jurnalistik.co.id – Hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah rangkaian serangan balasan yang saling menargetkan kapal dan pangkalan di kawasan Timur Tengah. Dalam perkembangan terbaru, AS melaporkan penyerangan terhadap kapal-kapal tanker Iran, sementara Teheran menyatakan telah menyerang pangkalan AS di Yordania dan sejumlah sasaran di kawasan Selat Hormuz.
Juru bicara U.S. Central Command (Centcom) menyebut pada Selasa pasukan AS menyerang lima tanker Iran, dengan satu di antaranya tenggelam. Centcom menyatakan serangan itu dilakukan sebagai respons atas dua kali serangan Iran yang menargetkan kapal perang milik AS.
Menurut Centcom, empat tanker minyak Iran di wilayah Laut Oman yang terhubung dengan Iran Revolutionary Guards Corps (IRGC) menjadi target. Selain itu, satu tanker lain disebut diserang dekat Kharg Island, yakni terminal minyak utama di lepas pantai Iran.
Teheran kemudian merespons dengan meluncurkan rudal ke sebuah pangkalan AS di Yordania. Iran menyatakan sebagian besar rudal berhasil dicegat, sementara otoritas Iran juga menyebut serangan mereka menarget dua kapal AS dan delapan tanker minyak di Selat Hormuz.
Selain klaim Teheran, Jordan juga memberikan keterangan terkait upaya pertahanan udara. Pihak Angkatan Bersenjata Yordania menyatakan negara itu menembak jatuh 18 dari 20 rudal yang ditembakkan Iran, dan dua rudal lainnya jatuh di wilayah yang tidak berpenghuni.
Rangkaian serangan “saling serang” antara kedua negara disebut meningkat dalam sepekan terakhir. Hal ini terjadi lebih dari enam bulan setelah serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari, yang menjadi latar eskalasi dalam konflik yang sudah berjalan panjang.
Dari sisi Iran, IRGC melaporkan pada Rabu bahwa pihaknya telah menyerang dua kapal milik AS, delapan tanker minyak, serta 10 “non-compliant vessels” yang berusaha melintas melalui Selat Hormuz. Pernyataan itu dilaporkan oleh media negara Iran.
Centcom juga menyebut ada respons tambahan dalam eskalasi terbaru. Laporan itu menyatakan serangan sebelumnya Iran terhadap sebuah kapal perang AS dengan rudal balistik berakhir dengan hasil yang menurut AS adalah “successfully evaded”, serta AS menegaskan tidak ada personel militernya yang terluka dalam serangkaian serangan tersebut.
Menanggapi serangan di kawasan, pihak AS menyatakan lima tanker minyak yang diserang Selasa merupakan bagian dari jaringan pendanaan. AS menyebut kapal-kapal tersebut terkait “part of a multi-billion-dollar shadow network that funds the IRGC and its regional proxies”.
Berita Terkait
Dalam laporan lanjutan, Centcom menyatakan salah satu kapal yang terkena, M/T Riesco, tenggelam di Laut Oman. Centcom juga memposting video di X yang menampilkan kondisi kapal yang rusak.
Kharg Island disebut menjadi lokasi penting bagi ekspor minyak Iran karena terminal utama berada di sana. Sekitar 90% minyak mentah Iran disebut melewati pulau tersebut, yang dialirkan melalui pipa dari daratan utama.
Eskalasi di antara AS dan Iran turut berdampak pada harga minyak. Harga minyak dikabarkan mendekati 100 dolar per barel setelah serangan balasan AS–Iran, dan bergerak lebih tinggi dalam perdagangan Asia: patokan Brent naik 1,5% menjadi 99,35 dolar AS per barel, sementara minyak yang diperdagangkan di AS naik 1,3% menjadi 94,23 dolar AS.
Tekanan terhadap pasar energi juga disebut dipicu oleh instabilitas regional yang lebih luas. Pada Selasa, gerakan Houthi yang didukung Iran menyerang fasilitas energi dan infrastruktur sipil di Arab Saudi, menyebabkan 73 orang terluka menurut otoritas Saudi.
Otoritas militer dan kementerian energi Arab Saudi menyatakan serangan menggunakan drone dan rudal memicu kebakaran di fasilitas serta instalasi minyak, yang berujung pada penghentian sementara operasi. Peristiwa di Arab Saudi itu menambah kekhawatiran atas risiko gangguan pasokan energi di kawasan.
Ketika ditanya wartawan mengenai eskalasi yang terjadi antara AS dan Iran, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut situasinya “pretty straightforward”. Rubio menyatakan Iran terus berusaha menarget kapal-kapal angkatan laut AS, dan “for every time they do that or try to do that, they’re going to lose tankers”, serta ia menilai kemungkinan serupa akan terlihat hari itu.
Di saat yang bersamaan, muncul klaim lain di kawasan terkait operasi militer laut. AS menyatakan serangan Selasa berlangsung beberapa jam setelah Iran menyebut angkatan lautnya telah “seized an uncrewed US submarine” di Selat Hormuz.
Menanggapi klaim tersebut, Kapten Tim Hawkins dari Angkatan Laut AS—juru bicara Centcom—menjelaskan bahwa “the underwater drone operated by US forces malfunctioned more than a day ago”. Ia menyebut perangkat itu digunakan untuk survei perairan regional sebagai dukungan bagi operasi yang sedang berjalan.
Hawkins menambahkan bahwa drone yang dinilai rusak adalah model lama yang “neither collected sensitive data nor carried any classified sonar or radar equipment”. Ia menegaskan operasi AS di perairan regional tetap berlangsung.
Dengan serangan yang saling direspons dalam waktu singkat, eskalasi terbaru memperlihatkan perang proksi dan adu kemampuan pertahanan yang makin ketat di kawasan. Bagi kedua pihak, langkah yang diambil dinilai sebagai bagian dari respons langsung—dengan dampak yang tidak hanya terasa pada sektor keamanan, tetapi juga pada harga komoditas energi global.












