jurnalistik.co.id – Arsenal memulai Premier League dengan dua kemenangan saat bursa transfer sudah benar-benar ditutup. Kondisi ini mengingatkan bahwa Mikel Arteta dan skuadnya berpeluang mempertahankan mahkota yang musim lalu mereka raih untuk pertama kalinya dalam 22 tahun.
Namun, perebutan gelar jarang selesai hanya dengan kesiapan satu tim. Penantang kini punya pekerjaan tambahan: memastikan belanja di jendela transfer cukup untuk mengganggu jalan juara bertahan meraih titel kedua beruntun.
Di sisi Arsenal, mereka terlihat menyelesaikan urusan lebih awal tanpa menunggu gelombang belanja menit terakhir. Keheningan itu membuat perhatian bergeser ke satu pertanyaan: apakah rival sudah melakukan perombakan yang benar-benar berarti untuk menekan peluang Arsenal.
Arsenal sempat membidik Julian Alvarez, penyerang Argentina dari Atletico Madrid. Upaya untuk membujuk Alvarez agar meninggalkan rute favoritnya ke Barcelona tidak membuahkan hasil karena hierarki Atletico menutup peluang itu dengan tegas—sehingga harapan Arsenal sempat tinggal pada kemungkinan Alvarez mengambil satu-satunya opsi jika akhirnya memutuskan hengkang dari Diego Simeone.
Pada akhirnya, kesepakatan tidak terjadi. Karena itu, satu hal yang terus mengemuka dalam skuad Arsenal adalah apakah mereka membawa ancaman ujung tombak yang konsisten di depan.
Di lapangan, Arsenal memberi sinyal bahwa mereka tetap kuat di banyak aspek permainan. Mereka melibas Coventry City dan meraih kemenangan atas Aston Villa pada dua laga liga pembuka, sebelum juga membongkar Manchester City di Community Shield.
Keberhasilan musim lalu—menjuarai Premier League dan mencapai final Champions League—menjadi pijakan untuk membangun lanjutan. Di jendela kali ini, Bruno Guimaraes menjadi pembelian yang langsung menambah daya gedor dan intensitas permainan.
Guimaraes didatangkan dari Newcastle United dengan nilai ÂŁ75m. Dalam penampilan singkat saat Arsenal menang 1-0 atas Aston Villa, ia sudah menunjukkan apa yang akan dibawa: umpan yang memotong pertahanan tuan rumah dan temperamen kompetitif yang tajam.
Di lini belakang, Ezri Konsa juga membawa kualitas instan setelah pindah dari Aston Villa. Sementara Christos Tzolis sempat menjalani malam sulit di Villa Park, lalu ditarik pada jeda, ia tetap sudah memperlihatkan potensi menjadi aset penting di sisi kiri.
Bukan berarti ini persis “No Alvarez No Problem”. Tetapi dengan paket yang telah dirapikan sepanjang musim panas, Arsenal terlihat sebagai tim yang paling siap untuk kembali meraih titel ketika jendela transfer resmi selesai.
Man City: transisi besar, belanja rekor, dan pergantian era
Jika Arsenal bergerak lebih tenang, Manchester City justru menjalani perubahan yang jauh lebih massif. Setelah 10 tahun bersama Pep Guardiola, mereka berpisah dan Enzo Maresca mengambil alih, sementara beberapa figur kunci di era kejayaan juga pergi.
Rodri, Bernardo Silva, John Stones, dan Jack Grealish termasuk di antara nama yang meninggalkan Etihad. Daftar kepergian juga melebar ke Savio, Omar Marmoush, Nico Gonzales, James Trafford, Nathan Ake, serta Tijjani Reijnders.
Meski ada pergantian besar, ambisi City tidak meredup. Mereka menyerang pasar dengan agresivitas untuk mengisi kekosongan dan menyiapkan tim bagi dorongan gelar.
City membayar £125m—setara rekor transfer Inggris—untuk menyatukan kembali Maresca dengan Enzo Fernandez, dan ini membuat mantan pelatih Chelsea itu kembali bekerja bersama pemain yang kini bergabung ke proyek City. Sebelumnya, City juga sudah menggelontorkan £116m untuk mendatangkan Elliot Anderson, gelandang Inggris dari Nottingham Forest.
