jurnalistik.co.id – Snow Patrol menutup dua dekade perjalanan “Chasing Cars” dengan kilas balik proses kreatif yang tak terduga, sekaligus membahas kolaborasi baru mereka bersama Kylie Minogue yang disebut Lightbody bukan duet.
Dalam wawancara yang mengupas perjalanan lagu “Chasing Cars” sejak awal lahir, Gary Lightbody menuturkan bagaimana sebuah sesi yang semula diarahkan untuk “orang lain” justru berubah menjadi momen yang mengubah arah karier mereka.
Dari sesi latihan yang “untuk orang lain” ke lagu yang mendunia
Lightbody mengingat masa 2005 saat ia menulis dengan anggapan lagu itu dikerjakan bukan untuk identitas Snow Patrol sendiri.
Ia menyebut ide itu muncul di sebuah garden shed milik teman sekaligus produser mereka, Jacknife Lee, ketika ia dan tim “menulis lagu yang sangat besar” seolah dikerjakan untuk pihak lain.
Menurut Lightbody, ia dan kru saat itu pernah mengatakan, “We wrote 10 songs in a couple of hours, over quite a few bottles of wine,” dan menambahkan bahwa pendekatan seperti itu meredakan tekanan karena tidak terpikirkan soal proses rekaman atau makna lagu kelak dalam hidup para penulisnya.
Namun setelah beberapa botol wine, ia menemukan rangkaian nada (chord sequence) dan sepotong lirik yang langsung mengubah suasana.
Ia teringat momen ketika ia tersandung pada kalimat, “ If I lay here / If I just lay here / Would you lie with me and just breathe in the world?” dan setelah itu, sesi tidak lagi terasa seperti pekerjaan untuk “orang lain”.
Lightbody menggambarkan bahwa mereka menemukan sesuatu yang akan “mengubah karier” Snow Patrol selamanya, lalu menjalankan prosesnya dengan keyakinan yang tumbuh dari lagu tersebut.
Ia mengutip, “It’s the song that took us to the whole world,” sebelum menyebut mereka “mengikutinya” seperti “little ducklings”.
Di luar kesan sederhana yang dibawa lagu ini, proses penyempurnaannya tidak instan.
Lightbody mengatakan mereka butuh berbulan-bulan untuk merapikan aransemen “Chasing Cars” yang terdengar mudah, termasuk fase ketika mereka sempat memainkan bagian lirik tanpa versi final.
Ia menuturkan, “We even played it live a few times without finished lyrics,” dan menambahkan, “I hope those recordings have been destroyed. Those early lyrics were bad.”
Ia juga menyebut rekaman awal itu ternyata tidak lenyap, dan versi embrioniknya bisa didengar dari rekaman yang muncul di YouTube pada masa tersebut.
Pada tahap awal, Lightbody juga mengaitkan lirik yang muncul dengan cerita pribadi: saat itu ia sedang berharap pada seorang perempuan yang menolaknya.
Ia menggambarkan nuansanya lewat lirik yang ia kutip, “ You come to me / With these three words / ‘Not right now’. ”
Alur romantis itu kemudian bergeser, tetapi asal-usul nama “Chasing Cars” tetap membawa konteks yang ia kaitkan pada ungkapan dari ayahnya.
Ia menceritakan ayahnya berkata, “You’re like a dog chasing a car. You’ll never catch it and you wouldn’t know what to do with it if you did.”
Rilis 2006, meledak setelah tampil di “Grey’s Anatomy”
Versi final “Chasing Cars” kemudian dirilis sebagai singel kedua dari album keempat Snow Patrol, “Eyes Open”, pada Juni 2006.
Lightbody menyebut lagu ini berkembang perlahan sebagai hit, lalu mencapai puncak di nomor enam tangga lagu singel.
Menurut ceritanya, lonjakan besar benar-benar terjadi setelah lagu itu digunakan dalam drama medis AS, “Grey’s Anatomy”.
