Bisnis & Ekonomi

Asing Jual Bersih Rp1 Triliun, 10 Saham Ini Jadi Pelepasan Terbesar

×

Asing Jual Bersih Rp1 Triliun, 10 Saham Ini Jadi Pelepasan Terbesar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Investor Asing Net Sell Rp1 Triliun, Lepas 10 Saham Ini - Market

jurnalistik.co.id – Pergerakan pasar saham Indonesia sepanjang periode 24–28 Agustus 2026 berakhir melemah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,12% secara point-to-point ke level 6.518,12 saat penutupan perdagangan.

Di tengah tekanan tersebut, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp1,31 triliun pada pasar reguler. Arus ini sejalan dengan tren pelemahan IHSG selama pekan berjalan.

Meskipun begitu, bila dilihat dari seluruh segmen perdagangan, investor asing masih mencatat pembelian bersih (net buy) senilai Rp275 miliar. Secara akumulasi sepanjang 2026, nilai net sell investor asing di pasar reguler tercatat mencapai Rp97,7 triliun.

Untuk arus pelepasan terbesar dalam sepekan, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi yang paling dominan. Investor asing melepas saham BBRI dengan net sell mencapai Rp472,99 miliar, dan saham tersebut melemah 1,24% ke level Rp3.190 per saham.

Selain BBRI, sepuluh emiten dengan nilai net sell terbesar investor asing sepanjang periode 24–28 Agustus 2026 mencakup PT Indosat Tbk (ISAT) sebesar Rp231,78 miliar. Berikutnya PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan net sell Rp172,67 miliar, lalu PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) senilai Rp138,43 miliar.

Masih dalam kelompok pelepasan terbesar, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat net sell Rp132,14 miliar. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berada pada angka Rp131,52 miliar, disusul PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar Rp125,13 miliar.

Arus jual bersih berikutnya datang dari sektor-saham batubara dan komoditas, yang tercermin dari PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan net sell Rp85,61 miliar. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mencatat net sell Rp74,34 miliar, sementara PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menyentuh Rp69,35 miliar.

Di sisi lain, investor asing juga membukukan pembelian bersih pada saham tertentu selama periode yang sama. Nilai net buy terbesar tercatat pada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan total Rp579,97 miliar.

Terlihat adanya respons harga yang mengiringi pembelian tersebut. Saham BMRI menguat 0,71% hingga diperdagangkan pada level Rp4.250 per saham.

Dengan kondisi IHSG yang melemah namun arus asing tetap beragam di berbagai segmen, dinamika pekan lalu menunjukkan adanya selektivitas pelaku pasar. Perbedaan antara net sell di pasar reguler dan net buy di keseluruhan transaksi memberi sinyal bahwa posisi investor asing cenderung diarahkan pada penempatan yang lebih spesifik terhadap saham-saham tertentu.

Penurunan IHSG pada 24–28 Agustus 2026 juga memperlihatkan bahwa sentimen pasar tidak sepenuhnya searah pada satu arus saja. Ketika net sell investor asing di pasar reguler mencapai Rp1,31 triliun, angka net buy di keseluruhan transaksi sebesar Rp275 miliar menunjukkan adanya pergeseran keputusan transaksi lintas kanal yang lebih selektif.

Dari sisi emiten yang menjadi tumpuan aksi asing, BBRI tampak menonjol sebagai tujuan pelepasan terbesar. Net sell Rp472,99 miliar disertai pergerakan harga turun 1,24% ke Rp3.190 per saham, sekaligus menjadi gambaran bahwa tekanan jual pada periode itu cukup terasa pada saham berkapitalisasi besar.

Selain BBRI, daftar net sell terbesar memperlihatkan penyebaran ke beberapa sektor dan karakter saham. ISAT mencatat net sell Rp231,78 miliar, disusul AMMN Rp172,67 miliar dan TPIA Rp138,43 miliar. Pada kelompok berikutnya, BUMI Rp132,14 miliar, DSSA Rp131,52 miliar, serta BBNI Rp125,13 miliar turut masuk kategori pelepasan utama, sementara ITMG Rp85,61 miliar, TLKM Rp74,34 miliar, dan EMAS Rp69,35 miliar menegaskan arus jual yang juga menyasar saham-saham berbasis komoditas.

Di tengah variasi arus tersebut, pembelian bersih investor asing pada BMRI menjadi titik kontras yang penting. BMRI mencatat net buy Rp579,97 miliar dan harga saham naik 0,71% hingga berada di level Rp4.250 per saham. Pola seperti ini menguatkan gambaran bahwa investor asing tidak hanya bergerak secara umum, tetapi mengarahkan aktivitasnya pada saham-saham tertentu sesuai respons pasar yang terbentuk selama pekan berjalan.