jurnalistik.co.id – Kepergian komedian Simson Rarameha Ngadang alias Temon pada Minggu (12/7/2026) pagi meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekan di dunia komedi. Di tengah suasana kehilangan, para pelawak yang hadir melayat justru mengaku sulit sepenuhnya larut dalam kesedihan karena berbagai momen jenaka tentang Temon terus muncul di ingatan.
Bedu dan Jarwo Kwat termasuk di antara sahabat yang datang ke rumah duka. Mereka menuturkan, sosok Temon begitu lekat dengan kelucuan, sehingga kenangan tentangnya sering terasa lebih “hidup” daripada sekadar rangkuman duka.
Bedu menyampaikan bahwa kedatangannya juga menjadi bagian dari penghormatan terakhir. Ia mengaku benar-benar terkejut karena keberangkatan Temon dinilai begitu mendadak.
Kunjungan di rumah duka
“Pertama-tama turut berduka cita ya, kita semua pasti merasa sedih ditinggalkan. Ini benar-benar ya, sebagai bentuk penghormatan terakhir kita, kita usahakan untuk hadir ke rumah Temon. Yang kita enggak pernah menduga ini keberangkatannya begitu mendadak gitu kan,” kata Bedu saat ditemui wartawan di rumah duka, Minggu.
Bagi Bedu, kedukaan itu tidak datang dalam waktu lama sebelumnya karena pertemuan terakhirnya dengan Temon masih terasa dekat. Ia menceritakan, sekitar tiga bulan lalu, mereka sempat bertemu di rumah almarhum.
Dalam pertemuan tersebut, Bedu mengatakan masih ada ruang untuk aktivitas santai bersama. Mereka berolahraga terlebih dahulu, lalu Temon mengajak Bedu bermain tenis meja.
Kenangan sederhana yang muncul dari aktivitas sehari-hari itu kemudian melekat ketika Bedu mendapati Temon sudah tidak ada lagi. Ia mengungkapkan bahwa sulit menahan kesedihan tanpa mengingat tingkah jenaka yang selama ini menjadi ciri khas almarhum.
“Jadi memang ya mau sedih, mau berduka, kayak mau bersedih ya selalu ingat hal-hal lucu sama beliau gitu. Intinya ya semoga kepergian beliau bawa ketenangan, kesabaran buat keluarganya,” ucapnya.
Kenangan candaan Temon yang membekas
Salah satu momen yang paling sulit dilupakan, kata Bedu, adalah candaan Temon tentang namanya sendiri. Bedu menuturkan, mereka kerap saling bercanda dengan gaya yang membuat obrolan mengalir tanpa rasa sungkan.
“Kadang-kadang, mohon maaf gitu, suka gini kan lawakan kita, ‘Lu siapa sih?’, ‘Temon’. ‘Temon itu singkatan apa?’, ‘Temannya Monyet’. ‘Berarti gue dong teman lu monyet’. Gitu-gitu itu kadang-kadang masih suka terngiang di kita tuh. Senang walaupun dibecandain tapi dia enggak marah, senyum gitu, giginya kelihatan,” ucap Bedu sambil tertawa.
Dari penuturan itu, yang terasa bukan hanya materi bercandanya, melainkan cara Temon menerima lelucon. Bedu menegaskan, Temon tidak lantas tersinggung saat jadi bahan candaan.
Berita Terkait
Alih-alih marah, Bedu menggambarkan Temon tetap tersenyum. Keadaan itu, menurutnya, justru membuat setiap memori tentang Temon terasa hangat meski suasananya kini dipenuhi duka.
Bedu pun mengakui, banyaknya kenangan lucu bersama rekan duetnya menjadi alasan mengapa kesedihan tidak segera “membesar” menjadi larut sepenuhnya. Ia memilih untuk menjaga ingatan pada kelucuan tersebut sebagai cara merawat suasana batin.
“Jadi memang ya mau sedih, mau berduka, kayak mau bersedih ya selalu ingat hal-hal lucu sama beliau gitu,” tuturnya lagi, menekankan bahwa ingatan itu menjadi jembatan antara duka dan keteguhan.
Di akhir sambutannya, Bedu menyampaikan doa agar kepergian Temon membawa ketenangan. Ia juga berharap keluarganya diberi kesabaran untuk menghadapi kehilangan ini.
Dedikasi dan karakter yang dikenang
Hal senada disampaikan komedian senior Jarwo Kwat. Jarwo yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Seniman Komedi Indonesia (Paski) memandang Temon sebagai sosok yang berdedikasi tinggi terhadap dunia komedi.
Bagi Jarwo, dedikasi itu tidak berdiri sendiri. Ia turut menekankan sisi lain dari almarhum yang disebutnya baik hati dan memiliki cara bersikap yang tidak menyimpan amarah.
“Dia enggak pernah marah. Dia cuma marah sama kehidupan dia doang sendiri gitu. Kalau sama orang lain enggak pernah marah dia. Baik banget itu orangnya,” kata Jarwo.
Jarwo menggambarkan, amarah yang pernah ada pada diri Temon tidak diarahkan kepada orang lain. Dengan kata lain, Jarwo menilai Temon lebih memilih merawat hubungan antarsesama rekan.
Dalam pandangan Jarwo, ketenangan sikap seperti itulah yang membuat kehadiran Temon di dunia komedi terasa berarti. Ia menyebut Temon tidak menumpuk rasa yang berpotensi merusak kedekatan sosial.
Menurut Jarwo, kebaikan Temon tampak dari cara ia memandang kehidupan dan menyikapi berbagai situasi. Jarwo pun menempatkan sikap itu sebagai bagian dari warisan yang ditinggalkan almarhum kepada rekan-rekannya.
Di rumah duka, pernyataan Bedu dan Jarwo Kwat menunjukkan pola yang sama. Mereka sama-sama menilai kelucuan Temon bukan sekadar “produk panggung”, melainkan juga cara berinteraksi yang selama ini menguatkan kebersamaan.
Meski Temon sudah tiada, para pelayat yang datang tampak berusaha memegang kenangan sebagai pegangan. Bagi mereka, kelucuan Temon menjadi satu bentuk penghormatan yang terus hidup, bersandingan dengan doa untuk keluarga yang ditinggalkan.









