jurnalistik.co.id – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih menyiapkan program pembelian kembali saham atau buyback dengan batas maksimal Rp5 triliun, yang direncanakan berjalan hingga Maret 2027.
Manajemen menyebutkan perseroan sudah merealisasikan buyback sekitar Rp3,5 triliun sejak tahun lalu, sehingga sisa ketersediaan dana masih menjadi bagian dari program yang sama.
Rincian program dan periode pelaksanaan
Corporate Secretary BCA, Rudy Budiardjo, menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya telah melakukan pembelian kembali saham senilai kurang lebih Rp3,5 triliun sejak tahun lalu.
Rudy menambahkan, untuk tahun berjalan perseroan masih memiliki program dengan kesiapan dana maksimal hingga Rp5 triliun.
Dalam Public Expose Live BCA pada Rabu (9/9/2026), Rudy menyatakan, “Mengenai buyback saham, so far kita telah melakukan pembelian saham itu sudah sekitar Rp3,5 triliun dari tahun lalu. Dan untuk tahun ini kita masih ada program up to Rp5 triliun,”
Ia juga menjelaskan bahwa program buyback tersebut berlaku selama satu tahun, sesuai rentang keputusan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Periode pelaksanaannya disebut sejak RUPS tahun ini yang digelar pada Maret 2026, sampai dengan RUPS tahun depan pada Maret 2027.
Pemantauan kondisi pasar
Menurut Rudy, pelaksanaan buyback akan mempertimbangkan kondisi pasar dan dinamika pergerakan saham.
BCA dapat melakukan pembelian kembali ketika kondisi pasar dinilai terlalu volatil, dengan tujuan menyesuaikan langkah perseroan terhadap situasi yang sedang terjadi.
Berita Terkait
Dengan kerangka tersebut, program buyback yang dimiliki BBCA tidak diposisikan sebagai tindakan yang berdiri sendiri, melainkan diarahkan agar tetap relevan terhadap kondisi likuiditas dan perubahan harga di pasar.
Artinya, besaran dana yang disiapkan hingga Rp5 triliun dipakai sebagai batas kemampuan pelaksanaan, sementara timing pembelian kembali disesuaikan dengan evaluasi manajemen.
Selain menunjukkan progres realisasi sekitar Rp3,5 triliun sejak tahun lalu, informasi yang disampaikan dalam pemaparan juga menegaskan keberlanjutan rencana hingga batas periode yang ditetapkan.
Rudy menempatkan sisa ruang program sebagai bagian dari kesiapan perseroan untuk memanfaatkan peluang saat pergerakan pasar dianggap memberikan sinyal risiko maupun volatilitas yang lebih tinggi.
Dengan demikian, sampai tahap yang telah disebutkan, buyback BBCA tetap berada dalam koridor program yang diputuskan melalui RUPS dan dijalankan dalam rentang Maret 2026 hingga Maret 2027.
Perseroan juga menegaskan bahwa pendekatannya mempertimbangkan kondisi pasar, sehingga aktivitas pembelian kembali dapat dilakukan ketika volatilitas dinilai meningkat.
Komunikasi manajemen yang disampaikan pada Public Expose Live BCA memperjelas dua komponen utama program, yakni realisasi pembelian kembali sekitar Rp3,5 triliun dan keberadaan program hingga Rp5 triliun untuk tahun berjalan.
Seluruhnya merujuk pada pelaksanaan yang disusun selama satu tahun melalui keputusan RUPS, serta dilaksanakan dengan mempertimbangkan kondisi pasar saat eksekusi buyback dilakukan.
Dalam pemaparannya, Rudy Budiardjo menegaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari agenda korporasi yang sudah diputuskan melalui RUPS, sehingga pelaksanaan akan mengikuti batas waktu yang ditetapkan perseroan.
Manajemen juga menggambarkan buyback sebagai mekanisme yang bersifat adaptif. Ketika pergerakan saham dinilai berpotensi membawa risiko volatilitas yang lebih besar, perseroan dapat mengatur kapan pembelian kembali dilakukan agar tetap sejalan dengan kondisi pasar saat itu.
Di sisi lain, ruang dana yang tersisa hingga plafon Rp5 triliun dipandang sebagai cadangan kapasitas. Artinya, eksekusi buyback tidak berhenti pada realisasi sekitar Rp3,5 triliun, melainkan masih memiliki kelanjutan sepanjang periode Maret 2026 sampai Maret 2027.












