jurnalistik.co.id – Pekan ini mayoritas mata uang Asia kembali mendapat tekanan setelah dolar Amerika Serikat (AS) menguat, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap tinggi. Kombinasi keduanya ikut mengubah arah pergerakan kurs di beberapa negara kawasan.
Pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (9/10/2026), rupiah ditutup di level Rp17.875/US$, melemah dibandingkan penutupan pekan sebelumnya di Rp17.868/US$. Jika dilihat dari pergerakan mingguan, rupiah mencatat pelemahan tipis 0,04%, sekaligus mengakhiri penguatan 0,07% pada pekan sebelumnya.
Meskipun melemah, kinerja rupiah masih relatif lebih baik dibanding sejumlah mata uang Asia lain. Hal ini tercermin dari komposisi pergerakan lintas mata uang yang umumnya bergerak turun terhadap dolar AS sepanjang pekan.
Mayoritas melemah, dorongan dolar berasal dari imbal hasil dan ekspektasi suku bunga
Menurut data Refinitiv, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak enam mata uang melemah terhadap dolar AS. Sisanya mencatat penguatan, namun tetap berada dalam bayang-bayang penguatan dolar dan mahalnya biaya pendanaan berbasis imbal hasil.
Dari kelompok yang menguat, dong Vietnam menjadi yang paling solid karena naik 0,40% sepanjang pekan menjadi VND25.879/US$. Setelah itu, yuan China menguat 0,19% ke posisi CNY6,692/US$, disusul won Korea Selatan yang naik 0,17% ke KRW1.340,25/US$.
Baht Thailand juga ikut bergerak naik dengan penguatan 0,09% ke THB33,50/US$. Sebaliknya, dolar Taiwan menjadi yang tertekan terdalam dengan pelemahan 0,36% menjadi TWD31,917/US$.
Tekanan juga terasa pada beberapa mata uang lain, termasuk peso Filipina yang turun 0,32% dan yen Jepang yang terkoreksi 0,30%. Dolar Singapura melemah 0,12% dan ringgit Malaysia turun 0,05%, sementara rupiah mencatat pelemahan paling tipis sebesar 0,04% dibanding sebagian besar rivalnya.
Penguatan dolar AS terlihat dari indeks dolar AS (DXY) yang mencatat kenaikan 0,27% secara mingguan ke level 102,23. Pergerakan ini membuat dolar AS mencatat kenaikan selama empat pekan berturut-turut.
Salah satu pendorongnya adalah imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih berada di level tinggi. Mengutip Reuters, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun pada Jumat naik 2,8 basis poin menjadi 5,261%.
Berita Terkait
Imbal hasil tersebut sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun pada Rabu (7/10/2026). Namun demikian, secara mingguan imbal hasil tenor 10 tahun justru turun 3,5 basis poin, dengan penurunan mingguan terbesar dalam dua bulan.
Walau terjadi penurunan mingguan, level imbal hasil yang tetap tinggi membuat aset berdenominasi dolar AS tetap menarik bagi investor. Kondisi ini berpotensi menjaga permintaan terhadap dolar, sekaligus memberi tekanan pada mata uang yang berbasis selain dolar.
Harga minyak masih tinggi, menjadi risiko tambahan bagi negara importir energi
Selain imbal hasil obligasi AS, harga minyak dunia yang bertahan tinggi juga menjadi faktor penting dalam pergerakan mata uang global. Pada perdagangan Jumat (9/10/2026), minyak Brent ditutup di level US$104,72 per barel.
Harga Brent masih bertahan di atas level US$100, didukung oleh gangguan pasokan energi serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Dalam konteks kurs, harga minyak yang tinggi berpotensi memperbesar tekanan pada negara-negara yang bergantung pada impor energi.
Kenaikan biaya impor dapat memperburuk neraca perdagangan dan, pada akhirnya, meningkatkan kebutuhan terhadap dolar AS. Dalam laporan tersebut, kondisi ini disebut sebagai salah satu risiko bagi mata uang negara importir energi, termasuk yen Jepang.
Di sisi lain, kenaikan harga energi juga dapat menjaga inflasi AS tetap relatif tinggi. Situasi tersebut dinilai berpotensi memperkuat alasan bagi otoritas moneter AS untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
Fed tetap hawkish, kurs Asia menghadapi tantangan
Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, pada Kamis (8/10/2026) menyatakan bahwa bank sentral AS masih perlu menaikkan suku bunga untuk membawa inflasi kembali menuju target 2%. Pernyataan ini menegaskan arah kebijakan yang masih menuntut pengetatan.
Ekspektasi terhadap pengetatan moneter tersebut dipandang menjadi tantangan bagi mata uang Asia. Alasannya, suku bunga AS yang tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar, sehingga investor cenderung mempertahankan posisi dalam instrumen dolar.
Dengan latar tersebut, pergerakan kurs pekan ini memperlihatkan dominasi dolar AS dalam menentukan arah mata uang di kawasan. Di tengah tekanan yang meluas, dong Vietnam menjadi pengecualian utama karena mampu mencatat penguatan paling kuat, sementara mata uang lain umumnya melemah terhadap dolar.












