jurnalistik.co.id – Jelang penutupan jendela transfer musim panas 2026, perhatian langsung tertuju pada satu pertanyaan besar: apakah Arsenal sudah cukup punya amunisi untuk menantang juara bertahan, sementara rival-rival mereka sibuk membongkar dan membangun skuat demi menjaga persaingan di Premier League?
Arsenal mengawali musim baru dengan dua kemenangan saat bursa ditutup, dan posisi mereka terlihat semakin “mengintimidasi” bagi lawan. The Gunners tampil meyakinkan sejak awal, tetapi persaingan gelar tentu tidak hanya ditentukan oleh apa yang sudah dilakukan, melainkan juga oleh belanja yang terselesaikan hingga menit terakhir.
Arsenal: Julián Álvarez gagal, tapi fondasinya tetap kuat
Hari terakhir Arsenal di bursa justru tergolong tenang, karena mereka menyelesaikan rencana sebelum tradisi “late rush” yang biasanya paling ramai. Namun, ambisi merekrut penyerang Atletico Madrid asal Argentina, Julián Álvarez, tidak berbuah sesuai harapan.
Upaya Arsenal untuk membawa Álvarez dari Diego Simeone kandas setelah impian kepindahan pemain itu ke Barcelona ditolak tegas oleh hierarki Atletico. Alhasil, Arsenal hanya memperoleh harapan bahwa Álvarez mungkin mengambil opsi satu-satunya yang tersisa untuk hengkang.
Pada akhirnya, tidak ada kesepakatan yang terjadi. Meski demikian, Phil McNulty menilai satu-satunya “cacat” yang mungkin menonjol dari komposisi Arsenal saat ini adalah konsistensi ancaman lini depan—apakah mereka memiliki penyerang dengan daya gedor yang benar-benar stabil di semua pertandingan.
Di luar itu, Arsenal terlihat solid di berbagai aspek. Mereka meraih kemenangan atas Coventry City dan juga sukses mengalahkan Aston Villa di dua laga awal liga, serta membongkar Manchester City di Community Shield.
Dengan modal keberhasilan musim lalu—ketika Arsenal menjuarai Premier League untuk pertama kalinya dalam 22 tahun dan menembus final Liga Champions—mereka menutup jendela transfer dengan kualitas yang dinilai mampu membangun kesinambungan. Arsenal juga masih dianggap tim yang paling siap untuk menjadi penantang terdekat di akhir bursa.
Manchester City: rebuild besar setelah era Guardiola berakhir
Manchester City mengalami perubahan besar, dari sisi kepemimpinan hingga personel inti. Pep Guardiola digantikan setelah memimpin selama 10 tahun, sementara Enzo Maresca hadir sebagai penerus.
Di saat yang sama, beberapa figur penting dari masa kejayaan juga pergi: Rodri, Bernardo Silva, John Stones, dan Jack Grealish. Pergantian tidak berhenti di situ, karena Savio, Omar Marmoush, Nico Gonzales, James Trafford, Nathan Aké, dan Tijjani Reijnders turut menjadi bagian dari daftar yang keluar.
Namun, City tidak membiarkan ambisi mereka meredup. Mereka justru menyerbu pasar untuk mengisi slot yang ditinggalkan, dan langkah belanjanya mencerminkan target besar jelang “title tilt”.
City membayar £125m—setara rekor transfer Inggris Raya—untuk menyatukan kembali Maresca dengan Enzo Fernández. Mereka sebelumnya juga sudah mengeluarkan £116m untuk merekrut Elliot Anderson dari Nottingham Forest.
Transaksi berkualitas kembali datang lewat Iliman Ndiaye dari Everton senilai £65m. Lalu, ada Ayyoub Bouaddi, pemain muda Maroko berusia 18 tahun, yang ditebus dari Lille dengan harga £85.6m. City juga menambahkan Allan Elias dari Palmeiras di Brasil.
Totalnya, pengeluaran City menembus angka £458m untuk satu jendela transfer Premier League, sekaligus melampaui rekor sebelumnya milik Liverpool, yakni £415m dari musim panas lalu. Meski demikian, City juga mencatat sekitar £300m dari penjualan pemain di musim panas ini, memperlihatkan adanya pergantian skuat yang sangat masif di awal era setelah Guardiola.
