jurnalistik.co.id – Biaya pinjaman jangka panjang pemerintah Inggris kembali melonjak dan kini berada di level tertinggi dalam beberapa dekade, tepat menjelang Budget Oktober. Kenaikan ini memperketat ruang manuver pemerintahan Perdana Menteri Andy Burnham pada anggaran perdana yang akan dibahas bulan depan.
Imbal hasil obligasi pemerintah untuk tenor 30 tahun, atau 30-year gilt, naik menjadi 5,89%. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak 1998, sekaligus menandai tekanan baru bagi kebijakan fiskal yang disusun pemerintah.
Lonjakan biaya pendanaan tidak hanya terjadi di Inggris. Pada pagi ini, imbal hasil pasar untuk berbagai tenor pemerintah di banyak negara juga terus bergerak ke rekor-rekor baru dalam jangka yang panjang.
Pergerakan tersebut mencerminkan sejumlah kekhawatiran yang meluas. Di antaranya, kekhawatiran mengenai inflasi yang muncul akibat perang Iran yang masih berlangsung, persaingan dari perusahaan-perusahaan teknologi besar dalam memperebutkan pendanaan jangka panjang, serta kekhawatiran terkait tingkat pinjaman yang dilakukan sektor negara.
Kondisi ini membuat proses Budget Burnham menjadi lebih sulit. Burnham akan menghadapi anggota parlemen pada Selasa untuk pertama kalinya sebagai perdana menteri, bersama Kanselir John Healey.
Ketika biaya pinjaman meningkat, pemerintah menghadapi pengaruh langsung pada aturan fiskal yang mereka tetapkan sendiri. Ruang “headroom” terhadap batas fiskal tersebut menyempit, sehingga Healey memiliki keterbatasan dalam menentukan besaran belanja untuk langkah-langkah yang berorientasi meringankan biaya hidup.
Selain obligasi tenor 30 tahun, tekanan juga terlihat pada tolok ukur tenor lebih pendek. Imbal hasil 10-year gilt naik ke level tertinggi sejak Juni 2008, yaitu saat puncak krisis keuangan global.
Berita Terkait
Dalam mekanismenya, pergerakan imbal hasil berbanding terbalik dengan nilai obligasi. Artinya, ketika imbal hasil naik, harga obligasi cenderung turun, yang pada akhirnya memperbesar biaya pendanaan bagi penerbit utang.
Dalam beberapa hari terakhir, biaya pinjaman di Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa juga mencapai level tinggi yang serupa. Reaksi pasar global bahkan dipicu setelah munculnya sinyal di AS bahwa bank sentral berpotensi menaikkan suku bunga.
Pasar Inggris sempat tidak beroperasi pada hari sebelumnya karena libur bank. Sementara itu, Healey berada di Amerika Serikat untuk menghadiri pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara global.
Di forum G20, Healey menyampaikan bahwa Inggris mengalami pertumbuhan tercepat di antara negara-negara Grup Tujuh (G7) sejauh tahun 2026. Ia juga mengatakan produktivitas membaik dan Inggris memangkas pinjaman pada laju tercepat dibanding ekonomi utama lainnya.
Kathleen Brooks, direktur riset di perusahaan investasi XTB, menilai situasi saat ini membawa sinyal peringatan. Ia menyatakan, “Of course, this is red lights flashing.”
Brooks juga menambahkan bahwa volatilitas bukan hal yang sama sekali baru, dengan mengatakan, “We are used to pockets of volatility, it has been volatile few months,”. Namun menurutnya, kondisi yang lebih kuat justru datang dari kombinasi utang pemerintah yang tercatat tinggi dan penerimaan pajak yang juga berada di rekor, sehingga situasi ini tidak nyaman untuk pemerintahan baru dan kanselir baru.
Ia menyebut, “these are not comfortable times for the new government and the new chancellor,” dan menegaskan dampak kenaikan imbal hasil terhadap beban bunga utang. “Every time bond yields rise, the UK has to pay more on the debt interest,” ujarnya.
Dengan imbal hasil yang bergerak naik pada tenor panjang dan tengah, perhatian kini tertuju pada bagaimana pemerintah menavigasi ruang fiskal yang makin ketat. Bagi Burnham dan Healey, dorongan untuk tetap menjaga kebijakan anggaran yang efektif akan diuji saat perdebatan Budget memasuki tahap yang lebih menentukan.






