jurnalistik.co.id – Menjelang dimulainya tahun ajaran baru, Liberal Democrats (Lib Dems) mendorong langkah darurat untuk menahan laju guru yang berencana keluar dari profesi. Menurut survei partai itu, hampir setengah tenaga pendidik di Inggris sedang mempertimbangkan berhenti mengajar dalam lima tahun ke depan.
Hasil ini disampaikan ketika isu keberlanjutan guru di sekolah semakin mendekati titik genting. Lib Dems menilai kondisi tersebut menuntut respons cepat, bukan penanganan yang tertunda.
Survei Lib Dems di Inggris menanyakan rencana bertahan mengajar dari lebih dari 900 responden. Mereka terdiri atas guru yang masih bekerja, kepala sekolah, serta Special Educational Needs Coordinators (SENCOs).
Dari mereka yang berada di kelas, hampir setengah responden menyatakan mempertimbangkan untuk meninggalkan pengajaran pada rentang lima tahun mendatang. Sementara itu, satu dari sepuluh orang mengatakan mereka berniat menghabiskan waktu kurang dari satu tahun lagi dalam profesi tersebut.
Lib Dems juga menemukan masalah kelelahan kerja yang meluas. Lebih dari tiga perempat responden, termasuk mantan guru, mengaku pernah merasa “frequently or constantly burnt out” saat menjalankan pekerjaannya.
Dalam survei, banyak responden mengaitkan kelelahan dengan beban kerja yang tinggi, terutama pada tugas koreksi, persiapan pelajaran, dan sejumlah tanggung jawab lain. Akibatnya, waktu mereka di kelas disebut menjadi berkurang.
Juru bicara sekolah Liberal Democrats, Caroline Voaden, mengatakan situasi ini menunjukkan pemerintah tidak benar-benar mendengar suara profesi. Ia juga menyinggung bahwa sekolah sedang bergerak menuju kondisi yang “existential crisis” dalam hal retensi guru.
“We rely on teachers to educate our children, the least we can do is make sure they want to come back after the summer,” ujar Voaden.
Langkah yang diminta Lib Dems tidak hanya berupa dukungan umum, melainkan paket kebijakan yang ditujukan untuk memperbaiki daya tahan guru bertahan. Partai itu mendesak agar Menteri Pendidikan baru, Lucy Powell, memberi pendanaan penuh untuk kenaikan gaji guru.
Menurut usulan Lib Dems, pendanaan seharusnya tidak dilakukan dengan memangkas anggaran sekolah yang sudah ada untuk menutup kenaikan. Lib Dems juga meminta adanya pembatasan jam lembur, sehingga jam kerja dapat lebih terukur dan tidak menekan tenaga pendidik.
Dari sisi pemerintah, Departemen untuk Pendidikan (Department for Education) menyebut tahun lalu mencatat angka terendah guru yang meninggalkan profesi sejak 2010. Meski begitu, Departemen itu juga mengakui bahwa masih ada “more to do”.
Lib Dems menilai celah “lebih banyak yang harus dilakukan” justru menunjukkan bahwa pemeliharaan retensi belum berjalan sesuai kebutuhan. Dengan beban kerja yang berujung burnout dan rencana keluar yang makin dekat, partai itu menyebut kondisi sistem membutuhkan perubahan segera.
Penilaian terkait beban kerja dan akuntabilitas
Persoalan retensi guru telah lama menjadi tantangan yang dihadapi berbagai pemerintahan. National Education Union (NEU) pernah melaporkan bahwa pada 2019, 4 dari 10 guru merencanakan untuk keluar dari profesi mereka.
Laporan NEU pada waktu itu mengaitkan rencana keluar pada “huge workloads and excessive accountability”. Kali ini, survei Lib Dems juga dilakukan dengan dukungan NEU serta Association of School and College Leaders (ASCL).
Berita Terkait
Daniel Kebede, Sekretaris Jenderal NEU, menyatakan bahwa kebijakan austerity dan pendanaan yang menahun rendah telah membuat sistem berada di titik sulit. “After over a decade of austerity and chronic underfunding in our schools the system is on its knees,” katanya.
