jurnalistik.co.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi tekanan dari luar negeri, bukan karena masalah di dalam negeri. Menurutnya, kondisi ekonomi domestik masih relatif terjaga sehingga klaim bahwa pelemahan rupiah semata-mata berasal dari faktor domestik tidak sepenuhnya tepat.
Destry menyebut sampai kuartal II-2026, perekonomian Indonesia masih tumbuh sebesar 5,29% dan inflasi tetap berada dalam kendali. Ia juga menyinggung adanya kenaikan inflasi pada September, terutama dipicu volatile food inflation, namun tetap dapat dikelola.
“Faktor yang mempengaruhi rupiah kan banyak ya, enggak semuanya hanya domestik, walaupun di domestik kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi kita so far oke, sampai kuartal II-2026 masih tumbuh 5,29%. Inflasi, walaupun kemarin di September agak naik sedikit, ada volatile food inflation naik, tapi masih manageable,” kata Destry dalam wawancara eksklusif di Central Banking CNBC Indonesia, dikutip Jumat (9/10/2026).
Dalam penjelasannya, Destry menempatkan pelemahan rupiah pada arus pengaruh global yang menekan sentimen pasar. Salah satu pemicu yang dia tekankan adalah fenomena pelarian modal investor asing atau capital flight, yang membuat aliran dana keluar dari negara berkembang meningkat.
“Ada potensi capital flight global, di mana mereka (investor asing) mencari aset-aset yang sekiranya buat mereka itu relatif aman. Dalam hal ini, orang yang megang dolar mungkin dianggap mereka masih relatif aman, jadi kita mulai melihat banyak capital outflow dari negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia,” terang Destry.
Destry menjelaskan, adanya capital flight tersebut berimplikasi pada tekanan terhadap rupiah. Selain mata uang, arus dana juga terlihat memengaruhi kepemilikan investor asing pada instrumen surat berharga negara (SBN). Imbasnya, instrumen SBN sempat mencatatkan outflow asing yang cukup besar.
Ia kemudian mengaitkan dinamika tersebut dengan penyesuaian posisi investor di instrumen keuangan domestik. “Jadi ini juga menyebabkan kenapa juga akhirnya kita sempat mengalami outflow di SBN, termasuk juga di SRBI,” ujar Destry.
Berita Terkait
Sentimen global: inflasi, risiko fiskal, dan lonjakan kebutuhan valuta
Di luar faktor capital flight, Destry menambahkan bahwa pelemahan rupiah juga bersumber dari kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global dan risiko fiskal. Kondisi tersebut, menurutnya, ikut membentuk preferensi investor dan memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Tekanan global juga diperkuat oleh pergerakan harga minyak. Destry menyebut harga minyak berada di atas US$108 per barel karena belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz. Ia menilai kenaikan komoditas energi seperti ini dapat ikut menambah kecemasan pasar terhadap arah inflasi dan stabilitas ekonomi global.
Selain itu, menjelang akhir kuartal III-2026, Destry menyinggung adanya peningkatan kebutuhan valuta asing oleh importir. Aktivitas kebutuhan valas tersebut biasanya mendorong permintaan terhadap dolar, sehingga ikut memberi tekanan terhadap rupiah di periode berjalan.
Meskipun demikian, Destry menekankan bahwa pergerakan rupiah masih sejalan dengan dinamika mata uang di kawasan (regional). Dengan kata lain, pelemahan rupiah terlihat terbatas secara quarter-to-date (qtd), yakni sebesar 0,67%.
Dengan kerangka tersebut, Destry menegaskan pandangannya bahwa pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri karena faktor domestik, melainkan terkait kombinasi tekanan eksternal—mulai dari capital flight global, kekhawatiran inflasi dan risiko fiskal, hingga pengaruh harga minyak serta peningkatan kebutuhan valuta menjelang akhir kuartal III-2026.
Destry juga menilai, respons pasar terhadap faktor eksternal itu tercermin dari cara investor menilai imbal hasil dan tingkat risiko lintas kawasan. Ketika sentimen global melemah, perubahan preferensi tersebut biasanya ikut mempercepat pergeseran permintaan maupun penawaran mata uang di pasar keuangan.
Ia menambahkan, kenaikan tekanan rupiah tetap harus dilihat dalam konteks rentang waktu yang berjalan. Artinya, meski ada dorongan pelemahan yang datang dari luar, dampaknya tidak otomatis langsung mengubah kondisi fundamental yang sebelumnya relatif terjaga, termasuk dari sisi pertumbuhan dan inflasi yang masih bisa dikelola.












