Bisnis & Ekonomi

Penyebab IHSG Melemah 1% dan Berakhir di 6.298

×

Penyebab IHSG Melemah 1% dan Berakhir di 6.298

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Alasan IHSG Ditutup Melemah 1% di 6.298 - Market

jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (24/9/2026). Pada akhir sesi, IHSG turun 1,2% dan berada di level 6.298,6.

Sepanjang jalannya transaksi, pergerakan pasar sempat berada di zona merah sebelum tekanan jual makin terasa. IHSG mencatat rentang perdagangan dari 6.368,57 hingga 6.287,45.

Pelemahan terutama terlihat pada saham berkapitalisasi besar. Koreksi ini membuat laju indeks sulit tertahan selama sesi pagi hingga mendekati penutupan.

Di antara kontributor terbesar, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turut memperberat penurunan. Tekanan tambahan juga datang dari PT Amman Mineral Tbk (AMMN) yang ikut menyeret pergerakan.

Dengan komposisi saham berbobot besar yang melemah bersamaan, bursa menjadi lebih rentan terhadap perubahan sentimen global. Kondisi tersebut tercermin dari pelemahan yang terus berlanjut sepanjang hari.

Selain faktor saham-saham utama, sentimen pasar juga dibebani oleh lonjakan yield obligasi pemerintah. Kenaikan yield terjadi pada obligasi pemerintah dengan tenor jangka menengah dan panjang yang diterbitkan oleh sejumlah negara dengan ekonomi terbesar.

Negara-negara tersebut mencakup Amerika Serikat (AS), Jepang, Prancis, dan Inggris. Kenaikan yield membuat biaya pendanaan utang negara-negara itu terus bertambah, sementara tekanan inflasi turut terseret oleh biaya energi yang masih berlanjut.

Di sisi lain, pasar juga menilai arah kebijakan moneter global dengan lebih hati-hati. Kehati-hatian investor muncul seiring meningkatnya ekspektasi terhadap langkah hawkish Bank Sentral AS, atau Federal Reserve/The Fed, yang berpotensi mendorong perilaku investasi yang lebih defensif.

Kombinasi sentimen tersebut berdampak pada nilai tukar rupiah. Rupiah melemah 0,57% ke level Rp17.901/US$, sejalan dengan meningkatnya preferensi pasar untuk mengurangi risiko.

Dalam pembacaan teknikal, pelemahan hari ini juga terlihat dari posisi indeks terhadap indikator tren. IHSG disebut terseret berada di bawah level MA5 dan MA100.

Indikator momentum memperlihatkan kondisi yang sejalan dengan tekanan tersebut. Histogram MACD masih bergerak di area negatif, sementara Stochastic RSI berada pada wilayah oversold.

Temuan indikator itu dikutip dari Phintraco Sekuritas sebagai bagian dari evaluasi kondisi perdagangan. Dengan sinyal tersebut, pola pergerakan mengarah pada gambaran bahwa indeks sedang mengalami tekanan yang konsisten selama sesi berjalan.

Secara keseluruhan, dinamika Kamis ini memperlihatkan keterkaitan antara faktor domestik yang bersumber dari saham berbobot besar dan faktor eksternal dari pergerakan pasar obligasi serta mata uang. Saat yield obligasi global meningkat dan rupiah ikut melemah, arus sentimen menjadi semakin menekan laju indeks.

Pada akhirnya, penutupan di 6.298,6 menjadi ringkasan dari pertemuan beberapa pemicu sekaligus. Koreksi dari BMRI, BBRI, serta AMMN, ditambah dengan tekanan dari yield obligasi pemerintah dan pelemahan rupiah, menjadi latar utama perjalanan IHSG pada 24 September 2026.

Di tengah tekanan tersebut, pelaku pasar tampak menjaga posisi dengan lebih selektif setelah melihat pergerakan indeks yang sempat berada di rentang lebar. Ketika jualan makin dominan, indeks pun sulit kembali menguat hingga akhir sesi.

Perubahan sentimen tidak hanya datang dari pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar, tetapi juga dari respons terhadap imbal hasil obligasi yang cenderung naik. Kenaikan yield yang berulang pada obligasi berdenominasi negara-negara maju turut membuat biaya pendanaan bergerak ke level yang lebih tinggi.

Investor juga merespons prospek kebijakan moneter global dengan kehati-hatian. Ekspektasi terhadap sikap hawkish The Fed mendorong pendekatan investasi yang lebih defensif, sehingga pasar cenderung menilai ulang risiko melalui indikator nilai tukar.

Sejalan dengan itu, rupiah yang melemah ke Rp17.901/US$ memperkuat gambaran tekanan sentimen yang saling terkait. Dari sisi teknikal, posisi IHSG yang berada di bawah MA5 dan MA100, serta MACD yang masih berada di area negatif dengan Stochastic RSI di wilayah oversold, menegaskan bahwa tekanan jual masih terjaga dalam struktur pergerakan.