Dengan dinamika tersebut, City dinilai tetap berada dalam kondisi yang layak untuk melancarkan tantangan serius. Di tengah transisi, rekrutmen yang masuk disebut memberi mereka bekal yang cukup untuk mengejar konsistensi hasil.
Chelsea: kehilangan Fernández, tapi Alonso tetap dapat amunisi
Rentetan transfer juga berdampak pada Chelsea. Mereka mungkin kehilangan Enzo Fernández ke Manchester City dengan harga £125m pada jam-jam terakhir, tetapi daftar belanja yang sudah dijalankan di musim panas ini tetap dianggap menggembirakan bagi manajer baru, Xabi Alonso.
Alonso memulai musim dengan dua kemenangan Premier League. Di laga pembuka melawan Fulham, penampilan kiper Robert Sánchez menjadi dasar keputusan untuk akhirnya menyelesaikan masalah jangka panjang dengan merekrut Emiliano Martínez dari Aston Villa.
Masuk-keluar pemain di Chelsea memang terasa terlalu banyak untuk disebut satu per satu, tetapi Morgan Rogers menjadi nama yang langsung menonjol. Rogers didatangkan dengan nilai £117m dari Aston Villa dan sudah membentuk trio menyerang yang ditopang Cole Palmer serta Joao Pedro.
Selain itu, Maxence Lacroix hadir sebagai tambahan berkualitas di lini pertahanan. Dalam strategi yang bergeser menuju pengalaman, Jordan Henderson dan Danny Welbeck juga didatangkan untuk menambah elemen kedewasaan dan profesionalisme di ruang ganti.
Di akhir bursa, Chelsea juga bergerak untuk mencari tambahan, namun mereka kecewa setelah Monaco membatalkan langkah untuk Lamine Camara. Camara disebut terkait dengan perpindahan yang akhirnya tidak jadi terjadi, terutama ketika Fernández telah lebih dulu berangkat ke City.
Dengan skuat yang besar dan ketiadaan kompetisi Eropa untuk menjadi distraksi, Chelsea bersama Alonso dinilai mungkin punya kualitas untuk tetap berada dalam jarak persaingan, meski posisinya masih tergolong sebagai pihak yang berada di luar favorit.
Liverpool: Barcola jadi target, namun celah lama belum benar-benar ditutup
Berita Terkait
Liverpool menjalani musim panas dengan perubahan arah di bangku pelatih. Andoni Iraola ditunjuk menggantikan Arne Slot yang dicopot.
Di saat yang sama, kepergian Mohamed Salah menjadi kehilangan besar di skuat. Liverpool menanggapi dengan Bradley Barcola sebagai target utama, dan mereka menuntaskan transfer pemain itu dari Paris Saint-Germain senilai £123m.
Barcola dikenal punya kecepatan, kreativitas, dan kemampuan mencetak gol. Meski begitu, ia tidak dipandang sebagai pengganti satu lawan satu untuk Salah, karena ia cenderung beroperasi di sisi kiri.
Victor Munoz—bagian dari skuad Spanyol yang menjadi juara Piala Dunia—juga disebut sebagai opsi sayap lain yang sudah menunjukkan kualitasnya. Ia menorehkan penyama kedudukan spektakuler dalam hasil imbang 2-2 melawan Nottingham Forest.
Strategi Liverpool, menurut naskah tersebut, bukan hanya mengganti sosok penyerang tunggal, tetapi mencari cara agar gol hadir dari posisi sayap dan area lain. Ide ini tampak sejalan dengan gaya yang ingin dibangun, namun awal musim langsung menguji klaim tersebut.
Draw pembuka melawan Newcastle United dan Forest memperlihatkan adanya kekurangan yang “mengakar” dari musim lalu. McNulty menegaskan, kelemahan yang sempat menenggelamkan mereka di bawah permukaan belum benar-benar ditutup.
Lebih spesifik, ketiadaan gelandang nomor “6” yang natural dinilai bisa menjadi celah yang menghambat Liverpool untuk memperbaiki pertahanan gelar yang buruk pada musim lalu.
Manchester United: rotasi lini tengah, tapi jarak dari titel masih jauh
Manchester United mengubah fokus belanja mereka. Setelah musim panas lalu menyasar serangan dengan Benjamin Sesko, Bryan Mbeumo, dan Matheus Cunha, kali ini mereka melakukan pembaruan di lini tengah.
