Bisnis & Ekonomi

Bursa Saham Asia Berpotensi Turun Menyusul Lonjakan Harga Minyak

×

Bursa Saham Asia Berpotensi Turun Menyusul Lonjakan Harga Minyak

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bursa Asia Bersiap Melemah Akibat Lonjakan Harga Minyak - Market

jurnalistik.co.id – Harga minyak yang terus menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat mendorong kekhawatiran inflasi, sehingga bursa saham Asia diproyeksikan melemah pada Kamis (10/9). Pergerakan ini juga mengikuti arah yang sama dari Wall Street setelah dua indikator utama tersebut berubah tajam.

Lonjakan harga minyak AS berlanjut untuk sesi kedelapan secara beruntun. Pada awal perdagangan Kamis, kontrak berjangka minyak AS berada di atas level US$97 per barel, setelah Brent ditutup di atas US$101 per barel.

Di saat yang sama, pasar juga bereaksi terhadap kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Tenor 10 tahun bahkan mencapai level tertinggi sejak 2023, yang menambah tekanan terhadap aset berisiko.

Rangkaian kabar tersebut membuat investor menilai kondisi makro akan lebih menantang menjelang rilis data harga utama di Amerika Serikat. Fokus berikutnya diarahkan pada laporan inflasi AS pada Jumat, karena angka yang muncul dapat menentukan arah kebijakan moneter.

Di level bursa, kontrak berjangka indeks saham Jepang, Korea Selatan, dan Australia mengindikasikan pelemahan. Indikasi itu muncul setelah indeks acuan di AS melemah lebih dulu, sehingga sentimen global cenderung terbawa ke perdagangan Asia.

Pelemahan di AS terlihat dari penurunan Indeks S&P 500 sebesar 0,5%. Penurunan tersebut dipimpin saham sektor industri dan konsumer diskresioner, yang ikut melemah seiring meningkatnya kekhawatiran biaya dan inflasi.

Komponen teknologi juga ikut merosot pada perdagangan sebelumnya. Indeks Nasdaq 100 turun 0,3% setelah saham-saham seperti Nvidia Corp, Amazon.com Inc, dan Alphabet Inc bergerak lebih lemah.

Sementara itu, kontrak berjangka saham AS bergerak sedikit berubah pada awal perdagangan Asia. Perubahan tipis ini menggambarkan pasar masih menunggu sinyal lanjutan dari kombinasi harga minyak dan pergerakan imbal hasil obligasi.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tidak hanya berasal dari ekspektasi pasar, tetapi juga dipengaruhi langkah pemerintah. Pemerintah disebut akan membeli kembali obligasi jangka panjang hingga US$6 miliar, namun kabar tersebut justru mengecewakan sebagian investor yang sebelumnya mengharapkan program yang lebih besar.

Bagi perdagangan global, lonjakan harga minyak sekaligus ketegangan di Timur Tengah memperbesar sensitivitas terhadap prospek pasokan energi. Eskalasi ketegangan kawasan itu memicu kekhawatiran terkait ketersediaan energi, yang kemudian memperkuat kekhawatiran inflasi.

Dalam situasi seperti ini, pasar mulai mengaitkan kondisi tersebut dengan kemungkinan sikap Federal Reserve (The Fed). Harga minyak yang lebih tinggi dan imbal hasil obligasi yang ikut bergerak naik membuat ekspektasi bahwa The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi menjadi lebih menguat.

Perubahan ekspektasi tersebut juga tercermin pada cara pasar merespons data ekonomi berikutnya. Kombinasi kenaikan harga minyak dan kenaikan imbal hasil membuat pasar menjadi sangat sensitif terhadap laporan inflasi AS pada Jumat.

Jika angka inflasi yang dirilis lebih tinggi dari perkiraan, maka taruhan terhadap pengetatan kebijakan akan cenderung diperkuat. Kondisi seperti itu berpotensi menekan saham dan obligasi karena pasar kembali mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat.

Sebaliknya, apabila data inflasi lebih rendah dari perkiraan, ekspektasi dapat bergeser kembali. Dalam skenario ini, peluang bahwa pembuat kebijakan mempertahankan suku bunga akan muncul lagi, sehingga tekanan terhadap saham dan obligasi bisa mereda.

Dengan demikian, perdagangan Kamis di Asia tidak berdiri sendiri, melainkan tersambung ke rangkaian pergerakan di AS. Penurunan Indeks S&P 500 sebesar 0,5% dan Indeks Nasdaq 100 yang turun 0,3% menjadi landasan awal sentimen, sementara minyak yang menembus US$97 per barel dan imbal hasil 10 tahun yang mencapai level tertinggi sejak 2023 memperpanjang kehati-hatian pasar.

Menjelang Jumat, perhatian investor akan semakin terarah pada data inflasi sebagai penentu arah berikutnya. Dari sinyal yang muncul, pasar kemudian akan menilai apakah The Fed perlu menaikkan suku bunga pada bulan ini, atau justru memilih mempertahankan kebijakan yang ada.