Bisnis & Ekonomi

BEI: Sekitar 50 Investor Buka Rekening untuk Short Selling di Hari Pertama

×

BEI: Sekitar 50 Investor Buka Rekening untuk Short Selling di Hari Pertama

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sekitar 50 investor telah membuka rekening khusus untuk melakukan transaksi short selling pada hari pertama penerapan kembali model perdagangan tersebut.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyampaikan bahwa pembukaan rekening itu sudah terpantau sejak awal pelaksanaan.

“Informasi yang kami dapat sudah ada sekitar 50 investor yang sudah membuka rekening short selling,” kata Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Menurut Jeffrey, implementasi awal short selling berjalan lancar dan tidak menunjukkan gejala pelemahan harga yang tajam pada sesi pertama.

Ia menjelaskan bahwa dari lima saham yang masuk dalam daftar efek yang dapat ditransaksikan melalui mekanisme short selling, BEI belum melihat adanya penurunan harga yang signifikan.

“Bahkan beberapa saham tadi pagi sempat naik atau relatif tidak berubah harganya. Jadi secara umum, pemberlakuan short selling berjalan lancar,” ujarnya.

Pada tahap awal, BEI menetapkan lima saham yang dapat diperdagangkan melalui mekanisme short selling. Pilihan tersebut sekaligus mencerminkan komposisi saham besar di pasar.

BEI menuliskan lima nama emiten yang menjadi ruang transaksi pada fase awal, yakni PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Kelima saham tersebut merupakan konstituen Indeks LQ45.

Jeffrey menilai kondisi di hari pertama relatif stabil karena pergerakan harga pada beberapa saham justru mengarah pada kenaikan atau bertahan di level yang tidak berubah jauh.

Dengan demikian, respons pasar pada pembukaan akses short selling pada hari tersebut tampak tidak memunculkan tekanan jual yang besar secara cepat.

Komunikasi BEI juga menegaskan bahwa evaluasi awal didasarkan pada pengamatan pada daftar efek yang telah ditetapkan untuk transaksi short selling.

“Informasi yang kami dapat sudah ada sekitar 50 investor yang sudah membuka rekening short selling,” menjadi penanda bahwa minat pelaku pasar untuk menggunakan fasilitas tersebut sudah terlihat sejak awal.

Di saat yang sama, keterangan Jeffrey mengenai pergerakan harga—yang menyebut ada saham yang naik maupun relatif tidak berubah—mendukung gambaran bahwa mekanisme baru yang diterapkan kembali tidak langsung menimbulkan penurunan tajam pada sesi pertama.

BEI, melalui pengumuman terkait daftar awal, juga menempatkan lima saham yang dapat ditransaksikan sebagai dasar operasional pada tahap permulaan short selling.

Dalam daftar tersebut, ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF dipilih untuk menjadi efek yang dapat digunakan dalam mekanisme short selling pada periode awal penerapan kembali.

Karena kelima emiten adalah bagian dari Indeks LQ45, mekanismenya diharapkan beroperasi pada saham yang likuiditasnya sudah menjadi perhatian pelaku pasar.

Sementara itu, dari sisi pelaksanaan pada hari pertama, BEI menekankan tidak adanya penurunan harga yang tajam berdasarkan pengamatan terhadap pergerakan pada pagi hari.

Dengan kondisi yang disebut Jeffrey sebagai “secara umum, pemberlakuan short selling berjalan lancar,” pasar kemudian dapat menggunakan mekanisme tersebut sesuai ketentuan yang berlaku pada tahap awal.

Langkah BEI menetapkan lima saham dan melaporkan jumlah pembukaan rekening menjadi dua informasi kunci yang menandai fase awal penerapan kembali short selling, sekaligus menjadi bahan pemantauan untuk sesi-sesi berikutnya.

Selain memegang data pembukaan rekening sekitar 50 investor, BEI juga menempatkan pengamatan pada respons pergerakan harga sebagai bagian dari penilaian awal pada sesi pertama, khususnya pada rentang waktu ketika perdagangan mulai berjalan.

Dengan diberlakukannya lima emiten yang merupakan konstituen Indeks LQ45 sebagai efek awal transaksi, mekanisme short selling kembali dipakai pada saham-saham yang likuiditasnya sudah menjadi perhatian pelaku pasar, sehingga hasil pemantauan dapat dibandingkan pada sesi-sesi berikutnya untuk melihat apakah ada perubahan signifikan.