jurnalistik.co.id – Sepanjang 2026, rupiah bergerak melemah dengan pola yang konsisten dan menarik perhatian pasar valas. Bukan hanya terhadap dolar Amerika Serikat (AS), mata uang Indonesia itu juga tertinggal dibandingkan mata uang utama di Asia.
Dalam pembacaan data Bloomberg per Senin (5/10/2026), sepanjang tahun berjalan rupiah disebut melemah di hadapan semua mata uang Asia. Artinya, ketika mayoritas mata uang regional menguat terhadap rupiah, depresiasi rupiah terjadi secara luas, bukan pada satu pasangan nilai tukar saja.
Pelemahan rupiah paling tajam tercatat terhadap won Korea Selatan. Hingga periode yang diacu dalam laporan, won melemah sampai 12,8% terhadap rupiah, dan penurunan ini berada di atas pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Bloomberg mencatat, pelemahan rupiah terhadap dolar AS sepanjang tahun ini mencapai 6,93% per 5 Oktober 2026. Dengan angka tersebut, kinerja rupiah di hadapan dolar AS terlihat lemah, tetapi tidak sedrastis penurunan terhadap won Korea Selatan.
Data kinerja rupiah terhadap mata uang Asia sepanjang 2026 juga memperlihatkan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi di satu titik waktu. Pergerakan hingga 5 Oktober 2026 menunjukkan tren yang sama, yaitu rupiah berada pada posisi terendah dibandingkan banyak mata uang Asia lainnya.
Sejak awal tahun, arah penguatan dolar AS memang disebut cenderung dominan. Namun, laporan tersebut menegaskan bahwa hanya mengaitkan pelemahan rupiah semata-mata pada dolar AS tidak cukup untuk menjelaskan keseluruhan kondisi.
Dari sisi mata uang terhadap dolar AS, Bloomberg menyebut hanya beberapa yang mencatat penguatan sepanjang 2026. Won Korea Selatan, yuan China, yuan offshore, serta dolar Singapura tercatat menguat terhadap dolar AS selama periode yang sama.
Berita Terkait
Sementara itu, mata uang Asia lainnya bergerak melemah terhadap dolar AS. Kombinasi dinamika “dolar menguat” dan “sebagian mata uang regional melemah terhadap dolar” menjadi konteks penting untuk membaca arah pergerakan rupiah.
Laporan kemudian menyoroti bahwa rupiah menjadi salah satu yang tertekan di kawasan Asia terhadap dolar AS. Dalam narasi pasar, rupiah disebut berada di posisi terlemah, dengan pelemahan yang terukur sepanjang tahun berjalan.
Namun, bagian yang lebih menentukan ada pada perbandingan rupiah dengan mata uang Asia secara lebih luas. Ketika hampir semua mata uang Asia bergerak menguat terhadap rupiah, maka penyebab pelemahan rupiah tidak bisa dipahami sebagai cerita tunggal dari penguatan dolar AS.
Fakta bahwa mata uang regional secara umum menguat terhadap rupiah menunjukkan adanya faktor lain yang bekerja. Dengan kata lain, ada faktor spesifik domestik yang membuat rupiah tertinggal dibandingkan mata uang di kawasan.
Kesimpulan tersebut muncul karena arah gerak yang berlawanan antara rupiah dan sebagian besar mata uang Asia sangat jelas. Bila persoalan utamanya hanya berasal dari dolar AS, pola penguatan terhadap rupiah seharusnya tidak sedemikian menyeluruh pada banyak pasangan nilai tukar.
Periode evaluasi yang ditetapkan dalam laporan juga memperkuat pembacaan tren. Semua angka yang dirujuk—termasuk pelemahan won Korea Selatan hingga 12,8% dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS sebesar 6,93%—diikat pada konteks sepanjang 2026 hingga 5 Oktober 2026.
Melalui rangkaian data tersebut, pasar mendapatkan gambaran bahwa tekanan terhadap rupiah bersifat luas dan terukur. Pelemahan yang terjadi terhadap berbagai mata uang Asia menunjukkan rupiah menghadapi tekanan yang tidak berdiri sendiri pada satu faktor eksternal.
Pada akhirnya, pertanyaan “mengapa rupiah tertekan” mendapatkan jawaban yang sejalan dengan data yang ditampilkan. Penguatan dolar AS memang menjadi bagian dari cerita, tetapi penguatan hampir semua mata uang Asia terhadap rupiah mengisyaratkan adanya faktor spesifik dari dalam negeri yang ikut menentukan arah pasar valas.