Di hari ini, “Chasing Cars” menorehkan statistik yang jarang terjadi: lagu tersebut telah streaming lebih dari dua miliar kali, dan pada 2019 dinobatkan sebagai lagu radio paling sering diputar di Inggris untuk abad ke-21.
Selain itu, lagu itu juga dicatat sebagai lagu terlaris kedelapan di Inggris pada dekade 2000-an dengan penjualan 1,2 juta kopi.
Lightbody menanggapi angka tersebut dengan rasa tak percaya, seraya berkata, “The numbers are ridiculous,” sebelum menambahkan, “It doesn’t make any sense in any kind of real way where you can go, ‘These are the things that we did to become successful’.”
Ia menutup penjelasan dengan kalimat, “All of it happened by accident.”
Tahun ini, Snow Patrol akan merayakan 20 tahun “Chasing Cars” lewat dua konser di Royal Albert Hall.
Mereka akan memainkan “Eyes Open” secara penuh, ditambah beberapa “deep cuts” dan lagu-lagu terbaik mereka, serta kemungkinan mengundang bintang tamu khusus.
Titik balik besar dan album “The Forest is the Path”
Kisah perayaan itu datang setelah perubahan besar di tubuh band.
Pada 2023, drummer Jonny Quinn dan bassist Paul Wilson memutuskan untuk berhenti.
Lightbody bersama sisa formasi—yakni ia sendiri, gitaris Nathan Connolly, serta Jonny McDaid yang juga berperan sebagai multi-instrumentalist dan dikenal sebagai kolaborator utama Ed Sheeran—berusaha menulis album baru, tetapi sesi tidak berjalan mulus.
Lightbody menggambarkan bahwa arus lagu tidak mengalir, kepercayaan diri mereka turun drastis, dan itu menjadi pengalaman pertama yang memaksa mereka menyadari situasi yang mereka hadapi.
Ia menegaskan, “It’s the first time we ever had to do it,” dan menjelaskan bahwa bila harus merombak setelah 30 tahun sebagai band, seseorang bisa berpikir, “We might as well pack up and go home”.
Berita Terkait
Bagi Lightbody, momen itu menjadi semacam “sliding doors moment”, ketika versi lain dari perjalanan hidup mereka bisa saja berakhir dengan bubar, tetapi kelompok yang sekarang ada memilih untuk mencoba lagi.
Ia menuturkan, “So that was a kind of a sliding doors moment, where in another strand of the multiverse, we’re not together anymore. But this version of us went, ‘No, let’s try again’.”
Proses pemulihan mendapatkan katalis lewat perekrutan Fraser T Smith—produser yang sebelumnya menggarap Adele dan Stormzy.
Lightbody menyebut pengaruh Smith sebagai sesuatu yang “calming” dan membantu mereka memusatkan kembali arah.
Hasilnya adalah album “The Forest is the Path” yang dirilis pada 2024, dan album itu memberi Snow Patrol ulasan terbaik dalam 20 tahun terakhir.
Ia mengutip penilaian dari The Telegraph, “It grips my heart and squeezes,” serta menyebut bagaimana AllMusic menggambarkan album itu sebagai “a late-era treasure trove,” lengkap dengan “emotional catharsis and introspection”.
Di album tersebut, Lightbody—yang berhenti minum alkohol dan sebelumnya pindah dari Los Angeles kembali ke kota asalnya, Bangor—mencatat pergulatan batin yang berkaitan dengan kehilangan ayah dan penilaian ulang terhadap hidupnya.
Ia mengatakan, “I spent so many years not understanding myself and not understanding what was going on in my own head,” lalu melanjutkan dengan perasaan yang ia anggap seperti bisikan batin.
Ia mengurai ketakutan itu lewat kalimat, “I was always waiting for that tap on the shoulder to say, ‘You’re not supposed to be here. All this [success] was meant to be for somebody else’.”
Rasa itu, menurutnya, tidak sepenuhnya hilang.
Namun ia merasa lebih nyaman dengan dirinya setelah berhenti total pada 2016, mengganti alkohol dengan kebiasaan seperti cold water plunges dan hot yoga.
