Entertainment

Red wine dingin ala Gen Z makin diterima saat musim panas, bukan lagi dianggap “tabu”

×

Red wine dingin ala Gen Z makin diterima saat musim panas, bukan lagi dianggap “tabu”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Why Gen Z chilling red wine is socially acceptable, especially in the summer heat

jurnalistik.co.id – Di musim panas, kebiasaan menikmati segelas red wine dalam kondisi dingin kian terasa “wajar” dan bahkan dicari. Di Inggris, pergeseran ini tidak hanya terjadi di rumah, tetapi juga muncul di acara pencicipan yang beberapa waktu lalu digelar di Manchester.

Pada Rabu malam, para penggemar red wine berkumpul di south Manchester untuk sebuah sesi tasting. Acara yang ludes terjual ini menelan biaya £44 per tiket, dengan durasi dua jam dan jamuan yang sama sekali tidak mengikuti kebiasaan lama.

Seluruh wine yang disajikan di Didsbury berasal langsung dari lemari pendingin. Pilihan seperti ini langsung menepis anggapan bahwa red wine baru “benar” bila dikeluarkan hingga suhu ruang.

Henry Alassane, pemilik Cru Manchester, mengatakan ia sudah meminum red wine yang didinginkan selama bertahun-tahun. Namun, ia baru melihat lonjakan nyata pada tahun ini, yang ia sebut sebagai “massive increase”.

Di sisi lain, Holly Willcocks—pemilik Half Cut wine bar di Kentish Town, London—membenarkan pola yang sama. Ia menilai permintaan itu datang dari para tamu secara aktif, dan lambat laun menjadi hal yang diminati.

Menurut Willcocks, “It’s something that we see guests actively asking for,”. Ia menambahkan, “I think it’s definitely, slowly become something that people are really keen on.”

Ia juga menegaskan, yang paling sering meminta red wine dingin adalah kalangan peminum yang lebih muda. “It’s the [same] guests that were asking for an orange wine last year,” ujarnya.

Pergeseran tersebut tidak berhenti di bar. Di beberapa menu, red wine ikut muncul sebagai pilihan dingin, sementara di rumah para konsumen juga mulai memasukkan botol ke lemari pendingin.

Lonjakan minat bisa terlihat dari pencarian di Ocado. Pencarian “chilled red wine” meningkat dibanding tahun lalu, dan pada April, Aldi merilis red wine berlabel yang berubah warna setelah minuman tersebut mencapai suhu yang tepat untuk dinikmati dingin.

Wakil dari industri turut mengaitkan tren ini dengan situasi cuaca. Miles Beale, CEO Wine and Spirit Trade Association, mengatakan, “This summer has seen a surge in the popularity of chilling red wine,”.

Ia menambahkan alasan lain di luar panasnya cuaca: “This is partly down to the heatwave and partly down to breaking down old school wine myths.”

Dalam survei Ocado pada Juni, pola permintaan didorong oleh generasi muda. Sebanyak 56% responden Gen Z dan millennial muda menyatakan mereka pernah mendapat red wine yang didinginkan atau disajikan dengan es pada musim panas.

Bagi sebagian orang, red wine dingin juga dianggap lebih mudah dinikmati. Dominic Lee, 26 tahun, pertama kali merasakannya di bar anggur bergaya urban di London.

Ia begitu menyukainya hingga memutuskan menyimpan botol di rumah. “It ‘takes the edge off’” minuman, katanya, serta membuat rasanya terasa tidak terlalu berat—padahal biasanya ia lebih menyukai white wine.

Emma Moore merasakan perubahan pada profil rasa yang lebih segar. “For Emma Moore, chilling red wine makes it taste more refreshing and accentuates its fruitiness,” dan ia mengaku sudah lama menyukai gaya tersebut.

Moore menyebut red wine dingin sebagai “rosé for grown-ups”. Ia juga menjalankan sesi pencicipan anggur di York dan selalu menyiapkan opsi red dingin, meski banyak klien awalnya terkejut.

Dalam praktiknya, opsi ini justru sering menjadi momen yang paling dinantikan. Hadirin kerap baru memahami preferensi baru saat merasakan langsung pilihan yang disiapkan.

Red wine dingin sebagai respons cuaca

Ketika suhu di Inggris meningkat, banyak orang menilai red wine dingin makin masuk akal untuk cuaca panas. Willcocks menyebut, “With weather like we’re having at the moment, it’s the only way you can handle a red wine.”

Alassane menyatakan bahwa ia meminum gaya tersebut di Manchester ketika cuaca terasa panas. Ia berpandangan, banyak orang memang memilih chilled white atau rosé saat hangat, tetapi red yang didinginkan bisa menawarkan lebih banyak rasa dan karakter.

