Bisnis & Ekonomi

Dalam Hitungan Jam, Keputusan The Fed Berpotensi Mengguncang Dunia: Bersiaplah

×

Dalam Hitungan Jam, Keputusan The Fed Berpotensi Mengguncang Dunia: Bersiaplah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bersiaplah! Dalam Hitungan Jam, The Fed Bisa Jungkirbalikkan Dunia

jurnalistik.co.id – Pergerakan pasar keuangan Indonesia pada hari ini diprediksi masih ditentukan oleh dua agenda utama: keputusan suku bunga The Fed dan rangkaian data ekonomi yang menyertainya. Pelaku pasar juga menantikan sinyal kebijakan lanjutan yang dapat mengubah arah arus modal.

Sebelumnya, pasar keuangan Tanah Air mengalami tekanan yang tercermin dari pelemahan yang terjadi pada Selasa kemarin. Baik saham maupun rupiah berakhir dengan kecenderungan melemah, sejalan dengan dinamika global yang lebih dulu memberi sentimen.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa (27/10/2026) di zona merah. IHSG turun 1,99% atau 106,96 poin ke level 5.266,13, setelah sempat menyentuh level tertinggi harian 5.418,14.

Tekanan jual makin dalam pada sesi siang, terutama setelah pukul 14.00 WIB. IHSG sempat terperosok ke level 5.182,37 sebelum memangkas sebagian koreksi menjelang penutupan.

Aktivitas perdagangan mencapai 36,4 miliar saham dengan nilai transaksi Rp17,9 triliun. Dari sisi pergerakan harga, hanya 100 saham yang menguat, sementara 611 saham melemah dan 82 saham stagnan.

Investor asing mencatat net sell sebesar Rp668,26 miliar. Secara sektoral, sektor infrastruktur menjadi pemberat utama dengan penurunan 6,1%, diikuti sektor material dasar yang terkoreksi 3,7% dan sektor teknologi yang turun 2,9%.

Sejumlah saham disebut menekan pergerakan indeks, di antaranya PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), serta PT Barito Pacific Tbk (BRPT).

Dari dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada rencana reformasi pasar modal yang disiapkan Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah yang disiapkan mencakup penguatan pengawasan transaksi mencurigakan, evaluasi mekanisme pengumuman Unusual Market Activity (UMA), serta perluasan komite penilai saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration /HSC).

BEI juga merencanakan pengecualian saham kategori HSC dari penghitungan IHSG mulai 2 November 2026. Rangkaian perubahan ini disebut diarahkan untuk memperkuat transparansi serta kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.

Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda mereda. Pada perdagangan Selasa (27/10/2026), mata uang Garuda kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), melanjutkan penurunan sehari sebelumnya.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,19% ke posisi Rp18.145/US$. Posisi itu berada di dekat rekor penutupan terlemah rupiah sepanjang masa di Rp18.170/US$ pada 8 Juni 2026, sehingga jaraknya hanya 25 poin.

Sejak pembukaan perdagangan, rupiah berada di zona merah dengan melemah 0,06% ke Rp18.120/US$. Sepanjang hari, rupiah bergerak dalam rentang Rp18.120 hingga Rp18.155/US$, sebelum akhirnya mengakhiri perdagangan 10 poin lebih kuat dari posisi terlemah hariannya.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau menguat 0,16% ke posisi 102,122 pada pukul 15.00 WIB. Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stagnan di 7,454%.

Kondisi global mengarah pada wait and see

Di pasar global, Wall Street justru menguat pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia. Kenaikan didorong oleh antusiasme investor terhadap saham-saham produsen cip yang kembali menjadi incaran selama dua hari berturut-turut.

Pelaku pasar juga mencermati penurunan harga minyak serta menyerap sejumlah laporan kinerja keuangan perusahaan, di tengah dimulainya rapat kebijakan moneter dua hari Federal Reserve (The Fed).

Indeks S&P 500 naik 0,6% dan ditutup di level 7.722,60. Dow Jones Industrial Average menanjak 15,99 poin atau 0,03% ke posisi 52.377,57, sedangkan Nasdaq Composite menguat 1,18% ke level 26.477,81.

Saham Broadcom melonjak 4% setelah konsorsium perbankan yang terdiri dari Bank of America, Citi, Morgan Stanley, serta Blackstone mengumumkan pendanaan senilai US$63 miliar untuk pembelian teknologi Broadcom yang akan digunakan Anthropic.

Penguatan juga berlanjut pada saham-saham produsen cip lainnya. Micron Technology naik hampir 3%, sedangkan Advanced Micro Devices (AMD) melesat 5%.

Menurut laporan, penguatan ini memperpanjang kenaikan pada perdagangan sebelumnya yang ditopang saham-saham terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Penguatan juga dikaitkan dengan dokumen Anthropic yang diajukan untuk melantai di bursa Nasdaq.

Jika terealisasi, penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) Anthropic disebut menjadi salah satu IPO teknologi besar lainnya pada 2026, menyusul pencatatan saham SpaceX pada Juni lalu.

“Pasar secara berkala mengalami periode ketika investor khawatir terhadap belanja AI. Namun, setelah itu, saham teknologi biasanya kembali memimpin penguatan pasar,” ujar Jed Ellerbroek, manajer portofolio Argent Capital Management, dikutip dari CNBC International.

