Bisnis & Ekonomi

Airlangga: Rupiah Nyaris Rp18.000 per US$ dan Pemerintah Genjot Penguatan Nilai Tukar

×

Airlangga: Rupiah Nyaris Rp18.000 per US$ dan Pemerintah Genjot Penguatan Nilai Tukar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Nyaris Rp18.000/US$, Airlangga Ungkap Jurus Kuatkan Rupiah - Market

jurnalistik.co.id – Nilai tukar rupiah kembali berada di area tekanan setelah mulai mendekati level Rp18.000 per US$. Dalam perdagangan Senin (28/9/2026), pergerakan mata uang domestik menunjukkan kecenderungan melemah seiring sentimen yang datang dari pasar keuangan.

Airlangga Hartarto merespons pelemahan tersebut dengan menekankan komitmen pemerintah untuk memantau kondisi nilai tukar. Menurutnya, langkah yang ditempuh juga diarahkan agar rupiah bisa terjaga sekaligus diperkuat.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah melemah 0,46% ke posisi Rp17.975/US$. Pada instrumen pasar derivatif, posisi rupiah di Non-Deliverable Forwards (NDF) juga ikut melemah, sebesar 0,24% menjadi Rp17.997/US$.

Tekanan yang membayangi pasar tidak hanya berasal dari pergerakan mata uang, tetapi juga mencerminkan dinamika pasar keuangan domestik. Di saat yang sama, terdapat tekanan jual di pasar obligasi global yang turut memengaruhi ekspektasi investor terhadap aset berisiko.

Menko Perekonomian itu menyampaikan pemerintah akan terus memonitor perkembangan nilai tukar. Pernyataan tersebut disampaikan usai pertemuan Airlangga dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara Jakarta, Senin (28/9/2027).

Airlangga menyatakan, salah satu strategi penguatan rupiah adalah meningkatkan volume ekspor untuk menambah devisa negara. Ia menegaskan pemerintah akan menggenjot ekspor agar pemasukan devisa meningkat.

“Ya kita monitor dulu. Pemerintah tentu kita akan menggenjot ekspor supaya devisa meningkat,” ujar Airlangga.

Dalam pertemuan itu, Airlangga juga menyebut Presiden memberikan arahan kepada para pembantunya agar menjaga stabilitas makro ekonomi dan situasi secara keseluruhan. Arahan tersebut mencakup perhatian terhadap nilai tukar rupiah, yang dinilai perlu terus dikawal agar tidak berlarut dalam tekanan.

Monitor pasar dan jaga stabilitas makro

Menurut Airlangga, pendekatan yang diambil berawal dari pemantauan kondisi yang sedang berlangsung. Dengan begitu, pemerintah dapat menilai apakah tekanan yang muncul lebih bersifat sementara atau membutuhkan respons kebijakan yang lebih terarah.

Pelemahan rupiah yang bergerak mendekati Rp18.000/US$ menjadi penanda bahwa pergerakan mata uang sudah merespons berbagai faktor eksternal. Meski begitu, pemerintah berupaya memastikan kondisi tetap terkendali dan tidak mengganggu stabilitas ekonomi secara lebih luas.

Pada saat yang sama, pergerakan di NDF menunjukkan bahwa pelaku pasar juga menilai prospek rupiah masih menghadapi tantangan. Kontrak NDF yang melemah mengindikasikan adanya penyesuaian ekspektasi terhadap nilai tukar dalam jangka pendek.

Ekspor sebagai penggerak devisa

Lebih lanjut, Airlangga mengaitkan penguatan rupiah dengan peningkatan devisa melalui ekspor. Ia menempatkan ekspor sebagai salah satu kunci untuk memperkuat posisi nilai tukar di tengah sentimen yang datang dari luar negeri.

Upaya menggenjot ekspor, seperti yang disampaikan Airlangga, diarahkan agar aliran devisa semakin kuat. Dengan peningkatan devisa, diharapkan tekanan terhadap rupiah dapat berkurang seiring membaiknya dukungan fundamental.

Dalam konteks perdagangan Senin (28/9/2026) ketika rupiah mendekati Rp18.000/US$, kombinasi antara pemantauan dan kebijakan penguatan devisa menjadi fokus yang disebut pemerintah. Langkah ini ditempatkan sebagai upaya menjaga agar stabilitas nilai tukar tetap berjalan beriringan dengan stabilitas makro ekonomi.

Dengan kondisi pasar yang masih dipengaruhi sentimen global dan tekanan jual di obligasi internasional, pemerintah memilih untuk tidak hanya mengandalkan respons jangka pendek. Pemantauan yang disebut Airlangga menjadi dasar bagi pengambilan langkah lanjutan, terutama yang berkaitan dengan penguatan ekspor.

Di tengah pelemahan yang tercermin dari data Bloomberg pada posisi Rp17.975/US$ serta NDF di Rp17.997/US$, pesan utama Airlangga adalah pengawalan berkelanjutan. Strategi tersebut bertujuan memastikan rupiah tetap terjaga, bahkan diperkuat, melalui peningkatan devisa dan pengarahan kebijakan yang konsisten.