jurnalistik.co.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyampaikan bahwa BI akan memakai pendekatan bilateral untuk memperkuat kerja sama terkait local currency transaction (LCT) dan QRIS. Dalam pembahasan yang dia sampaikan, India dan Singapura disebut masuk dalam “pipeline” rencana penguatan transaksi lintas negara.
Destry menjelaskan, kerja sama tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan ditempatkan dalam skema yang mempertemukan inisiatif BI dengan kebutuhan negara mitra. Ia menyatakan bahwa sejumlah bank sentral dari berbagai negara juga melakukan pendekatan kepada BI untuk menginisiasi kolaborasi yang berkaitan dengan QRIS dan LCT.
Pernyataan tersebut disampaikan Destry dalam Danantara Technology Investment Forum pada Senin, 26 Oktober 2026. Saat memaparkan perkembangan rencana kerja sama, Destry menyinggung kesediaan negara tertentu untuk bergabung pada skema yang dimaksud, termasuk terkait penggunaan mata uang lokal dan standar QR.
Dalam kutipan yang disampaikan Destry, ia menyebutkan, “Dan di pipeline ini banyak Pak, Singapura mereka mau gabung LCT, QRIS sudah. India dia mau gabung KRIS dan juga LCT.” Uraian itu menegaskan bahwa jalur kerja sama yang dibahas BI diarahkan untuk memperluas keterhubungan transaksi lintas negara melalui mekanisme LCT dan QRIS.
Kerja sama bilateral untuk LCT dan QRIS
Destry menekankan bahwa pendekatan bilateral menjadi cara BI memperkuat posisi kerja sama LCT dan QRIS dengan negara mitra. Dengan cara tersebut, BI dapat mengembangkan rute kolaborasi berdasarkan hubungan langsung dengan bank sentral negara yang dituju.
Menurut Destry, minat terhadap kerja sama tidak hanya datang dari BI, tetapi juga muncul dari bank sentral negara lain. Ia menyebut adanya upaya dari sejumlah bank sentral yang mendekati BI untuk menginisiasi kerja sama yang terkait QRIS dan LCT.
Berita Terkait
Destry juga menggarisbawahi bahwa proses penguatan kerja sama tengah berjalan, bukan sekadar wacana. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks forum investasi teknologi, sehingga penekanan pada jalur kerja sama dan tahapan pipeline menjadi bagian dari cara BI menyampaikan arah pengembangan transaksi.
Lebih lanjut, Destry menyampaikan gambaran kondisi kerja sama yang sedang berlangsung. Ia menyatakan bahwa saat ini BI sudah melakukan kerja sama dengan 6 hingga 7 negara, dengan transaksi yang menggunakan mata uang lokal masing-masing negara.
Uraian itu menunjukkan bahwa implementasi kerja sama LCT dan QR bukan hanya pada tahap rencana untuk negara-negara yang sedang masuk pipeline. Dengan adanya kerja sama berjalan dengan sejumlah negara, BI juga dapat mengelola pengalaman implementasi untuk memperluas kolaborasi pada tahap berikutnya.
Dalam kerangka yang disampaikan Destry, perluasan kerja sama diarahkan pada negara yang disebut memiliki minat bergabung pada skema LCT dan terkait QR. Untuk Singapura, Destry menyebut “LCT” disebut ingin bergabung, sementara “QRIS” sudah ada pada sisi yang disampaikan dalam kutipan tersebut. Untuk India, Destry menyebut India ingin bergabung dengan “KRIS” sekaligus “LCT,” yang kembali menegaskan keterkaitan perluasan transaksi lintas negara dengan kerangka mata uang lokal.
Pipeline kerja sama dan arah penguatan transaksi
Dengan menyebut pipeline, Destry menempatkan pembahasan pada tahapan setelah proses pendekatan dan inisiasi kerja sama berlangsung. Dalam penyampaian itu, BI digambarkan sedang memperluas jejaring bilateral agar penguatan LCT dan QRIS dapat menjangkau lebih banyak negara.
Di saat yang sama, Destry menegaskan bahwa komunikasi dan pendekatan antarbank sentral menjadi bagian penting dalam mendorong kerja sama tersebut. Pernyataan bahwa sejumlah bank sentral telah melakukan pendekatan kepada BI memperlihatkan bahwa dorongan penguatan transaksi lintas negara tidak bersumber dari satu pihak saja.
Secara keseluruhan, pesan yang disampaikan Destry adalah bahwa BI akan melanjutkan pendekatan bilateral untuk memperkuat LCT dan QRIS, termasuk melalui rencana perluasan kerja sama yang melibatkan India dan Singapura. Dalam konteks itu, BI juga menyatakan sudah memiliki kerja sama dengan 6 hingga 7 negara untuk transaksi berbasis mata uang lokal masing-masing, sebagai pijakan bagi pengembangan kerja sama di tahap berikutnya.