“Selama dua pekan terakhir, seolah-olah sakelar penguatan itu dimatikan. Namun, dalam dua hari pertama pekan ini, sakelar tersebut tampaknya kembali dinyalakan,” lanjut Ellerbroek. Ia menilai perusahaan pemilik pusat data tetap memiliki keyakinan untuk terus mengembangkan bisnisnya, meski perhatian terhadap volatilitas pasar modal dinilai dapat memengaruhi pendanaan perusahaan.

Sentimen pasar Selasa juga ditopang penurunan harga minyak. Pergerakan itu terjadi setelah Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dan pejabat tinggi keamanan nasional Mohsen Rezaei membahas persyaratan Iran untuk mengakhiri konflik.

Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,83% ke US$99,90 per barel. Minyak mentah Brent yang menjadi patokan global melemah 1,67% dan ditutup di US$113,88 per barel.

Di pasar saham sektor transportasi, saham JetBlue melonjak 19% meski maskapai tersebut mencatatkan kerugian pada kuartal III-2026 yang lebih besar dari perkiraan. Kenaikan saham terjadi setelah perusahaan menyatakan optimistis mampu memperluas margin keuntungan pada kuartal IV-2026.

Saham United Parcel Service (UPS) juga naik lebih dari 5% setelah kinerja kuartal III-2026 melampaui ekspektasi pasar. Dengan begitu, penguatan global tampak lebih menyebar pada sektor-sektor tertentu, meski arah keseluruhan tetap menunggu keputusan The Fed.

Agenda hari ini: The Fed, lelang SBN, dan data dari China

The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Rabu sore waktu setempat atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Bank sentral AS memperkirakan mempertahankan suku bunga, namun investor akan menunggu petunjuk terkait kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun.

Konsensus pasar memperkirakan suku bunga berada di kisaran 3,75% hingga 4,00%, setelah pada September bank sentral menaikkan bunga sebesar 25 basis poin. Meski suku bunga diproyeksikan tidak berubah, perhatian tetap tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh, terutama terkait prospek inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan peluang pengetatan kebijakan berikutnya.

Sikap yang lebih hawkish berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan aset berisiko, termasuk saham negara berkembang. Sebaliknya, sinyal bahwa tekanan inflasi mulai mereda dapat memberi ruang bagi pasar untuk menilai ulang prospek kebijakan moneter AS, yang pada gilirannya dapat memengaruhi rupiah, arus modal asing, serta daya tarik SBM.

Selain The Fed, minat lelang Surat Utang Negara (SUN) juga menjadi indikator penting. Pada Selasa (27/10/2026), minat investor dalam lelang SUN merosot tajam, dengan total penawaran masuk hanya Rp31,09 triliun. Angka itu turun 52,1% dibanding lelang sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak November 2024.

Di tengah lesunya permintaan, yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan untuk SUN tenor sekitar 10 tahun justru melonjak ke 7,54%, tertinggi sejak November 2022. Kenaikan tersebut tercatat 30 basis poin dalam dua pekan dan sekitar 147 bps dibanding awal 2026.

Pemerintah hanya menyerap SUN sebesar Rp20,65 triliun, di bawah target indikatif Rp30 triliun. Kombinasi penawaran yang melemah dan yield yang meningkat mengindikasikan tekanan pembiayaan, sekaligus berpotensi membuat biaya utang baru pemerintah menjadi lebih mahal.

Jatuhnya minat SBN dikhawatirkan dapat terus memicu outflow sehingga saham dan rupiah berpotensi tetap melemah.

Sentimen berikutnya datang dari perkembangan ekonomi China. Laba industri China naik 15,5% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi CNY 6,03 triliun dalam sembilan bulan pertama 2026. Angka itu sedikit melambat dibanding pertumbuhan 15,7% pada Januari hingga Agustus 2026.

Pertumbuhan laba masih ditopang oleh sektor manufaktur berteknologi tinggi, industri terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta peralatan elektronik, meski permintaan domestik yang masih lesu membebani sejumlah industri.

Laba perusahaan milik negara meningkat 13,1% menjadi CNY 1,94 triliun. Perusahaan berbentuk perseroan saham gabungan mencatat kenaikan laba sebesar 20,8% menjadi CNY 4,67 triliun, sedangkan laba perusahaan swasta tumbuh 8,7% menjadi CNY 1,51 triliun.

Berdasarkan sektor, pertambangan menjadi pendorong utama dengan lonjakan laba 38,2%, diikuti manufaktur yang tumbuh 17,0%. Sebaliknya, sektor utilitas mengalami penurunan laba 14,3%.

Di antara industri yang lebih spesifik, kenaikan laba tertinggi tercatat pada sektor komputer dan komunikasi sebesar 103,8%, disusul peleburan dan pengolahan logam nonferrous sebesar 79,7%, pertambangan batu bara sebesar 57,0%, serta industri kimia sebesar 49,2%.

Khusus pada September 2026, laba industri China tumbuh 14,4% yoy, melompat dibanding kenaikan 4,2% pada Agustus dan menjadi pertumbuhan tertinggi sejak Juni. Kenaikan laba industri China itu disebut menjadi angin segar bagi Indonesia.