Pendidikan

Jaga Kesehatan Ginjal Anak dengan Metode SAHABAT

×

Jaga Kesehatan Ginjal Anak dengan Metode SAHABAT

Sebarkan artikel ini
Cara Menjaga Kesehatan Ginjal Anak dengan Metode SAHABAT Lifestyle 20 Juni 2026
Ilustrasi: Cara Menjaga Kesehatan Ginjal Anak dengan Metode SAHABAT

jurnalistik.co.id – Ginjal merupakan salah satu organ vital pada anak yang berperan penting menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh. Di organ ini, tubuh menyaring zat sisa dan racun dari darah sekaligus membantu mengatur keseimbangan cairan, tekanan darah, hingga kesehatan tulang dan pembentukan sel darah merah.

Selama ini, anggapan bahwa gangguan ginjal hanya dialami orang dewasa kerap membuat masalah serupa pada anak terlambat dikenali. Padahal, anak juga dapat mengalami berbagai masalah ginjal yang berpotensi menimbulkan komplikasi jangka panjang bila tidak ditangani sejak dini.

Menurut dokter spesialis anak subspesialis nefrologi RS Pondok Indah dr. Henny Adriani Puspitasari, menjaga kesehatan ginjal anak dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari yang sederhana. Pernyataan itu disampaikan dalam acara diskusi RS Pondok Indah Group di Jakarta Pusat pada 19/06.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Henny menekankan pentingnya pemenuhan cairan harian. Ia menjelaskan, perbaikan fungsi ginjal pada anak bisa terjadi ketika jumlah minum ditingkatkan, setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan.

“Untuk menjaga fungsi ginjal yang tetap sehat, kita harus menyediakan cairan yang cukup. Ini suatu hal yang simpel, tapi di praktik saya, saya bisa menemukan anak-anak yang semula fungsi ginjalnya turun dan membaik setelah anaknya kita naikkan jumlah minumnya,” ujar dr. Henny.

Masalah yang sering ditemui adalah masih banyak anak yang tidak memenuhi kebutuhan cairan hariannya. Kondisi ini tidak bisa disepelekan karena dapat meningkatkan risiko dehidrasi, yang pada akhirnya memengaruhi fungsi ginjal.

Mengenal metode SAHABAT

Untuk memudahkan orangtua menerapkan kebiasaan sehat, dr. Henny memperkenalkan metode SAHABAT sebagai panduan menjaga kesehatan dan fungsi ginjal anak dalam aktivitas sehari-hari.

Salah satu poin pertama dalam SAHABAT adalah menyediakan cairan yang cukup. Anak dianjurkan minum air sesuai kebutuhan usia dan tingkat aktivitasnya agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik, sehingga risiko dehidrasi dapat ditekan.

Langkah berikutnya berfokus pada pengaturan pola makan. Pada bagian A, dr. Henny menyebut pengaturan pola makan sehat dengan pendekatan rendah garam. Ia tidak menyatakan anak harus menghindari garam sepenuhnya, tetapi asupannya perlu dibatasi.

“Biasakan untuk makan sehat, mengontrol kadar asupan garamnya. Enggak harus enggak pakai garam, enggak enak makan enggak pakai garam, tapi harus rendah,” kata dr. Henny.

Huruf H dalam SAHABAT kemudian mengarah pada kebiasaan hidup yang aktif setiap hari. Aktivitas fisik dinilai penting untuk membantu mencegah obesitas, karena obesitas berkaitan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi dan penyakit ginjal.

Dr. Henny juga menyoroti gaya hidup sedentari yang dinilai berkaitan dengan meningkatnya kasus obesitas pada anak. Ia menjelaskan bahwa screen time yang panjang berkorelasi dengan obesitas, sehingga anak dianjurkan agar lebih banyak bergerak, berolahraga, serta melakukan aktivitas di luar ruangan.

Selain mendukung berat badan ideal, kebiasaan aktif juga turut membantu kesehatan jantung. Hubungan kesehatan jantung dan fungsi ginjal menjadi bagian penting dalam pendekatan pencegahan agar risiko masalah ginjal tidak berkembang lebih jauh.

Dalam metode SAHABAT, bagian A terakhir menekankan pengawasan tekanan darah dan gula darah. Pemeriksaan ini tidak hanya ditujukan untuk orang dewasa atau lansia, tetapi juga penting dilakukan pada anak.

Dengan memadukan kebiasaan mencukupi cairan, mengatur asupan garam, membiasakan hidup aktif, serta memantau tekanan darah dan gula darah, orangtua memiliki kerangka yang lebih jelas untuk menjaga kesehatan ginjal anak. Pendekatan ini juga membantu memastikan masalah yang berpotensi muncul lebih awal dapat dikenali dan diantisipasi sebelum berkembang menjadi komplikasi jangka panjang.