Youri Tielemans, Andrey Santos, dan Carlos Baleba didatangkan untuk mengisi skema yang ingin dibangun. Lalu muncul pertanyaan: apakah ini cukup untuk menjadikan United kandidat serius menantang juara?
Jawaban yang diberikan cenderung pesimistis. Michael Carrick kini memegang kendali permanen setelah membawa United finis ketiga dan kembali masuk Liga Champions menyusul pergantian Ruben Amorim yang sempat menjabat sebagai caretaker.
Namun, start musim United justru campur aduk: mereka kalah dari Hull City yang baru promosi, sebelum mengalahkan Ipswich Town dengan skor 5-2. United juga disebut tidak melakukan langkah larut pada akhir bursa, sehingga komposisi Carrick dinilai lebih realistis untuk kembali mengincar posisi empat besar, bukan bertarung memperebutkan titel.
Tottenham: window gemilang, tetapi mental bertanding jadi tantangan
Tersisa “yang terbaik dari yang lain”, Tottenham disorot karena belanjanya yang terbilang spektakuler. Mereka menghabiskan lebih dari £300m dalam jendela transfer, tetapi hasil di liga sejauh ini justru belum memenuhi ekspektasi.
Tottenham mengalami dua kekalahan liga: di laga tandang mereka takluk dari Brentford, dan di kandang mereka juga kalah dari Newcastle United. Roberto De Zerbi disebut mendapatkan dukungan besar hingga penutupan bursa, saat ia berhasil menghadirkan Mykhailo Mudryk.
Mudryk sebelumnya bermain di bawah De Zerbi saat di Shakhtar Donetsk. Pemain itu juga disebut sudah menyelesaikan kasus doping bersama Football Association pada bulan Juli, tetapi belum tampil dalam pertandingan kompetitif sejak November 2024.
De Zerbi kini perlu menyusun kesatuan tim dari banyak wajah baru—10 pemain termasuk Tosin Adarabioyo yang datang dari Chelsea—agar skuad yang terbentuk bisa menyatu secara taktik. Tugas terbesar De Zerbi disebut berhubungan dengan mengubah mental kalah yang tercermin dari finis Tottenham di urutan ke-17 pada dua musim terakhir.
Aston Villa: era baru setelah suksesor keluar, tujuan tetap top four
Aston Villa memulai fase baru setelah musim yang luar biasa di bawah Unai Emery. Mereka finis keempat dan menjuarai Europa League dalam satu musim penuh keberhasilan yang mengejutkan.
Meski demikian, musim panas ini menandai perubahan besar karena kiper Emiliano Martínez, Lucas Digne, Ezri Konsa, Morgan Rogers, Youri Tielemans, serta striker Ollie Watkins pergi dari Villa Park. Pergantian dimulai dengan kedatangan Zion Suzuki, penjaga gawang asal Jepang, yang disebut menggantikan Martínez.
Villa juga mendatangkan Taylor Harwood-Bellis dari Southampton, Aaron Wan-Bissaka dari West Ham United dengan status pinjaman, serta Matteo Ruggeri dari Atletico Madrid. Dari Freiburg, ada Johan Manzambi, pemain tengah asal Swiss, sementara sayap Ibrahim Mbaye didatangkan dari Paris Saint-Germain.
Di sektor depan, Villa merekrut Nicolas Jackson dari Chelsea dan menambah pengalaman lewat Leon Goretzska. Rebuild di Villa kemudian dilengkapi Joao Gomes dari Wolverhampton Wanderers dan Alejandro Garnacho yang dipinjam dari Chelsea.
Meski membutuhkan waktu bagi Emery untuk membentuk tim barunya, Villa disebut sudah memperoleh bahan untuk kembali mengejar target top four.
Dengan rangkaian perubahan di beberapa klub terbesar, bursa transfer kali ini meninggalkan pertanyaan yang sama namun dengan jawaban yang berbeda: siapa yang benar-benar cukup siap mempertahankan momentum, dan siapa yang masih memerlukan waktu untuk menyatukan skuat baru? Di titik ini, Arsenal tetap terlihat berada di jalur paling dekat, sementara rival-rivalnya justru menunjukkan bahwa menantang juara tidak pernah soal satu transaksi—melainkan kesiapan menyusun identitas permainan setelah pergantian besar terjadi.