NEU juga menekankan momentum tahun ajaran baru sebagai waktu yang tepat untuk memberi sinyal pembaruan. “The new academic year is the perfect time for Andy Burnham to signal a fresh start for our schools,” ujar Kebede.
Ia menambahkan, arah yang diperlukan adalah pembiayaan penuh dan menyeluruh guna menahan krisis rekrutmen serta retensi. “That means fully funding the pay award and properly funding all our schools and colleges to stem the recruitment and retention crisis and give children the education they deserve.”
Rincian usulan Lib Dems untuk paket “back to school”
Dalam penjelasannya, Lib Dems menyatakan bahwa menjelang masa jabatan awal Lucy Powell sebagai menteri pendidikan, langkah pertamanya seharusnya berupa paket darurat untuk menghadapi krisis retensi. Pernyataan tersebut disampaikan Caroline Voaden.
“As Lucy Powell enters her first term as education secretary the Liberal Democrats are calling for her first act to be to introduce an emergency package of ‘back to school’ measures to face this crisis head on,” kata Voaden.
Salah satu inti proposal Lib Dems adalah memastikan pemerintah menanggung penuh kenaikan gaji guru. Partai menyebut, di Inggris, kenaikan gaji akan sebesar 3,5% mulai September, lalu ada tambahan 3% pada tahun berikutnya.
Lib Dems juga menyoroti bahwa saat ini separuh dari kenaikan gaji berasal dari anggaran sekolah yang sudah ada. Karena itu, partai mendorong skema pendanaan yang tidak membebankan sekolah dengan memotong anggaran operasional.
Selain soal gaji, Lib Dems meminta penegakan yang tepat terhadap jam kerja guru yang secara legal sudah diamanatkan. Partai itu juga menekankan pentingnya batas yang wajar untuk lembur.
Lib Dems turut mengusulkan agar seluruh sekolah diwajibkan menerapkan kebijakan kerja yang lebih fleksibel. Tujuannya, praktik kerja yang dapat disesuaikan diharapkan menekan tekanan yang mendorong guru berniat keluar.
Dalam paket usulan tersebut, partai tidak merinci dari mana sumber pendanaan untuk membiayai kebijakan. Namun, mereka menilai kombinasi pendanaan penuh, pengendalian jam kerja, serta fleksibilitas adalah langkah yang diperlukan untuk menahan guru agar tidak meninggalkan ruang kelas.
Sementara itu, juru bicara kementerian pendidikan menyatakan bahwa pemerintah mengakui dedikasi guru dan menegaskan komitmen untuk menyediakan dukungan yang tepat. “We know teachers do an incredible job and we’re determined to make sure that dedication is matched with the right support.”
Ia juga menyoroti bahwa tahun lalu mencatat capaian terkait perekrutan dan keberlanjutan. “Last year saw one of the lowest rates of teachers leaving the profession since 2010, and a record number of teachers returning to the classroom, but we know there’s more to do.”
Menurut kementerian, tindakan yang diambil mencakup pengumuman kenaikan gaji hampir 17% dalam dua tahun, pendanaan untuk meningkatkan tunjangan melahirkan, serta dukungan terarah agar fleksibilitas kerja dan beban kerja yang terkendali bisa dinormalisasi. “We’re taking action by announcing pay awards of almost 17% over two years, funding schools to improve maternity pay and offering targeted support to normalise flexible working and manageable workloads so that more teachers stay in our classrooms and thrive.”
Meski demikian, Liberal Democrats tetap mendorong paket darurat yang menurut mereka lebih langsung menanggapi keluhan utama guru. Dengan data yang menunjukkan rencana keluar dan burnout yang tinggi, diskusi berikutnya diperkirakan akan berpusat pada apakah perubahan paling mendasar dapat segera diwujudkan sebelum dampaknya makin meluas ke tahun ajaran berikutnya.