Kylie Minogue dan “These Alarms” yang disebut Lightbody bukan duet
Di tengah rangkaian perubahan dan pemulihan itu, Lightbody juga meraih ambisi seumur hidup: merekam lagu bersama Kylie Minogue.
Kylie bergabung dengan Snow Patrol di atas panggung pekan lalu di Crystal Palace untuk memulai pemutaran kolaborasi baru mereka yang berjudul “These Alarms”.
Lightbody menuturkan, “I’ve been a huge fan ever since I went to the Féile [festival] in Cork in ’95 and saw Kylie on that bill with the Prodigy and Blur,” dan ia menambahkan bahwa ia mendengar kabar dari lingkungan sekitar bahwa Kylie tengah mencari satu atau dua lagu.
Ia melanjutkan, “I’d heard on the grapevine that she was looking for a song or two, so I set about writing some.”
Ia menyebut lagu yang akhirnya menarik perhatian Kylie adalah “These Alarms”.
Lightbody juga menegaskan cara bernyanyi mereka bersama—bukan bertukar baris—melainkan menyanyikan seluruh lagu dalam unison.
Ia menyampaikan bahwa “These Alarms” bahkan semestinya tidak dianggap benar-benar lagu Snow Patrol.
Ia berkata, “The song was always called KYLIE – in all capital letters – all the way through the recording,” dan menambahkan, “I don’t even know if you could call it a duet. It’s more like we formed a band for this one.”
Menurutnya, penyelarasan vokal seperti itu masuk akal karena tema lagu berfokus pada keterhubungan.
Dalam liriknya, ada pengakuan tentang godaan untuk menarik diri saat dunia sedang berada dalam kondisi seperti sekarang, tetapi titik tekan sebenarnya adalah kebutuhan untuk saling hadir.
Ia menjelaskan makna judul melalui kalimat, “The title, These Alarms, can mean a lot of things,” lalu menuturkan, “For me, they’re the ones that were ringing in my head when I wasn’t sober.”
Lightbody kemudian memperjelas bagian dari pencarian pribadinya, “I spent my whole life playing concerts, but not really being ‘in concert’ [with other people] in a meaningful way.”
Ia melanjutkan dengan gagasan bahwa selama ini ia mencari sesuatu tanpa benar-benar memahami apa itu, sebelum menyadari bahwa jawaban yang dicari selama hidup ternyata ada di sekelilingnya.
Ia merangkum lewat kalimat, “I was always searching for something, but I didn’t really know what it was… And then it turned out I had it all along.”
Entropi yang berbalik: persahabatan sebagai keadaan alami band
Jawabannya, bagi Lightbody, adalah persahabatan—dan orang-orang yang ia butuhkan justru berdiri di panggung yang sama.
Ia mengungkap pandangannya tentang dinamika band lewat kalimat, “The natural state for bands is entropy. Everything falls to chaos,” sebelum menegaskan bahwa untuk mereka situasinya justru berjalan sebaliknya.
Ia menyebut, “But it’s kind of amazing, because it’s happened the other way around for us,” lalu menambahkan perbandingan, “We’re not Emerson, Lake and Palmer travelling in separate buses. We’re closer than ever.”
Keyakinan itu terasa dalam musik dan cara mereka tampil.
Setelah lebih dari 30 tahun, penonton masih datang untuk merasakan emosi yang dibawa Snow Patrol.
Lightbody mencontohkan konser outdoor di Pier Head, Liverpool, bulan lalu, ketika ribuan penggemar yang tak mendapat tiket tetap hadir.
Ia menuturkan, “There was an enclosure for the 12,000 people that bought tickets – but at one point, I said, ‘put your lights up’, and I looked down the street, and it was just lights all the way down,” lalu menilai bahwa inti musik mereka adalah undangan tanpa jarak.
Ia menutup dengan gambaran yang menekankan keterbukaan, “I think that’s the key to our music, in a general sense. It’s an invitation. There’s no jackets for this club, there’s no secret codes. It’s like, ‘just come and be with us’.”








