jurnalistik.co.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai kenaikan inflasi di tingkat produsen hingga sekitar 7% belum tentu langsung tercermin pada inflasi yang dirasakan konsumen.
Penilaian itu disampaikan Destry saat menanggapi dinamika inflasi produsen yang tercatat lebih tinggi dibanding inflasi konsumen pada Oktober 2026.
Dalam data yang menjadi rujukan, inflasi produsen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Oktober 2026 mencapai 6,94%, sementara inflasi konsumen berada pada angka 3,23% pada periode yang sama.
Destry kemudian menekankan bahwa perbedaan angka tersebut tidak otomatis berarti kenaikan harga di rantai produksi akan bergerak dengan pola yang sama menuju harga yang dibayar masyarakat.
Ia menyatakan, perbandingan antara inflasi produsen dan inflasi konsumen tidak bisa dilakukan secara langsung karena keduanya menggunakan kelompok komoditas serta struktur harga yang berbeda.
Dengan kata lain, meskipun kedua indikator sama-sama menggambarkan perubahan harga, cakupan dan komponen pembentuknya tidak identik.
“Kita lihat inflasi itu kan perubahan harga, jadi tergantung komoditinya. Ini juga yang membedakan. Bisa saja di produsen, kumpulan komoditi tersebut naik 7%, tapi di konsumen itu beda. Jadi inflasi hanya naik 3,23% di Oktober ini,” kata Destry dalam Konferensi Pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Menurut penjelasan Destry, mekanisme perubahan harga dapat berbeda tergantung komoditas yang mengalami kenaikan serta cara harga tersebut akhirnya sampai ke kelompok konsumen.
Karena itu, inflasi produsen yang naik lebih cepat atau lebih tinggi tidak selalu menghasilkan respons yang sama pada inflasi konsumen pada periode yang berdekatan.
Ia juga menggarisbawahi bahwa perbedaan komoditas di masing-masing pengukuran menjadi kunci untuk memahami jarak antara angka inflasi produsen dan inflasi konsumen.
Berita Terkait
Dalam pandangan Destry, ada kondisi ketika komoditas tertentu dalam keranjang produsen bergerak lebih tinggi, tetapi komoditas yang memengaruhi keranjang konsumen tidak menunjukkan lonjakan dengan besaran yang sama.
Destry lantas mengingatkan bahwa meski hubungan transmisi tidak bersifat langsung, kenaikan inflasi di tingkat produsen tetap perlu diwaspadai bila berlangsung dalam jangka menengah hingga panjang.
Perhatian itu terutama relevan bila komoditas yang harganya naik pada level produsen juga merupakan barang yang dikonsumsi masyarakat.
“Meski demikian, dia mengingatkan kenaikan inflasi produsen tetap perlu diwaspadai apabila berlangsung dalam jangka menengah hingga panjang,” demikian penekanan yang disampaikan dalam kesempatan tersebut.
Dengan arah kehati-hatian itu, Destry menempatkan ekspektasi bahwa dampak berpotensi berbeda antarperiode dan bergantung pada komoditas yang menjadi faktor utama perubahan harga.
Penilaian tersebut sekaligus menjadi respons atas perbedaan capaian inflasi pada Oktober 2026, ketika inflasi produsen berada di 6,94% dan inflasi konsumen berada di 3,23%.
Destry menilai, tanpa memahami perbedaan komoditas dan struktur harga pada masing-masing pengukuran, publik bisa keliru menyimpulkan hubungan sebab-akibat yang langsung dari inflasi produsen ke inflasi konsumen.
Namun, ia juga tidak menutup kemungkinan bahwa kenaikan yang terjadi di tingkat produsen dapat berubah karakter ketika berlangsung lebih lama dan mengenai komoditas yang sama yang dibeli konsumen.
Dalam konteks itulah, kewaspadaan jangka menengah hingga panjang menjadi poin penting dari pesan yang disampaikan Destry pada Konferensi Pers KSSK di Jakarta.
Dalam penjelasannya, Destry juga mengarahkan pembacaan publik agar tidak menyamakan keduanya sebagai satu garis transmisi yang bergerak otomatis. Inflasi produsen dan inflasi konsumen memakai pendekatan pengukuran yang berbeda, sehingga perubahan yang tampak pada salah satu indikator perlu dibaca bersama konteks komoditas serta bobot yang membentuk masing-masing keranjang.
Karena itu, ketika angka yang terlihat di tahap awal produksi lebih tinggi, respons di tingkat harga yang dibayar masyarakat tetap bisa tertunda, berubah arah, atau bergerak dengan intensitas yang lain. Pesan utamanya adalah kehati-hatian: hubungan yang tidak langsung tetap menuntut pemantauan, terutama bila komoditas yang melonjak di produsen beririsan dengan barang yang dominan dikonsumsi konsumen.












