Bisnis & Ekonomi

IHSG Cenderung Bearish, Kebijakan Bank Indonesia Jadi Penentu Arah

×

IHSG Cenderung Bearish, Kebijakan Bank Indonesia Jadi Penentu Arah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: IHSG Konsolidasi Bearish, Dibayangi Arah Bank Indonesia - Market

jurnalistik.co.id – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini diprediksi masih cenderung berat, sejalan dengan skenario konsolidasi bearish yang diyakini sebagian analis. Fokus perhatian pasar juga mengarah pada kebijakan Bank Indonesia menjelang putaran Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22–23 September.

Menurut konsensus analis, pergerakan indeks tidak hanya ditentukan sentimen internal, tetapi juga respons terhadap dinamika suku bunga global. Investor terlihat menunggu arah kebijakan BI setelah sentimen eksternal dipicu oleh langkah The Fed dan BOJ yang kompak menaikkan suku bunga.

Dalam proyeksi yang beredar, BI-Rate diperkirakan bertahan di level 5,75%. Stabilitas rupiah menjadi salah satu variabel yang mendapat penekanan, karena perubahan ekspektasi terhadap jalur suku bunga berpotensi memengaruhi arus modal dan harga aset di pasar.

Tekanan masih terbaca dari indikator teknikal

Di sisi teknikal, penguatan posisi beli belum terlihat cukup untuk membalik kecenderungan jangka pendek. Reza Diofanda, Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, menilai IHSG masih berada dalam fase yang sama dengan karakter konsolidasi bearish.

“Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase konsolidasi bearish setelah breakdown MA20 6.551 dan MACD mempertahankan bearish crossover,” kata Reza Diofanda lewat catatannya, Senin (21/9/2026).

Reza menjelaskan bahwa fase konsolidasi tersebut terbentuk setelah indeks komposit mengalami breakdown pada level moving average (MA) 20 di 6.551. Pada saat yang bersamaan, moving average convergence divergence (MACD) tetap mempertahankan bearish crossover, sehingga sinyal yang terbaca cenderung mendukung skenario tekanan lanjutan ketimbang pembalikan arah yang cepat.

Dengan pola seperti itu, pasar dinilai lebih mungkin bergerak dalam rentang penyesuaian sebelum ada katalis yang benar-benar mampu mengubah arah. Konsolidasi bearish biasanya mencerminkan ketidakpastian yang tinggi, di mana pelaku pasar cenderung menunggu konfirmasi tambahan sebelum mengambil posisi lebih agresif.

Kebijakan BI jadi penentu fokus pasar

Di tengah kondisi itu, perhatian investor beralih ke agenda RDG Bank Indonesia pada 22–23 September. Arah kebijakan yang dihasilkan dari rapat tersebut dipandang dapat menentukan kelanjutan tren jangka pendek, terutama karena pasar sedang menilai kombinasi faktor domestik dan efek rambatan dari kenaikan suku bunga global.

Jika BI-Rate benar-benar tetap di 5,75% sesuai konsensus, pasar kemungkinan akan menguji respons terhadap sinyal lanjutan terkait stabilitas nilai tukar. Dalam konteks ini, rupiah menjadi variabel yang dianggap krusial setelah meningkatnya perhatian terhadap kondisi moneter global.

Selain keputusan kebijakan, arah komunikasi kebijakan juga dapat memengaruhi ekspektasi pelaku pasar. Ketika investor mengantisipasi perkembangan RDG, pergerakan IHSG berpeluang tetap dibayangi dinamika konsolidasi, terutama selama indikator teknikal belum menunjukkan perubahan yang menegaskan pembalikan arah.

Secara keseluruhan, kombinasi sinyal teknikal yang masih bearish dan menunggu keputusan BI pada 22–23 September membuat IHSG diproyeksikan bergerak dalam fase yang belum sepenuhnya pulih. Dengan BI-Rate yang diperkirakan bertahan di 5,75% dan stabilisasi rupiah menjadi perhatian utama, pasar menanti konfirmasi yang dapat mengarahkan indeks menuju skenario berikutnya.

Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar umumnya memilih pendekatan selektif karena sinyal teknikal belum memberi isyarat pembalikan yang meyakinkan. Selama MA20 belum kembali menunjukkan perbaikan dan momentum masih dibaca bearish, preferensi cenderung tetap pada penantian konfirmasi tambahan.

Menjelang RDG, fokus pasar juga berpusat pada bagaimana pasar membaca arah suku bunga serta dampaknya pada ekspektasi di pasar keuangan. Dengan kombinasi faktor domestik dan efek rambatan dari penguatan sentimen eksternal, pergerakan indeks berpotensi bergerak mengikuti perubahan persepsi terhadap jalur kebijakan.

Jika komunikasi kebijakan BI ikut membentuk interpretasi baru, perubahan ekspektasi tersebut dapat langsung memengaruhi minat investor, khususnya melalui perhatian pada stabilitas rupiah. Oleh karena itu, meski konsensus memperkirakan BI-Rate bertahan di 5,75%, pasar tetap menunggu rangkaian sinyal yang mampu menjembatani transisi dari konsolidasi menuju arah berikutnya.