jurnalistik.co.id – Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva menilai ekonomi global memang mampu melewati guncangan harga energi yang dipicu konflik Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah. Namun, menurutnya dunia belum bisa benar-benar merasa aman karena tekanan tersebut berpotensi muncul kembali, terutama bila kebijakan fiskal dan moneter tidak dijaga.
Georgieva mengatakan daya tahan ekonomi global terhadap lonjakan biaya energi sejauh ini lebih kuat dari perkiraan sebelumnya. Meski demikian, ia mengingatkan kondisi fiskal sejumlah negara justru makin melemah saat potensi guncangan harga energi di pasar dunia masih tetap tinggi.
“Sejauh ini, ekonomi global telah melewati guncangan energi akibat penutupan Selat Hormuz lebih baik dari yang kami khawatirkan,” kata Georgieva, merujuk penilaian yang ia sampaikan dalam forum internasional. Ia menyampaikan peringatan tersebut menjelang pertemuan tingkat menteri keuangan G20 di Asheville, Carolina Utara, pada 25 Agustus 2026.
Dalam kesempatan itu, Georgieva menggambarkan situasi ekonomi global saat ini seperti “tarik-menarik” antara tekanan negatif dari gangguan pasokan energi di kawasan Teluk dan dorongan positif dari lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI). Dorongan dari investasi AI disebut mulai merambah keluar Amerika Serikat.
Meski demikian, arah prospek ekonomi global menurut Georgieva tetap lebih condong ke sisi negatif dibandingkan proyeksi sebelumnya. Ia menilai risiko terhadap prospek global kini lebih seimbang dibanding proyeksi April lalu, tetapi faktor penghambat masih lebih dominan.
Penyebab utama, menurut Georgieva, datang dari membesarnya tekanan fiskal serta kemungkinan bank sentral harus mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam waktu yang lebih panjang. Kebijakan ketat tersebut dibutuhkan untuk meredam inflasi yang belum sepenuhnya mereda.
Georgieva juga menekankan bahwa pertumbuhan global masih memiliki ketahanan menghadapi berbagai beban, mulai dari level utang yang tinggi hingga inflasi yang bertahan. Di saat yang sama, ketegangan dagang antarnegara turut menjadi sumber ketidakpastian yang membayangi.
Ia menyebut dunia mampu melewati dampak penutupan Selat Hormuz berkat kombinasi beberapa faktor yang saling melengkapi. Salah satunya adalah pemanfaatan cadangan minyak dan gas oleh banyak negara ketika pasokan di kawasan Teluk terganggu.
Selain cadangan energi, Georgieva mengaitkan ketahanan itu dengan peningkatan pasokan energi dari luar kawasan Teluk. Ia juga menyebut adanya penurunan permintaan energi, perluasan kapasitas energi terbarukan, hingga kembalinya sejumlah negara menggunakan pembangkit listrik berbasis batu bara.
Di sisi lain, gelombang investasi AI di Amerika Serikat dinilai turut menopang kinerja laba korporasi sekaligus menjaga belanja konsumen tetap kuat. Tren serupa, kata Georgieva, mulai tampak di negara lain yang sedang gencar membangun pusat data dan memperkuat rantai pasok perangkat keras AI.
Georgieva tidak menyampaikan proyeksi baru dalam pernyataan kali ini. Namun, ia mengingatkan posisi IMF sebelumnya: pada Juli lalu IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3,0% dan mewanti-wanti risiko tambahan akibat perang di Timur Tengah, fragmentasi perdagangan, serta ketidakpastian seputar AI.
Berita Terkait
Georgieva menyebut proyeksi terbaru rencananya akan diumumkan pada pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok pada pertengahan Oktober. Dengan demikian, proyeksi itu diproyeksikan menjadi penanda penting untuk menilai apakah risiko energi dan inflasi benar-benar melandai.
Masuk ke bagian peringatan utamanya, Georgieva menegaskan bahwa guncangan energi belum berakhir. “Guncangan energi ini belum berakhir,” tegasnya, terutama ketika lonjakan harga minyak berpotensi kembali terjadi dan memicu inflasi baru.
Menurut Georgieva, inflasi yang muncul kembali akan mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan yang ketat. Konsekuensi kebijakan tersebut, ia tambahkan, dapat merambat ke biaya pembayaran utang dan memengaruhi aktivitas ekonomi secara lebih luas.
Ia juga menyerukan agar negara-negara segera membenahi persoalan fiskal masing-masing dengan menyusun rencana yang kredibel. Tujuannya agar utang serta defisit tetap berada pada jalur yang berkelanjutan, bukan hanya bertahan di jangka pendek.
Meskipun tidak menyebutkan negara secara spesifik, pernyataan Georgieva muncul setelah imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi dalam 19 tahun terakhir. Lonjakan itu dilaporkan membuat Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengambil langkah mengejutkan dengan menggandakan ukuran pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang guna menahan laju kenaikan biaya pinjaman.
IMF sendiri, kata Georgieva, sudah lama mendesak Washington untuk memangkas defisit fiskalnya yang terus membengkak. Langkah tersebut juga diyakini berpotensi membantu mengecilkan defisit neraca dagang dan transaksi berjalan AS.
Georgieva menegaskan bank sentral di berbagai negara harus tetap “fokus penuh” menjalankan mandat stabilitas harga. Ia mengakui, kebijakan moneter ketat memiliki risiko menahan laju pertumbuhan ekonomi, tetapi mandat stabilitas harga tetap menjadi prioritas di tengah risiko inflasi.
Selain stabilitas harga dan inflasi, Georgieva menyoroti perlunya penanganan ketimpangan ekonomi global. Ia menyebut ketimpangan menjadi biang keladi ketegangan dagang yang dapat memperburuk ketidakpastian bagi dunia usaha dan rumah tangga.
Dalam konteks tersebut, Georgieva selama ini dikenal mendorong China untuk mengubah model pertumbuhan ekonominya. Perubahan yang dimaksud adalah beralih dari ketergantungan ekspor besar-besaran menuju pasar global menjadi lebih bertumpu pada konsumsi domestik.
“Ekonomi yang lebih seimbang berarti ekonomi global yang lebih kuat, dan itu baik untuk semua pihak,” ujar Georgieva. Ia juga mengakui tujuan itu akan lebih sulit dicapai di tengah dunia yang kian terfragmentasi oleh berbagai kebijakan dan kepentingan.
IMF, lanjutnya, tengah menyempurnakan model penilaian neraca eksternal. Georgieva menambahkan lembaga itu akan memperdalam analisis terkait faktor-faktor pemicu ketimpangan global, termasuk interaksi antara tren makroekonomi, kebijakan dagang, dan kebijakan industri, yang akan dituangkan dalam serangkaian kajian mendatang.
Ia menutup peringatannya dengan menempatkan harga energi sebagai titik perhatian berkelanjutan. Georgieva mengingatkan bahwa harga minyak mentah acuan Brent masih bertahan di kisaran US$80-90 per barel sejak pertengahan Juni, jauh di bawah puncaknya yang sempat menembus US$118 pada musim semi lalu—meski demikian, potensi lonjakan kembali tetap harus diwaspadai.












