Bisnis & Ekonomi

BI Antisipasi Keluarnya Dana Asing imbas Kenaikan Suku Bunga The Fed

×

BI Antisipasi Keluarnya Dana Asing imbas Kenaikan Suku Bunga The Fed

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: BI Waspadai Keluarnya Dana Asing Imbas Kenaikan Suku Bunga AS - Market

jurnalistik.co.id – Bank Indonesia (BI) mewaspadai potensi lanjutan tekanan dari kebijakan suku bunga Amerika Serikat pasca keputusan terbaru The Fed. Langkah itu dinilai berpotensi memengaruhi aliran dana ke pasar keuangan, seiring ekspektasi suku bunga AS yang belum berhenti di satu putaran penyesuaian.

BI menyoroti keputusan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang menaikkan suku bunga acuan ke kisaran target 3,75%–4,00% pada pertengahan September. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyampaikan bahwa kenaikan tersebut terutama dipicu oleh tingginya inflasi di AS.

Dalam taklimat yang disampaikan pada Rabu (30/9/2026), Erwin menjelaskan bahwa FOMC mengambil langkah pengetatan setelah indikator inflasi AS tetap menunjukkan kebutuhan penyesuaian kebijakan. Menurutnya, dinamika itu turut memengaruhi pembacaan pasar mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan.

Inflasi AS dan transmisi gangguan energi

Erwin mengaitkan keputusan The Fed dengan berbagai faktor yang mendorong inflasi tetap terjaga. Ia menyebut adanya gangguan pada rantai pasok energi yang berawal dari situasi di kawasan sekitar Selat Hormuz.

“Kemudian terkait dengan penyelesaian di Selat Hormuz yang up and down mengakibatkan terjadinya gangguan terhadap supply chain terkait dengan energi,” kata Erwin dalam taklimat BI, Rabu (30/9/2026).

Gangguan pada rantai pasok tersebut berdampak pada pergerakan harga energi, khususnya minyak. Ketika harga minyak bergerak naik, transmisi kenaikan tersebut berpotensi memperbesar inflasi, sehingga membuka ruang bagi The Fed untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga kembali.

Dengan kata lain, BI memandang kebijakan suku bunga The Fed tidak hanya dipengaruhi kondisi inflasi saat ini, melainkan juga risiko inflasi yang dapat muncul dari jalur transmisi harga energi. Penilaian ini memperhitungkan kemungkinan bahwa tekanan harga dapat menahan inflasi berada di level yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Ekspektasi pasar hingga 2027

Erwin juga menyinggung cara pasar membaca kelanjutan arah suku bunga AS. Ia menilai, ketika inflasi dinilai lebih tinggi, respons kebijakan diperkirakan tidak berhenti hanya pada penyesuaian yang sudah lebih dulu diproyeksikan.

“Begitu inflasinya lebih tinggi orang melihat Amerika akan merespon even mereka sudah baca di akhir tahun suku bunga naik satu kali mereka bisa melihat 2027 suku bunganya naik beberapa kali lagi,” kata Erwin.

Pernyataan itu menggambarkan ekspektasi yang berkembang di kalangan pelaku pasar terkait lintasan suku bunga tahun-tahun berikutnya. BI, melalui penilaian tersebut, berupaya mengantisipasi kemungkinan perubahan cepat dalam sentimen pasar akibat pembacaan ulang terhadap jalur kebijakan The Fed.

Dalam konteks itu, kenaikan suku bunga acuan ke kisaran 3,75%–4,00% pada pertengahan September dipandang sebagai titik penting yang dapat menentukan dinamika berikutnya. Penyesuaian kebijakan moneter AS berpotensi memicu respons pasar keuangan global, termasuk perubahan arus dana lintas negara.

BI kemudian menempatkan faktor-faktor pendorong inflasi AS dan risiko transmisi dari harga energi sebagai bagian dari pertimbangan penguatan kewaspadaan. Dengan demikian, pengamatan BI mencakup bagaimana keputusan The Fed dapat berpengaruh berantai terhadap variabel makro melalui jalur ekspektasi, inflasi, dan pergerakan harga.

Dalam penilaiannya, BI menempatkan keputusan pengetatan suku bunga AS sebagai variabel yang dapat mengubah cara pasar membentuk harga atas aset dan memperbarui estimasi biaya dana ke depan. Perubahan pembacaan itu berpotensi ikut mengarahkan pergerakan arus dana lintas pasar keuangan, terutama ketika ekspektasi suku bunga belum sepenuhnya dianggap selesai pada satu putaran penyesuaian.

BI juga menegaskan bahwa gangguan yang muncul dari dinamika di sekitar Selat Hormuz tidak berhenti pada aspek pasokan, melainkan berlanjut pada volatilitas harga energi. Ketika harga energi—khususnya minyak—mengalami kenaikan, BI melihat ada mekanisme transmisi yang dapat membuat tekanan harga bertahan lebih lama. Dengan pertimbangan tersebut, ruang bagi The Fed untuk menilai kembali kebutuhan pengetatan dinilai tetap terbuka.

Selain itu, BI mengaitkan perkembangan tersebut dengan cara pasar menafsirkan lintasan kebijakan hingga tahun-tahun berikutnya. Jika inflasi dinilai lebih tinggi dari perkiraan awal, pelaku pasar cenderung memperkirakan respons kebijakan tidak berhenti pada penyesuaian yang sudah diproyeksikan, melainkan dapat berlanjut hingga beberapa kali penyesuaian lanjutan. BI memandang dinamika ekspektasi seperti ini dapat memicu perubahan cepat dalam sentimen pasar dan kondisi keuangan global.