jurnalistik.co.id – Perbedaan dukungan finansial dalam keluarga sering tidak berhenti pada masa remaja. Saat orang tua dianggap “memilih” anak tertentu—misalnya lewat pinjaman, hadiah, atau bantuan biaya—rasa iri dan resentment bisa menetap hingga dewasa, bahkan berujung konflik yang meluas setelah orang tua wafat.
Sebuah studi di AS yang disebutkan dalam laporan BBC memperkirakan sekitar 15% saudara kandung pernah mengalami pertentangan terkait uang. Menurut para ahli, inti masalah biasanya bukan semata nominalnya, melainkan makna emosional yang dibaca oleh masing-masing pihak.
Kenapa favoritisme finansial terasa personal
John (47 tahun; nama asli disamarkan) menggambarkan pengalaman yang baginya terasa timpang. Ia mengatakan orang tuanya yang selama ini mendukung adik laki-lakinya, menolak meminjamkan ÂŁ10.000 untuk uang muka rumah setelah John putus dari pasangan.
John menuturkan penolakan itu terjadi meski, menurutnya, “well within their financial grasp”. Ia juga menyebut orang tuanya sebelumnya memberikan setoran untuk adik membeli rumah serta ikut mensubsidi biaya hidup saudara kandungnya.
Dalam pandangannya, John merasa dirinya tumbuh sebagai anak yang dipandang lebih akademis dan “own two feet” secara finansial, sementara adiknya “coddled”. Akibatnya, ia mengatakan favoritisme itu membuatnya percaya bahwa “the needs of others take precedence over my own”, sehingga ia merasa “isolated” dan dampaknya merembet ke relasi pertemanan serta hubungan romantis.
Di sisi lain, Relate—layanan konseling yang dikutip dalam laporan—menjelaskan bahwa perselisihan saudara kandung tentang uang jarang murni soal materi. Dr Fenia Christodoulidi menyatakan, “Financial support from parents often carries a powerful emotional meaning and some siblings tend to interpret differences in support as signs of favouritism, unequal love or a lack of recognition.”
Ia menambahkan bahwa meski orang tua punya “practical reasons” untuk memperlakukan anak secara berbeda, kurangnya komunikasi yang jelas dapat “leave room for misunderstanding and resentment”. Alasan yang disebut mencakup kondisi ketika seorang anak dewasa perlu bantuan lebih karena penghasilannya jauh lebih rendah, memiliki penyakit, atau harus menanggung biaya lebih besar untuk memasuki jenjang kepemilikan rumah seiring harga yang meningkat.
Dukungan berbeda bisa dipahami berbeda pula
Ellis (26 tahun) yang bekerja di bidang keuangan di London mengatakan ia dan saudaranya menerima “different levels of support at different times” dari orang tuanya, tetapi itu “never been a problem”. Ia menyajikan sudut pandang bahwa variasi bantuan bisa terjadi tanpa harus selalu bermakna preferensi.
Tetapi Tasha (33 tahun), yang merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara, menyampaikan cerita yang berbeda. Ia mengatakan saudara-saudaranya pernah bersitegang terkait perlakuan yang dipandang lebih menguntungkan, bahkan ketika menurutnya orang tua mereka memperlakukan semua anak dengan cara yang sama.
Berita Terkait
“I just think people sometimes get a bit uncertain or jealous and that’s quite normal,” ujar Tasha. Ia menambahkan, “Sometimes people stop talking for a bit or go to process what they are feeling, and they come back together and they just hash it out.”
Percakapan terbuka membantu, tapi tidak selalu mudah
Christodoulidi menekankan bahwa “open conversations about expectations and the reasons behind decisions” bisa membantu mengurangi rasa kesal. Namun, John menggambarkan kenyataan yang berbeda: ia mengaku sulit memulai pembicaraan yang jujur tentang uang di keluarganya.
Ia mengatakan, “Talking about money is verboten in my family – be it salaries or savings or financial assistance,” serta menambahkan, “Any time I’ve tried to air my feelings my parents just become evasive so now I don’t bother.” Karena itu, ia kini menyusun rencana masa depannya dengan asumsi ia tidak akan menerima warisan.
Meski begitu, John tetap berharap akan diminta untuk ikut bertindak bila orang tuanya jatuh sakit atau kehilangan kemampuan. Ia mengaku hubungan baiknya dengan saudaranya tetap ada, namun ia merasa ada resentment terhadap orang tuanya karena menciptakan “imbalance” di antara dirinya dan adiknya.
Mediasi dan kejelasan saat orang tua masih hidup
Claire Webb, seorang pengacara sekaligus mediator di Family Solutions Now, kerap membantu saudara kandung yang berselisih soal warisan dan persoalan uang lainnya. Ia menjelaskan pola yang sering muncul: satu pihak merasa pihak lain diberi lebih dulu, misalnya untuk membeli rumah, dan orang tua mengatakan hal itu “reflect in the will”.
Namun saat isi wasiat menyatakan “everything should be shared equally”, rasa tidak adil yang sempat tertanam bisa “dredged up” kembali. Untuk mencegah konflik, Webb menyarankan orang tua menjelaskan dengan tegas kepada anak-anak apa yang mereka inginkan, terutama saat mereka masih hidup.
Jika perpecahan sudah terjadi, Webb menambahkan bahwa mediasi sebaiknya dipertimbangkan sebelum langkah hukum. Menurutnya, proses ini dipandu profesional terlatih untuk membantu mereka memperbaiki masalah; “Most of the time there is a deep-down family bond – and if you can crack what started the problem they often find a way through.”
Dalam praktiknya, upaya meredakan pertengkaran uang antar saudara kandung bisa dimulai dari pemahaman terhadap akar masalah: apakah sebenarnya berkaitan dengan rasa dihargai dan perlakuan yang dianggap adil, bukan sekadar jumlah uang itu sendiri. Langkah lain yang disarankan adalah menghindari asumsi mengenai kondisi keuangan saudara yang lain atau motif di balik keputusan orang tua.
Para ahli juga mendorong percakapan yang terbuka dan saling menghormati agar tiap pihak diberi ruang untuk menjelaskan perasaannya. Dari sisi orang tua, niat sebaiknya disampaikan sejelas mungkin, khususnya bila bantuan diberikan secara berbeda karena alasan praktis. Bila diskusi berulang kali buntu atau emosi makin memuncak, konseling keluarga dapat dipertimbangkan.
Bila sengketa mengarah pada wilayah warisan, mediasi sebelum tindakan hukum juga dipandang penting. Terakhir, memilih kuasa bertindak (powers of attorney) perlu dilakukan dengan hati-hati, karena orang tua biasanya menunjuk anak-anak untuk mengurus perawatan dan keuangan bila mereka sakit atau kehilangan kapasitas mental; bila ada risiko pertengkaran, orang tua dapat menunjuk pihak lain, termasuk seorang pengacara.












