jurnalistik.co.id – Rupiah berpeluang mempertahankan penguatan, namun ruang geraknya kemungkinan masih terbatas pada perdagangan Senin (21/9/2026). Perkiraan pasar menempatkan rupiah spot bertahan di kisaran Rp17.700–17.800/US$.
Pergerakan itu terutama ditopang oleh dinamika komoditas energi yang ikut mereda. Harga minyak mentah tercatat kembali terpangkas 0,36% menjadi US$103,5/barel pada 07:12 WIB.
Penurunan harga minyak memberi sedikit sentimen positif bagi beberapa mata uang Asia yang sudah lebih dulu dibuka. Namun efeknya tidak sepenuhnya kuat, karena faktor penguat dolar AS masih menjadi penahan utama di pasar valuta asing.
Di kawasan, ringgit Malaysia terlihat menguat terbatas. Pergerakan serupa juga tampak pada yuan offshore, dolar Hong Kong, dan won Korea Selatan.
Sementara itu, yen Jepang masih melanjutkan pelemahan pada perdagangan pagi ini. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa respons mata uang Asia terhadap perubahan sentimen global berlangsung tidak merata.
Di sisi lain, dolar AS menguat terhadap enam mata uang utama. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) bergerak naik ke 100,26, yang berpotensi membatasi ruang penguatan mata uang kawasan, termasuk rupiah.
Dari hawkish Fed ke kenaikan imbal hasil
Tekanan terhadap nilai tukar sejumlah mata uang timbul seiring imbal hasil US Treasury yang kembali terkerek. Penguatan tersebut muncul setelah bank sentral AS, Federal Reserve, mengambil sikap hawkish dengan menaikkan suku bunga 25 basis poin (bps) menjadi 3,75–4%.
Berita Terkait
Ekspektasi pasar lantas bergeser pada jalur imbal hasil yang lebih tinggi, sehingga aliran dana di pasar obligasi ikut menyesuaikan. Dalam kondisi seperti ini, mata uang berisiko cenderung lebih sulit menguat karena dolar relatif lebih menarik bagi pelaku pasar.
Untuk tenor acuan 10 tahun, US Treasury kembali mengalami kenaikan. Imbal hasilnya terdongkrak 6,6 bps ke level 4,99% setelah pada pekan sebelumnya sempat melandai.
Kenaikan pada obligasi pemerintah AS itu tidak berhenti di pasar domestik. Pergerakan imbal hasil tersebut merembet ke pasar obligasi di beberapa negara lainnya, memperlihatkan transmisi sentimen global yang tetap dominan.
Dengan demikian, bahkan ketika faktor komoditas seperti minyak memberikan dorongan jangka pendek, tekanan dari dolar dan imbal hasil dapat membuat penguatan rupiah berjalan lebih hati-hati. Skenario ini selaras dengan proyeksi kisaran Rp17.700–17.800/US$ pada perdagangan Senin.
Melihat komposisi pendorongnya, pasar sedang berada di persilangan antara sinyal yang saling menyeimbangkan. Di satu sisi, penurunan minyak mentah menjadi bantalan bagi mata uang Asia tertentu, tetapi di sisi lain, penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil US Treasury tetap membatasi potensi kenaikan yang lebih lebar.
Ke depan, pergerakan rupiah kemungkinan akan sangat sensitif terhadap perkembangan lanjutan di AS, terutama terkait arah suku bunga dan respons imbal hasil US Treasury. Keterkaitan dengan pasar obligasi global juga dapat terus memengaruhi preferensi investor dalam menempatkan aset.
Bagi pelaku pasar valuta asing, kombinasi indeks dolar yang menguat ke 100,26 serta imbal hasil 10 tahun di 4,99% menjadi indikator penting untuk menilai tekanan terhadap rupiah. Dalam kerangka ini, penguatan yang terjadi diperkirakan lebih bersifat terukur ketimbang berlari agresif.
Dalam kerangka tersebut, dukungan dari meredanya harga minyak lebih cenderung berfungsi sebagai penyangga jangka pendek, bukan pengubah arah utama. Ketika perhatian pasar tetap menempel pada penguatan dolar dan dorongan imbal hasil, pelaku valuta umumnya menjaga posisi secara selektif sehingga laju penguatan rupiah tidak berkembang terlalu jauh.
Di saat yang sama, respons mata uang Asia terhadap perubahan sentimen global tampak berulang kali bersifat tidak seragam. Kondisi ini tercermin dari ringgit yang hanya menguat terbatas, sementara yen masih mengalami pelemahan, menunjukkan bahwa pergeseran preferensi investor lebih banyak dipandu oleh tekanan dari AS dibanding oleh faktor komoditas semata.












