Internasional

Uji coba puberty blocker dinilai kurangi risiko, kata penulis laporan Hilary Cass

×

Uji coba puberty blocker dinilai kurangi risiko, kata penulis laporan Hilary Cass

Sebarkan artikel ini
Puberty blocker trial will help reduce harm, says Cass report author
Ilustrasi: Puberty blocker trial will help reduce harm, says Cass report author

jurnalistik.co.id – Perintis kajian layanan kesehatan gender untuk anak, Dame Hilary Cass, menyatakan bahwa uji coba obat penunda pubertas (puberty blocker) dinilai dapat mengurangi risiko bagi anak-anak yang mengalami kebingungan gender. Ia menilai ada lebih banyak bahaya jika penelitian tersebut tidak dilakukan dibandingkan bila uji coba tetap berjalan.

Dalam komentar yang menyusul meningkatnya tekanan dari sejumlah kampanye dan sebagian politisi agar program penelitian itu dibatalkan, Cass mengatakan ia “absolutely convinced that more children will be harmed if we don’t do the trial than if we do.” Pernyataan itu muncul setelah pengumuman bahwa anak usia sedini 11 tahun dapat direkrut ke dalam uji coba.

Uji coba Pathways dan batas usia

Uji coba klinis Pathways akan dijalankan oleh peneliti dari King’s College London (KCL). Program ini dirancang untuk memeriksa apakah obat yang dapat menunda pubertas memberi manfaat atau justru menimbulkan dampak buruk.

Selain menetapkan batas usia minimum, para peneliti juga menyatakan telah meningkatkan perlindungan (safeguards) bagi peserta. Setelah ada jeda pada Februari, uji coba kemudian memiliki ketentuan usia yang disepakati sebelum dimulai kembali.

KCL menyebut bahwa batas usia ditetapkan berbeda sesuai pencatatan kelahiran: usia 11 tahun untuk peserta yang lahir sebagai perempuan (birth-registered female) dan usia 12 tahun untuk peserta yang lahir sebagai laki-laki (birth-registered males). Rekrutmen anak direncanakan dimulai pada Agustus, dengan catatan masih bergantung pada proses tindakan hukum yang sedang berjalan.

Alasan Cass: kebutuhan bukti klinis dan pemantauan ketat

Cass menekankan bahwa uji coba ini “essential” untuk menjawab pertanyaan “whether these drugs are helpful or not”. Ia juga mengatakan bahwa setelah larangan yang diberlakukan pada 2024, terdapat klaim risiko yang dibesar-besarkan, sebab pihaknya tidak memiliki kepastian menyeluruh mengenai ada atau tidaknya bahaya.

Ketika berbicara kepada BBC, Cass menyatakan keyakinannya bahwa “some of the hype about risks have been exaggerated in that we genuinely don’t know if there are harms.” Menurutnya, uji coba diperlukan untuk memperoleh jawaban berbasis bukti klinis, termasuk pemantauan terhadap peserta secara menyeluruh.

Ia menambahkan bahwa para peserta akan “closely monitored in every respect”, dan obat akan dihentikan bila muncul kekhawatiran. Rangka penilaian dalam uji coba dirancang untuk melihat dampak pada kesejahteraan fisik, sosial, dan emosional peserta.

Peneliti akan melakukan pemeriksaan seperti cek kepadatan tulang, fungsi otak, serta pemeriksaan yang berkaitan dengan kesuburan. Cass juga mengaitkan urgensi penelitian dengan kekhawatiran bahwa tanpa uji coba, sebagian anak tetap dapat memperoleh obat penunda pubertas lewat jalur yang tidak teratur.

Cass mengatakan tanpa uji coba, anak-anak berisiko mendapatkan obat lewat “unregulated and dangerous routes.” Ia mencontohkan bahwa “Today we have young people turning up in the clinics on testosterone at 11, which we know is irreversible,” dan menyatakan kemungkinan lain jika terapi yang diberikan sejak awal berbeda.

Menurut Cass, “It may be that if they were prescribed puberty blockers instead, that would give more time for the therapist to work with them and perhaps come to a different solution than a long-term life on medication.” Ia juga mengingatkan bahwa testosteron—hormon yang bersifat memmaskulinkan—seharusnya tidak diresepkan di Inggris untuk anak di bawah 16 tahun dalam konteks pengobatan gender.

Konteks kebijakan dan peran pemerintah

Dalam riwayat praktik layanan kesehatan, NHS sebelumnya pernah meresepkan puberty blockers untuk kelompok usia di bawah 18 tahun untuk kebutuhan layanan gender. Namun pada 2024, pemerintah Inggris memberlakukan larangan nasional yang bersifat permanen untuk resep obat tersebut, baik secara privat maupun oleh NHS.

Saat membahas kebijakan itu di Parlemen pada Senin, Menteri Kesehatan James Murray menyatakan bahwa bukti klinis akan menjadi dasar keputusan di masa depan. Ia mengatakan, “I have felt uncomfortable and uneasy about some of the challenges raised by this matter,” lalu menegaskan bahwa langkah yang tepat adalah membangun keputusan berdasarkan nasihat klinis dan jaminan paling kuat mengenai perlindungan peserta uji coba.

Murray juga menyebut, “But for me, following the clinical advice, basing future decisions on clinical evidence, is the right way to move forward in the context of me having received the most robust assurances about the safeguards which are in place to protect young people involved in this trial from receiving harm.”

Sengketa hukum dan tanggapan beragam pihak

Uji coba ini diumumkan pada November, tetapi kemudian dihentikan sementara pada Februari ketika regulator medis mengusulkan usia minimum 14 tahun. Setelah pembahasan, KCL menyampaikan bahwa batas usia minimum akhirnya disepakati pada 11 dan 12 tahun sesuai pencatatan kelahiran.

Namun, rencana rekrutmen masih dibayangi tindakan hukum yang diajukan oleh sejumlah kampanye yang menilai uji coba tidak etis. Salah satu yang terlibat adalah Bayswater Support Group yang bekerja dengan orang tua yang khawatir terhadap solusi medis untuk anak-anak yang mempertanyakan identitas gender.

Kelompok itu menyatakan uji coba berisiko menimbulkan bahaya yang bersifat tidak dapat dipulihkan bagi peserta, dan tidak menyelesaikan pertanyaan terbuka terkait puberty blockers. Mereka juga berargumen bahwa anak-anak tidak dapat memberikan persetujuan yang benar-benar berdasarkan pemahaman yang memadai untuk ikut serta.

Partai Konservatif, menurut laporan, menyatakan ingin mendorong pemungutan suara di House of Commons agar politisi dapat menyampaikan pendapatnya. Di sisi lain, Chay Brown, Healthcare Director dari grup kampanye TransActual, menyambut uji coba, tetapi menyerukan agar NHS membalikkan larangan dan “provide timely and holistic care for all trans people on the basis of informed consent – not the latest moral panic”.

Bagi Cass, persoalan ini perlu diselesaikan melalui pendapat klinis dan sains. Ia menambahkan bahwa kelompok anak dan keluarga mereka telah “been let down by NHS services for too long,” sehingga uji coba dianggap penting untuk menjawab pertanyaan yang selama ini belum memiliki kepastian bukti.