jurnalistik.co.id – PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menyampaikan besaran bunga kredit untuk pembiayaan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih melalui PT Agrinas Pangan Nusantara.
Dalam pengungkapan kepada publik, BNI menyebut bunga tersebut dipatok sekitar 6% per tahun.
Angka itu berada di bawah rata-rata bunga kredit komersial BNI yang berada di kisaran 7%.
Manajemen BNI menjelaskan perbedaan skema pricing ini tidak berdiri sendiri, melainkan mempertimbangkan karakteristik program serta sumber pembayaran kredit yang dinilai memiliki risiko lebih rendah.
Menurut manajemen, untuk skema Koperasi Desa Merah Putih, BNI menyalurkan pembiayaan melalui Agrinas.
“Untuk Koperasi Desa Merah Putih, kita melalui Agrinas. Bunganya sekitar 6%, sementara rata-rata komersial kita sekitar 7%,” ujar manajemen BNI dalam Public Expose, Rabu (9/9/2026).
BNI juga menekankan bahwa tingkat bunga program tersebut tidak sama persis dengan produk kredit komersial yang umumnya menggunakan struktur pembayaran yang berbeda.
Dengan demikian, penentuan tingkat bunga pada program ini diarahkan oleh faktor risiko yang dipandang berbeda dibandingkan kredit komersial pada umumnya.
Manajemen BNI menyatakan bahwa salah satu pertimbangan utama berasal dari pola pembayaran (repayment source) yang disebut secara tidak langsung terkait APBN.
“Karena repayment source secara tidak langsung dari APBN, sehingga secara teori risikonya lebih rendah,” ujarnya.
Penyebutan hubungan yang tidak langsung dengan APBN menjadi bagian dari argumentasi mengapa bunga program Koperasi Desa Merah Putih dapat berada pada level yang lebih rendah daripada rata-rata kredit komersial BNI.
Dalam penjelasan tersebut, BNI menempatkan faktor risiko sebagai dasar logika penetapan harga, sehingga bunga yang ditawarkan mengikuti profil risiko yang dianggap lebih rendah.
Berita Terkait
BNI memandang pola tersebut membuat penghitungan risiko teori turut berubah dibandingkan skema kredit yang sepenuhnya bergantung pada pembayaran dari sumber non-APBN.
Karena itu, besaran 6% per tahun untuk program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih diposisikan sebagai angka yang mencerminkan karakteristik pembiayaan program.
Di sisi lain, rata-rata bunga kredit komersial BNI di kisaran 7% disebut sebagai pembanding yang menunjukkan jarak level bunga antara skema program dan kredit komersial.
Perbandingan ini sekaligus menggambarkan bahwa BNI memisahkan pendekatan penetapan bunga berdasarkan jenis skema pembiayaan yang digunakan.
Public Expose yang disampaikan pada Rabu (9/9/2026) menjadi rujukan utama bagi publikasi informasi terkait bunga pembiayaan tersebut.
Dalam forum itu, manajemen menegaskan angka sekitar 6% per tahun untuk Koperasi Desa Merah Putih, sekaligus menyebut rata-rata komersial sekitar 7% sebagai acuan pembanding.
Pola komunikasi yang menonjolkan angka-angka tersebut menunjukkan BNI ingin memberikan kejelasan mengenai besaran bunga program dan alasan di balik perbedaan dengan kredit komersial.
Dengan menautkan perbedaan bunga pada aspek sumber pembayaran yang dinilai memiliki risiko lebih rendah, BNI menempatkan argumentasi tersebut sebagai penguat terhadap keputusan pricing.
Secara ringkas, bunga sekitar 6% per tahun untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, yang disalurkan melalui Agrinas, ditetapkan lebih rendah dari rata-rata bunga kredit komersial BNI sekitar 7%.
Perbedaan itu dijelaskan melalui pertimbangan profil risiko, khususnya dari repayment source yang disebut secara tidak langsung berasal dari APBN sehingga risikonya diperkirakan lebih rendah menurut perhitungan teori.
Dalam Public Expose tersebut, BNI memosisikan penetapan bunga program sebagai bagian dari desain skema, bukan sekadar penyesuaian angka secara umum. Manajemen mengaitkannya dengan penilaian risiko yang terbentuk dari karakter pembiayaan serta sumber pembayaran yang menjadi landasan penghitungan.
Karena itu, perbedaan level bunga antara kisaran 6% pada skema Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan kisaran 7% untuk kredit komersial dipaparkan sebagai hasil dari perbedaan pendekatan. BNI menegaskan bahwa struktur pembayaran yang dinilai terkait secara tidak langsung dengan APBN ikut memengaruhi asumsi risiko teori, sehingga harga program dapat tampil lebih rendah.