Ia juga mengaitkan popularitasnya dengan kebiasaan liburan. Menurut Alassane, saat berada di tempat wisata yang lebih hangat, chilled reds disebut lebih “common”, lalu kebiasaan itu dibawa pulang.

Ia mengatakan, “They come back from holiday and want to keep drinking them here,”.

Sam Colenutt, 29 tahun, menceritakan pengalaman serupa. Ia pertama kali mencoba chilled sparkling red wine di sebuah kebun anggur di Australia.

Colenutt sempat ragu pada awalnya, namun akhirnya merasakan perubahan yang terasa. “Initially I was a little apprehensive but it was very smooth and much less heavy when chilled,” katanya, sebelum menegaskan, “It’s the only way to drink red wine in the heat.”

Catatan penting soal konsumsi saat cuaca panas

Meski pilihan dingin terasa lebih nyaman, alkohol tetap membawa risiko dehidrasi. Dietitian Kate Hilton sebelumnya mengatakan kepada BBC News bahwa ia menyarankan konsumsi alkohol secara moderat saat cuaca panas.

Ia juga menganjurkan minuman beralkohol diimbangi dengan non-alkohol. Saran itu menjadi pengingat bahwa kenyamanan rasa tidak otomatis menghapus pertimbangan kesehatan.

Cara mendinginkan yang “benar”

Untuk menyajikan red wine dalam kondisi dingin, ada batasan waktu yang disarankan. Para ahli menekankan agar botol tidak dibiarkan semalaman di lemari pendingin.

Menurut wine experts, botol sebaiknya diletakkan di kulkas selama 20 menit hingga satu jam sebelum disajikan. Jika ternyata terlalu dingin, Bartolotta menyatakan tubuh akan membantu membawa suhu naik kembali.

Namun bila terlalu panas, ia mengatakan tidak ada “kembali” ke kondisi ideal. Ia juga menyebut solusi cepat: memasukkan satu bongkah es besar selama sekitar satu menit, lalu mengambilnya dengan sendok.

Ia mengingatkan bahwa sebagian orang mengira cara itu merusak minuman. “But actually you’re just going to get the wine to the right temperature,” ujar Bartolotta.

Dalam memilih red wine yang akan didinginkan, konsensusnya mengarah pada karakter yang lebih ringan. Moore menyarankan varietas seperti Pinot Noir, Zweigelt, dan Gamay yang dinilai cenderung lebih cocok untuk dinikmati dingin.

Moore juga menambahkan bahwa ia saat ini menyimpan sebotol Beaujolais di lemari pendingin. “I’ve got a bottle of Beaujolais in the fridge at the moment,” ucapnya.

Dominc Lee, yang biasanya memilih red dari iklim lebih sejuk, juga memegang pendekatan serupa. Ia cenderung memilih dari Austria atau Jerman.

Ia menaruh perhatian pada karakter rasa yang lebih tajam. “English and organic red wines, which he says can taste tarter, are among his favourites to drink chilled,”.

Sebaliknya, Bartolotta memperingatkan bahwa red yang tubuhnya besar bisa berubah rasa ketika disajikan pada suhu lebih rendah. Ia mengatakan wine bertubuh besar akan terasa pahit dan “metallic” bila disajikan di bawah 16C.

Ia menambahkan, itu tidak berarti semua red harus langsung disajikan dari tempat paling dingin. “But that doesn’t mean you should always serve them straight from the kitchen cupboard – it depends on how hot your house is.”

Ia juga menjelaskan bahwa konsep red wine harus disajikan pada suhu ruang adalah gagasan lama yang bertumpu pada kondisi penyimpanan di ruang bawah tanah yang lebih sejuk. “The notion that red wine must be served at room temperature is an outdated concept based on it being kept in the much cooler conditions of a cellar,” ujar Bartolotta.

Bila suhu naik melewati batas tertentu, Bartolotta menilai kualitas akan tertekan. Ia menjelaskan, “Temperatures over 18C are a “killer for any fine wine”.”

Untuk mengantisipasi itu, Willcocks menyarankan semua red wine masuk kulkas lebih singkat, sekitar 10 menit sebelum disajikan. “Willcocks recommends popping all red wines in the fridge for 10 minutes before serving,”.

Michael Sager, pendiri Sager + Wilde wine bar di London, menilai persoalan suhu sering disalahpahami dalam layanan anggur. Ia mengatakan, “Temperature is one of the most misunderstood variables in wine service,” dan menambahkan bahwa banyak red disajikan terlalu hangat.

Pada akhirnya, Bartolotta melihat praktik ini bukan sekadar tren. Ia menyimpulkan, “Chilling red wine is not so much a trend, he says, “it’s just correct service for the right wine.”