Langkah lanjutan datang lewat Iliman Ndiaye dari Everton seharga ÂŁ65m. City juga menghadirkan Ayyoub Bouaddi, pemain muda Maroko berusia 18 tahun, yang dibeli dari Lille senilai ÂŁ85.6m, serta Allan Elias dari Palmeiras di Brasil.
Secara keseluruhan, ini adalah rekonstruksi besar yang terasa menyeluruh. Dengan paket Fernandez, pengeluaran City menembus rekor Premier League untuk satu jendela, mencapai £458m—melampaui Liverpool yang menghabiskan £415m pada musim panas sebelumnya.
City juga mencatat sekitar ÂŁ300m dari penjualan pemain selama musim panas ini. Angka itu menggambarkan besarnya rotasi di awal era pasca-Guardiola.
Jendela yang penuh peristiwa ini akhirnya menempatkan City dalam kondisi yang cukup kuat untuk tampil sebagai penantang serius.
Chelsea: Xabi Alonso mendapat amunisi, masalah lama diperbaiki lewat kiper
Chelsea memang harus menerima bahwa Enzo Fernandez hengkang ke Manchester City dengan nilai ÂŁ125m di jam-jam terakhir. Meski demikian, kerja rekrutmen mereka sepanjang musim panas tetap membuat manajer baru Xabi Alonso merasa lega.
Alonso memulai musim dengan dua kemenangan Premier League. Pada laga awal melawan Fulham, penampilan Robert Sanchez mendorong keputusan untuk menyelesaikan problem panjang di posisi penjaga gawang dengan merekrut Emiliano Martinez dari Aston Villa.
Daftar kedatangan dan kepergian di Chelsea terlalu banyak untuk ditulis singkat. Tetapi Morgan Rogers sudah langsung terasa, karena ia diboyong dari Aston Villa seharga ÂŁ117m dan membentuk trio menyerang yang menyeramkan bersama Cole Palmer serta Joao Pedro.
Berita Terkait
Di lini pertahanan, Maxence Lacroix juga didatangkan sebagai tambahan yang dinilai berkualitas. Dalam perubahan strategi, veteran Jordan Henderson dan Danny Welbeck dibawa masuk untuk menambah pengalaman dan profesionalisme mereka di ruang ganti Chelsea.
Menjelang akhir jendela, Chelsea juga mencari peluang tambahan. Namun, mereka kecewa ketika Monaco menarik diri dari rencana mendatangkan Lamine Camara, gelandang yang sangat dihargai, tepat saat Fernandez sudah berlabuh ke City.
Skuad besar Chelsea tidak akan terganggu tawaran sepak bola Eropa, sehingga Alonso dan klub bisa percaya pada kualitas mereka untuk berada dekat persaingan—meski tetap berstatus outsider.
Liverpool: kompensasi absennya Salah dan sorotan pada pola masalah lama
Liverpool punya tugas utama di musim panas ini setelah Andoni Iraola menggantikan Arne Slot yang dipecat. Mereka harus mengantisipasi apa yang akan hilang tanpa Mohamed Salah, yang meninggalkan Anfield pada akhir musim lalu.
Bradley Barcola menjadi target utama dan akhirnya ditebus dari Paris Saint-Germain dengan nilai £123m. Ia membawa kecepatan, kreativitas, dan gol, tetapi bukan pengganti sejenis untuk Salah—Barcola lebih memilih beroperasi di sisi kiri.
Victor Munoz, anggota skuad Spanyol yang menjuarai Piala Dunia, turut didatangkan sebagai opsi sayap. Ia sudah menunjukkan apa yang bisa ia berikan dengan gol penyama kedudukan yang spektakuler dalam hasil 2-2 melawan Nottingham Forest.
Alih-alih sekadar mencari pengganti Salah, strategi Liverpool adalah menemukan jalan agar gol lahir dari posisi sayap dan area lain, bukan hanya bertumpu pada satu pemain untuk menggantikan sosok sang pemain Mesir.
Semua rencana itu terdengar masuk akal, tetapi dua hasil imbang awal melawan Newcastle United dan Forest menunjukkan bahwa kekurangan yang pernah menenggelamkan mereka musim lalu belum benar-benar ditangani. Sorotan juga jatuh pada tidak adanya figur nomor “6” yang natural.
