Bisnis & Ekonomi

Rupiah Sentuh Rp18.013/US$ di Pasar Luar Negeri, Yield INDON Tertinggi Sejak 2023

×

Rupiah Sentuh Rp18.013/US$ di Pasar Luar Negeri, Yield INDON Tertinggi Sejak 2023

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Tembus Rp18.013/US$, Yield INDON Tertinggi Sejak 2023 - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) melemah seiring membesarnya tekanan dari luar negeri dan menguatnya ekspektasi terhadap data perekonomian domestik yang akan rilis pada September.

Menurut data Bloomberg pada pukul 19.15 WIB, Senin (28/9/2026), rupiah di perdagangan luar negeri kembali menyentuh level Rp18.013/US$. Pergerakan tersebut terjadi setelah nilai tukar turun 0,33% pada sesi yang sama.

Sore harinya, rupiah juga melemah di pasar spot sebesar 0,46% ke level Rp17.975/US$. Dengan demikian, tekanan tetap terasa baik pada pasar luar negeri maupun perdagangan spot.

Rupiah di pasar luar negeri kembali menembus Rp18.013/US$ pada Senin (28/8/2026) pukul 19.15 WIB, menjadi sinyal bahwa level psikologis tersebut cukup sering dijangkau dalam periode berjalan.

Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh menguatnya harga minyak Brent yang terus melaju hingga menyentuh level US$107,3/barel. Kenaikan ini sejalan dengan memudarnya harapan akan prospek resolusi konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Di sisi lain, indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama kembali menguat ke 101,11. Penguatan tersebut berjalan bersamaan dengan naiknya imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sebesar 4,6 basis poin (bps) menjadi 5,2%.

Kondisi ini membuat pasar menghadapi risiko geopolitik yang lebih tinggi sekaligus potensi tekanan pada harga-harga. Kombinasi faktor global tersebut turut menambah sentimen kehati-hatian terhadap aset berbasis risiko, termasuk mata uang.

Tekanan inflasi dari harga minyak

Dari dalam negeri, kenaikan harga minyak mentah juga menghidupkan kembali kekhawatiran terkait laju inflasi. Bloomberg Economics memperkirakan inflasi pada September berada di angka 3,3%, naik dibanding posisi bulan sebelumnya yang tercatat 3,19%.

Lonjakan harga minyak disebut berpotensi mendorong inflasi. Meski demikian, pemerintah disebut sebagian menahan transmisi kenaikan melalui skema subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Meski kebijakan subsidi dapat meredam dampak langsung, kenaikan ekspektasi inflasi tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi keputusan pelaku pasar terhadap nilai tukar maupun instrumen pendapatan tetap.

Imbal hasil obligasi dan posisi pasar

Di tengah dinamika tersebut, yield INDON tercatat tertinggi sejak 2023. Perkembangan ini mencerminkan bahwa imbal hasil di pasar obligasi ikut merespons kombinasi tekanan eksternal dan prospek ekonomi domestik menjelang rilis data September.

Dengan dolar yang menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang meningkat, arus modal menjadi lebih selektif. Pada saat yang sama, pasar juga menimbang dampak harga energi terhadap inflasi meski ada intervensi kebijakan melalui subsidi BBM.

Ke depan, pergerakan rupiah berpotensi tetap dipengaruhi oleh dua sumber utama: perkembangan sentimen global terkait geopolitik dan jalur kenaikan harga minyak, serta arah inflasi domestik yang menjadi acuan dalam membaca kondisi makro menjelang September.

Seluruh rangkaian indikator tersebut menempatkan rupiah dalam fase yang lebih rentan terhadap perubahan sentimen. Karena itu, pergerakan harian nilai tukar maupun imbal hasil obligasi menjadi bagian yang perlu dipantau untuk melihat apakah tekanan akan berlanjut atau mulai mereda.

Tekanan yang tercermin di NDF tidak berhenti pada perdagangan luar negeri, tetapi juga merembak ke pasar spot pada jam yang sama. Ketika rupiah kembali menyentuh area Rp18.013/US$ lalu spot melemah hingga Rp17.975/US$, pasar seolah menilai level-level tersebut sebagai batas yang masih mudah ditembus.

Kenaikan harga minyak memang disebut berpotensi menambah kekhawatiran inflasi, namun skema subsidi BBM dipaparkan sebagai penahan transmisi kenaikan. Meski demikian, ekspektasi inflasi yang tetap menjadi perhatian membuat pelaku pasar lebih berhati-hati, termasuk dalam menentukan arah nilai tukar dan penempatan dana pada instrumen pendapatan tetap.

Ke depan, perhatian pasar tetap akan tertuju pada sinyal global dan domestik yang saling menguatkan. Penguatan indeks dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury, dipadukan dengan dinamika harga minyak serta prospek data September, menjadi penentu apakah tekanan terhadap rupiah berlanjut atau mulai mereda.