jurnalistik.co.id – Memoar Sonia Gandhi, yang akan terbit pada November, diperkirakan menjadi salah satu bacaan politik paling dinantikan di India. Buku berjudul Belonging: A Journey of Love itu hadir setelah perjalanan panjangnya—dari figur yang lama memilih jarak dari sorotan hingga memegang posisi paling menentukan di Partai Kongres.
Dalam pengantar yang disampaikan melalui penerbit Alfred A Knopf, Gandhi menyatakan memoarnya ingin menjadi “to be a testament of my heart’s journey through the tender joys and dark despair that have marked my life”. Kalimat tersebut memayungi tema besar yang ia tawarkan: kekuasaan, kehilangan, dan warisan politik yang melekat pada keluarga Gandhi.
Usianya kini 79 tahun, dan kisah yang ia garap disebut banyak ditandai oleh kehilangan pribadi yang ekstrem. Ia, menurut rilis penerbit, sempat membawa ibunda mertua, Indira Gandhi, ke rumah sakit setelah para pengawal menembaki sang perdana menteri. Tujuh tahun berselang, ia kembali kehilangan suami, Rajiv Gandhi, saat ia dibunuh oleh seorang pelaku bom bunuh diri.
Penerbit juga menggambarkan memoar ini sebagai cerita yang tidak hanya menelusuri peristiwa besar, tetapi menempatkannya dalam kerangka “love, exile, political power and devastating loss” sejak masa kanak-kanak Sonia di kota kecil di Italia. Cerita itu dirunut hingga perjalanan “unexpected journey into the heart of Indian politics”.
Awal kisah: cinta di Cambridge dan masuknya Sonia ke ruang politik India
Menurut William Collins, buku itu dibuka di Cambridge pada 1965. Di sana, Sonia Maino yang saat itu berusia 19 tahun bertemu Rajiv Gandhi, cucu dari perdana menteri pertama India, Jawaharlal Nehru.
Dalam narasi yang disebut “revelatory”, Sonia yang dikenal hemat kata justru dipotret dengan “warmth and candour”. Ia menoleh ke masa-masa yang membentuknya, termasuk bagaimana ia akhirnya mengambil peran setelah hidup yang lama berada dalam lingkaran keluarga politik paling berpengaruh di India.
Perjalanan tersebut juga tercatat sejak ia menjadi presiden Partai Kongres pada 1998, ketika ia naik memimpin oposisi utama India. Ketika itu, ia digambarkan sebagai pemimpin yang tidak biasa dan relatif “enigmatic”.
India Today, beberapa bulan setelah ia mengambil alih kepemimpinan partai, melukiskan Sonia sebagai “quite an enigma to her partymen” dan menyebutnya “inscrutable”. Majalah yang sama menggambarkan ia dijaga rapat oleh “security cordon” dan dikenal memiliki “laconic one-liners in an alien accent”.
Namun, di balik penggambaran itu, India Today juga menilai Sonia sedang belajar cara memegang kendali. Laporan tersebut menyebut bahwa ia mendengarkan argumen yang bersaing, mengumpulkan informasi, lalu mengambil keputusan. “Nobody is left out of the decision-making process and no voice is gagged. But it is her word that prevails,” tulis majalah tersebut.
Memoar yang dinanti—termasuk kisah di balik puncak pengaruh
Selain unsur cerita keluarga, memoar ini sejak awal telah memicu perhatian karena sengketa penerbitan. Di India, muncul laporan bahwa Penguin Random House India sempat berupaya meminta perubahan pada bagian-bagian naskah tertentu.
Beberapa tokoh Partai Kongres kemudian menyebut dugaan tekanan politik untuk mengubah bagian yang dianggap kritis terhadap pemerintah. Penggugat pihak penerbit membantah cerita itu, dengan mengatakan “remained keen and willing to publish the book” sambil masih berlangsung “relevant discussions”.
Publik, karenanya, tidak hanya menunggu kisah romansa pernikahan Sonia dengan keluarga politik India. Pembaca juga diminta mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar yang belum selesai dalam politik India modern.
