Bisnis & Ekonomi

Harga Minyak Tembus US$100, S&P 500 Anjlok 3 Hari Berturut-turut – Market

×

Harga Minyak Tembus US$100, S&P 500 Anjlok 3 Hari Berturut-turut – Market

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Minyak Lampaui US$100, Indeks S&P 500 Turun 3 Hari Beruntun - Market

jurnalistik.co.id – Harga minyak kembali menguat dan menembus level psikologis US$100 per barel, sehingga menekan sentimen di pasar saham maupun obligasi. Dalam perdagangan terbaru, pelemahan bahkan berlanjut hingga hari ketiga.

Kenaikan minyak kali ini terjadi di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi. Ketegangan di Timur Tengah ikut mendorong premi risiko, membuat investor lebih berhati-hati terhadap prospek biaya energi dan inflasi.

Minyak Brent dilaporkan melampaui US$101 per barel. Pergerakan ini juga memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan inflasi yang mungkin timbul.

Di sisi lain, pasar obligasi ikut merespons. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat mencapai level tertinggi sejak 2023.

Tekanan datang bersamaan dengan sinyal dari Departemen Keuangan AS yang menyatakan akan melakukan pembelian kembali obligasi pemerintah berjangka panjang hingga senilai US$6 miliar. Namun, respons pasar menunjukkan tidak semua investor melihat langkah itu sebagai dorongan yang cukup besar, sehingga risiko masih terasa nyata.

Di pasar saham, Indeks S&P 500 turun untuk hari ketiga berturut-turut. Penurunan beruntun tersebut menggambarkan bahwa kenaikan biaya energi dan perubahan ekspektasi suku bunga masih membebani prospek valuasi saham.

“Suhu baru saja kembali meningkat,” kata Kenny Polcari dari SlateStone Wealth. Menurutnya, premi risiko masih sangat terasa, dan risiko terhadap pasokan energi yang keluar dari Teluk benar-benar nyata.

Sentimen kawasan juga mendapat perhatian setelah pejabat senior Republik Islam menyatakan Iran akan meningkatkan serangan balasannya bila AS terus menyerang wilayah dan infrastrukturnya. Pernyataan itu memperpanjang ketidakpastian, sekaligus menambah kekhawatiran terhadap stabilitas arus energi dari kawasan Teluk.

Di tengah eskalasi tersebut, Donald Trump meremehkan kekhawatiran terkait harga minyak dan perang, yang menurutnya akan berakhir setelah pemilihan paruh waktu. Meski begitu, permusuhan disebut belum menunjukkan tanda mereda.

Selain faktor geopolitik dan pasar finansial, pergerakan atensi investor juga dipengaruhi dinamika korporasi dan kebijakan. Apple Inc, misalnya, disebut memperkenalkan ponsel pintar lipat.

Dengan kombinasi harga minyak yang kembali melonjak, imbal hasil obligasi yang berada pada level tertinggi sejak 2023, serta pelemahan S&P 500 untuk tiga hari beruntun, pasar tampak masih memprioritaskan risiko pasokan dan jalur kebijakan suku bunga. Kondisi ini membuat investor menunggu perkembangan lebih lanjut dari ketegangan kawasan dan sinyal kebijakan moneter.

Penguatan harga minyak di atas level US$100 juga menimbulkan efek lanjutan pada ekspektasi biaya produksi dan konsumsi, sehingga pelaku pasar cenderung menilai risiko inflasi masih belum benar-benar mereda. Dengan gangguan pasokan energi yang terus menjadi bayang-bayang, sentimen pun bergerak lebih defensif.

Meski Departemen Keuangan AS menyebut adanya pembelian kembali obligasi pemerintah jangka panjang hingga US$6 miliar, reaksi pasar menunjukkan upaya tersebut tidak otomatis menghapus kekhawatiran. Imbal hasil yang tetap berada pada level tertinggi sejak 2023 memperlihatkan bahwa dorongan kebijakan masih dipandang terbatas oleh sebagian investor.

Dalam kondisi imbal hasil yang tinggi dan premi risiko yang menempel, pasar saham terlihat kesulitan menemukan pijakan untuk berbalik arah. Penurunan Indeks S&P 500 untuk hari ketiga berturut-turut mengindikasikan bahwa perubahan ekspektasi suku bunga dan biaya energi tetap membebani penilaian valuasi.

Penilaian Kenny Polcari dari SlateStone Wealth menekankan bahwa premi risiko tidak hanya bersifat sementara. Kekhawatiran terhadap pasokan energi yang berpotensi keluar dari Teluk dinilai nyata, sehingga investor cenderung menunggu konfirmasi lebih lanjut sebelum meningkatkan posisi.

Di saat yang sama, sinyal politik dari kawasan ikut memperpanjang ketidakpastian. Pernyataan pejabat senior Republik Islam soal serangan balasan jika AS terus menekan wilayah dan infrastruktur turut menjaga atmosfer waspada, sementara Donald Trump meremehkan kekhawatiran harga minyak dan perang dengan mengaitkannya pada proses pemilihan paruh waktu. Di tengah suasana itu, kabar korporasi seperti pengenalan ponsel lipat oleh Apple tidak cukup menggeser fokus pasar dari faktor geopolitik dan jalur kebijakan suku bunga.