Bisnis & Ekonomi

Dunia Terombang-ambing, BI Jadi Penentu Arah Pasar!

×

Dunia Terombang-ambing, BI Jadi Penentu Arah Pasar!

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Dunia Kacau-Balau, BI Bakal Jadi Penentu!

jurnalistik.co.id – Pekan depan, arah pasar keuangan domestik berada di bawah sorotan beberapa rilis data ekonomi dan perkembangan geopolitik. Perubahan ekspektasi dari kebijakan moneter akan menjadi penggerak utama sentimen investor, terutama dalam menilai posisi Rupiah dan arus modal.

Selain keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan efek lanjutan dari kebijakan The Fed, pasar juga akan mencermati rilis awal Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur dari sejumlah negara. Di saat yang sama, ketegangan di Timur Tengah kembali mengemuka, terutama setelah eskalasi antara kelompok Houthi dan Arab Saudi.

Keputusan suku bunga BI dalam RDG September

Pada pekan ini, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI edisi September menjadi agenda penting yang dipantau pasar. Pengumuman RDG edisi kali ini juga menandai momen pertama bagi Destry Damayanti sebagai Gubernur BI definitif, setelah resmi dilantik pada 2 September.

Menurut konsensus pasar, BI diperkirakan akan mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Sementara itu, deposit facility dan lending facility diperkirakan tetap berada pada kisaran 4,75% dan 6,5%.

Dalam RDG edisi Agustus, Destry yang saat itu masih menjabat sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI menegaskan keputusan kebijakan tetap konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah. Penjelasan itu dikaitkan dengan tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah, menjaga pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5±1% pada 2026 dan 2027, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dengan proyeksi suku bunga acuan bertahan di level 5,75%, dewan gubernur BI juga diperkirakan akan memperluas kebijakan insentif dan berbagai langkah lain. Tujuannya meningkatkan aliran masuk modal asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah, diikuti upaya meningkatkan likuiditas serta mengurangi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan, termasuk percepatan pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA).

Di jalur kebijakan makroprudensial, arah penguatan juga disebut tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kredit atau pembiayaan ke sektor riil. Pada saat yang sama, stabilitas sistem keuangan tetap dijaga, termasuk melalui kebijakan sistem pembayaran yang ditujukan mendukung aktivitas ekonomi lewat perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, serta peningkatan keandalan dan ketahanan infrastruktur.

Dampak kenaikan Federal Funds Rate The Fed

Selain agenda BI, pasar juga masih akan menilai dampak dari keputusan The Fed yang diumumkan dalam Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September. The Fed memutuskan menaikkan Federal Funds Rates (FFR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%–4,00%, dengan persetujuan seluruh anggota FOMC melalui hasil pemungutan suara 12–0.

Dalam pernyataan resminya, The Fed menyebut, “Inflasi masih tinggi. Kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi secara lebih cepat menuju target Komite sebesar 2%.” Keputusan ini sekaligus mengubah arah kebijakan moneter Amerika Serikat setelah periode pemangkasan suku bunga.

Pada rentang 2024 dan 2025, The Fed sempat memangkas bunga hingga batas atas turun dari 5,50% menjadi 3,75%. Namun, ketika tekanan inflasi belum benar-benar mereda, The Fed “kembali menginjak rem”, dan kenaikan dilakukan untuk pertama kalinya di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.

Ketegangan Houthi vs Arab Saudi dan potensi imbas ke komoditas

Faktor berikutnya yang berpotensi membentuk sentimen pekan depan adalah konflik yang belum juga reda di Timur Tengah. Sebelumnya, kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah lokasi yang disebut sebagai “area sensitif” di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pada Sabtu (19/9/2026).

Menurut laporan Reuters dan CNA, kejadian tersebut berlangsung beberapa jam setelah terlihat kobaran api serta asap hitam di dekat bandara utama Riyadh. Arab Saudi kemudian mengonfirmasi bahwa Houthi berupaya menyerang Riyadh menggunakan rudal balistik, dan menyatakan rudal berhasil dicegat serta dihancurkan oleh sistem pertahanan udara sebelum mencapai target.

Tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan akibat serangan tersebut. Meski demikian, sejumlah warga mengaku mendengar ledakan dan melihat kepulan asap di sekitar kawasan bandara, sementara rekaman video dan foto Reuters menunjukkan kolom asap hitam raksasa membumbung dari area dekat Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.

Dalam salah satu rekaman, kobaran api terlihat muncul dari area yang diduga merupakan tangki penyimpanan bahan bakar. Houthi sendiri tidak merinci target yang diserang di Riyadh, namun kelompok tersebut juga mengaku menyerang fasilitas milik raksasa energi Saudi Aramco di Yanbu, salah satu pusat ekspor minyak utama Arab Saudi di pesisir Laut Merah.

Houthi menyebut operasi itu dilakukan sebagai balasan atas serangan yang terjadi di ibu kota Yaman, Sanaa. Selain Riyadh, Arab Saudi mengklaim berhasil menggagalkan serangan lain yang menyasar wilayah Bish, Farasan, Taif, dan Yanbu.

Bagi pasar, rangkaian peristiwa ini dapat memperpanjang kekhawatiran atas kelanjutan konflik di Timur Tengah. Jika ketidakpastian tersebut membesar, harga komoditas energi seperti minyak mentah bisa menjadi sulit untuk turun kembali, sehingga berpotensi ikut memengaruhi inflasi yang masih berpeluang meninggi.