Pertanyaan pertama mengarah pada alasan Sonia tertarik masuk dunia politik. Pertanyaan berikutnya menyorot apa yang terjadi di balik layar ketika Kongres kembali berkuasa pada 2004 setelah delapan tahun berada di luar pemerintahan.
Salah satu misteri paling menonjol, sebagaimana ditulis dalam laporan, adalah mengapa Sonia—meski punya dukungan partai dan sekutu—tidak memilih menjadi perdana menteri. Ia justru menunjuk Manmohan Singh, yang digambarkan sebagai perancang liberalisasi ekonomi India.
“I think that is really the biggest unanswered question. She could easily have become prime minister – she had the full backing of her party and allies, and the president’s office had a letter ready inviting her to form the government,” kata jurnalis dan penulis Neerja Chowdhury. Ia menambahkan bahwa pertanyaan itu tetap menggantung: apakah asal-usul Sonia yang berasal dari luar negeri membuatnya merasa pemerintahnya akan terus tergerus.
Relasi keluarga dan dilema jabatan: catatan Natwar Singh
Dalam memoar Natwar Singh—mantan pemimpin Kongres dan mantan menteri luar negeri—ia menulis bahwa Rahul Gandhi “vehemently” menolak ibunya menjadi perdana menteri. Penolakan itu, menurut catatan Singh, muncul karena Rahul khawatir Sonia akan mengalami nasib yang sama seperti neneknya dan ayahnya.
Singh menggambarkan momen tersebut mencapai “climax” ketika Rahul mengatakan ia siap mengambil “any possible step” untuk mencegah Sonia menerima jabatan itu. Dengan kata lain, pembaca yang menanti memoar Sonia kemungkinan akan membandingkan narasi publik tentang pengambilan keputusan keluarga dengan versi yang akan ia berikan.
Berita Terkait
Di luar kebijakan jabatan, buku ini juga disiapkan untuk membuka pertanyaan yang lebih sulit dan sensitif. Di antaranya kemungkinan Sonia membahas Bofors, skandal yang merusak pemerintahan Rajiv Gandhi dan selama puluhan tahun memunculkan kontroversi mengenai hubungan keluarga dengan pengusaha Italia Ottavio Quattrocchi.
Rilis menyebut pembaca mungkin akan menunggu apakah Sonia akan meninjau kembali tuduhan-tuduhan tersebut dan menjelaskan apa yang ia ketahui. Ada pula persoalan kemarahan dan perdebatan yang bertahun-tahun melekat pada asal-usulnya dari Italia.
Selama bertahun-tahun, Sonia dikritik sebagai figur asing yang dianggap tidak pantas memimpin India. Dalam lingkaran sosial Delhi, ia disebut “the Italian au pair”. Pada 2004, pemimpin BJP Sushma Swaraj mengatakan, “would be an insult to the nation”, sambil bersumpah akan mundur, “tonsure her head”, memakai busana putih, lalu hidup sebagai seorang pertapa bila Sonia menerima jabatan perdana menteri.
Rasheed Kidwai, jurnalis dan penulis, mengangkat aspek lain: “As early as in 1999, even a group of Congress leaders had raised questions about her foreign origins. Did she ever think of leaving the country?” Ia menempatkan pertanyaan itu sebagai bagian dari kebingungan politik yang selalu muncul di sekitar Sonia.
2004 sampai 2014: keberhasilan kebijakan dan kritik yang menumpuk
Pengamat politik juga menilai buku ini bisa memberi penerangan mengenai paradoks pemerintahan yang dipimpin Kongres antara 2004 dan 2014. Dalam periode itu, Kongres memenangkan dua pemilihan umum nasional berturut-turut serta mendukung langkah-langkah besar, termasuk Undang-Undang tentang Hak atas Informasi dan program jaminan pekerjaan pedesaan.
