolak menonton video dari orang tua Falconio yang meminta bantuannya untuk menemukan lokasi jenazah putra mereka.
Juru bicara Northern Territory menyampaikan bahwa “thoughts remained with the Falconio family and Joanne Lees whose loss and uncertainty continue to be felt 25 years on”. Pernyataan itu menegaskan bahwa keluarga Falconio dan Lees masih menghadapi kehilangan serta ketidakpastian selama seperempat abad.
Selain itu, kepolisian juga menyampaikan pesan permohonan agar siapa pun yang memiliki informasi berkenan untuk maju. Disebutkan bahwa masih mungkin ada pihak yang mengetahui sesuatu, baik informasi yang belum pernah disampaikan sebelumnya kepada polisi maupun informasi yang pernah disampaikan Murdoch kepada orang lain. Kepolisian menambahkan: “There may still be someone who knows something, whether that be information they have never previously shared with police or something Murdoch said to them.”
Mereka juga menyatakan: “We continue to urge anyone with information relating to the location of Peter Falconio’s remains to come forward.” Menurut pihak Northern Territory Police, setiap petunjuk tetap penting. Pernyataan itu menegaskan: “No piece of information is too small; what may seem insignificant could prove critical in helping investigators finally resolve this case.”
Dengan dirilisnya rekaman bodycam ini, kepolisian berusaha memperbarui momentum investigasi yang sudah berlangsung puluhan tahun—khususnya terkait upaya menemukan lokasi sisa jenazah Peter Falconio. Bagi keluarga Falconio dan Joanne Lees, informasi apa pun yang dapat mengakhiri ketidakpastian mereka dipandang dapat menjadi langkah yang berarti.