Manchester United: peremajaan lini tengah, tetapi kandidat juara belum tampak
Setelah musim lalu fokus pada lini serang dengan Benjamin Sesko, Bryan Mbeumo, dan Matheus Cunha, jendela United kali ini lebih banyak tentang pembaruan lini tengah. Youri Tielemans, Andrey Santos, dan Carlos Baleba didatangkan untuk menyegarkan susunan permainan.
Namun, pertanyaan praktisnya adalah apakah langkah tersebut cukup untuk membuat United menjadi penantang serius. Michael Carrick membawa mereka finis ketiga dan kembali ke Liga Champions musim lalu setelah menggantikan Ruben Amorim dalam kapasitas caretaker, sehingga perubahan memang seharusnya membawa dampak.
Carrick kini menangani tugas secara permanen, tetapi awal musim tetap tidak mulus. United kalah dari Hull City yang baru promosi sebelum meraih kemenangan 5-2 atas Ipswich Town yang juga pendatang baru di Premier League.
United memutuskan tidak melakukan pergerakan terlambat, sehingga skuad Carrick terlihat lebih realistis sebagai penantang top four lagi—namun tidak berada sedekat itu dengan titel.
Tottenham dan Aston Villa: investasi besar, tantangan menyatu jadi pekerjaan utama
Di luar daftar utama, Tottenham Hotspur menjalani bursa yang spektakuler karena pengeluaran mereka lebih dari ÂŁ300m. Tetapi hasil setakat ini belum sejalan: mereka menelan dua kekalahan liga, sekali saat tandang ke Brentford dan sekali saat menjamu Newcastle United.
Roberto De Zerbi mendapat dukungan besar hingga penutupan jendela. Keinginan itu terwujud ketika ia membawa Mykhailo Mudryk yang pernah bermain di bawahnya di Shakhtar Donetsk.
Mudryk menyelesaikan kasus doping bersama Football Association pada bulan Juli, tetapi belum bermain dalam pertandingan kompetitif sejak November 2024. De Zerbi harus meramu banyak wajah baru—tercatat ada 10 pemain dengan kedatangan Tosin Adarabioyo dari Chelsea—agar menjadi unit yang koheren, dan skuad ini menyimpan janji.
Meski begitu, tugas terbesar De Zerbi adalah membuat Spurs meninggalkan mentalitas kalah yang membuat mereka finis 17th dalam dua musim terakhir.
Di Aston Villa, era baru juga dimulai. Penjaga gawang Emiliano Martinez, Lucas Digne dan Konsa di lini belakang, Morgan Rogers dan Youri Tielemans di lini tengah, serta striker Ollie Watkins semuanya meninggalkan klub.
Zion Suzuki, penjaga gawang Jepang dari Parma, menggantikan Martinez. Villa sebelumnya finis keempat dan menjuarai Europa League dalam musim yang sangat sukses di bawah Unai Emery, tetapi perubahan ini menandai awal era baru di Villa Park.
Selain itu, Villa merekrut Taylor Harwood-Bellis dari Southampton, Aaron Wan-Bissaka dari West Ham United dengan status pinjaman, serta Matteo Ruggeri dari Atletico Madrid. Dari Freiburg, mereka menghadirkan Johan Manzambi, lalu mendatangkan Ibrahim Mbaye dari Paris Saint-Germain, Nicolas Jackson dari Chelsea, dan Leon Goretzska yang berpengalaman dari Jerman.
Perombakan terus dilanjutkan dengan Joao Gomes dari Wolverhampton Wanderers dan Alejandro Garnacho yang dipinjam dari Chelsea. Emery akan butuh waktu untuk membentuk tim barunya, tetapi klub memberinya materi agar dapat bekerja lagi menuju target top four.
Dengan seluruh urusan transfer ditutup hingga Januari, pertanyaan besar tetap sama: apakah rival Arsenal sudah melakukan perubahan yang cukup untuk mencegah Arteta meraih titel kedua berturut-turut, atau Arsenal justru tetap yang paling siap hingga akhir musim.