Namun masa jabatan kedua kemudian dibayangi tuduhan korupsi, kebuntuan kebijakan, dan kesan bahwa partai semakin terkurung oleh kepemimpinan internalnya sendiri. Para pengkritik menyebut Sonia sebagai “remote control” pemerintahan, sementara pendukungnya memandangnya sebagai kekuatan yang menahan koalisi yang dikenal sulit.
Di bagian akhir perhitungan, pembaca juga akan menelusuri posisi Rahul Gandhi. Sonia pada akhirnya menyerahkan kepemimpinan Kongres kepada putranya pada 2017, dan banyak pihak mengaitkan kegagalan Rahul menghidupkan kembali partai sebagai inti dari kisah kemunduran keluarga Gandhi.
Warisan yang diteruskan: keputusan politik, gaya berbeda, dan pertanyaan tentang Priyanka
Rilis menyebut bahwa dalam buku Sonia tahun 1994 berjudul Rajiv, ia menulis bahwa ia “fought like a tiger” untuk mencegah Rajiv masuk ke dunia politik. Tetapi pada akhirnya, warisan itu ia alihkan kepada Rahul.
Perjalanan politik Rahul disebut tidak mulus. Ia pernah dipandang sebagai politisi yang enggan dan sering dijadikan bahan olok-olok oleh lawan yang menilai ia pemimpin yang jarang hadir.
Kidwai menegaskan bahwa “How does Sonia see her son’s very different political style and worldview? And how much does she endorse his politics? I hope the book answers these questions,” katanya. Ia juga menyoroti pertanyaan mengapa Sonia memilih Rahul dibanding Priyanka yang disebut punya daya tarik karisma yang lebih “naturally charismatic”.
Rilis juga menyinggung bahwa meski rumor tentang peran politik Priyanka sudah lama beredar, ia baru memasuki politik elektoral secara resmi pada 2019. Dengan demikian, memoar Sonia berpotensi menjadi tempat untuk membaca kembali logika di balik keputusan-keputusan tersebut.
Kidwai menyatakan jawaban yang mungkin akan diungkap Sonia: “Sonia’s stock answer would be that it would be up to my children to decide whether to join politics.” Ia menganggap kalimat itu membuka ruang untuk menilai bagaimana Sonia menempatkan pilihan politik dalam kerangka keluarga.
India yang dibentuknya dan apa yang sengaja tidak ia katakan
Masalah yang lebih besar tetap: apa pandangan Sonia tentang India yang turut ia bentuk. Ia memimpin Kongres pada masa ketika politik India bergeser dari pemerintahan koalisi dan liberalisasi ekonomi menuju politik yang semakin dominan yang dibawa Narendra Modi dan nasionalisme Hindu.
Namun, menurut Neerja Chowdhury, pertanyaan paling menggelitik justru menyangkut apa yang akan dipilih memoar itu untuk disampaikan dan apa yang akan ia tinggalkan. Ia menduga jawaban itu bisa terletak pada judul, Belonging.
Chowdhury menyebut Sonia sadar sebagai pewaris dari warisan keluarga Nehru-Gandhi, sehingga “that legacy has to be kept alive”. Dari harapan tersebut, memoar diperkirakan kembali ke sejarah keluarga—dan terutama ke rasa “belonging” Sonia sendiri terhadap dinasti, sekaligus bagaimana ia memikul mandat politik sebagai presiden Kongres.
Warisan itu, pada akhirnya, juga kini berada dalam serangan berkelanjutan. BJP yang berkuasa mengkampanyekan “Congress-mukt Bharat” (Congress-free India), sementara kritik terhadap partai semakin membingkai tantangannya sebagai perlawanan terhadap politik dinasti.
Ketika Kongres terus mengalami kemunduran elektoral dan banyak pemimpinnya beralih ke kubu lain, persoalan yang muncul bukan sekadar apakah keluarga Gandhi mampu memulihkan partai. Lebih dari itu, publik menunggu jawaban atas pertanyaan apakah keluarga tersebut bisa mempertahankan kesatuan internalnya—dan bagaimana Sonia menilai inti persoalan itu dalam memoarnya.







