Bisnis & Ekonomi

Wall Street Bangkit Usai Keputusan The Fed, Harga Minyak Turun

×

Wall Street Bangkit Usai Keputusan The Fed, Harga Minyak Turun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Wall Street Rebound Usai Putusan The Fed, Harga Minyak Turun - Market

jurnalistik.co.id – Wall Street menguat setelah keputusan Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023. Pergerakan pasar didorong oleh melemahnya harga minyak, yang pada gilirannya menumbuhkan optimisme bahwa inflasi dapat tetap berada dalam kendali.

Saham-saham AS bergerak bersama obligasi, membentuk suasana yang lebih positif dibanding sesi sebelumnya. Ekuitas mencatat kenaikan terbesar dalam enam pekan, menandai pemulihan cepat setelah keputusan otoritas moneter tersebut.

Indeks S&P 500 naik 1,1%. Pada saat yang sama, Nasdaq 100 yang banyak dihuni saham teknologi bertambah 1,7%, sedangkan indeks utama perusahaan pembuat chip melonjak 3,1%.

Lonjakan di sektor teknologi dan semikonduktor ikut mencerminkan respons pasar yang mulai mereda terhadap kekhawatiran suku bunga. Investor tampaknya kembali menilai ulang dampak kebijakan The Fed terhadap biaya pendanaan dan prospek ekonomi jangka pendek.

Dari sisi pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun turun dari level tertinggi sejak 2007. Penurunan imbal hasil ini sekaligus mengakhiri tren kenaikan delapan hari berturut-turut.

Selain obligasi, mata uang juga tidak bergerak ekstrem. Dolar bergerak relatif stabil, sementara harga emas mengalami kenaikan.

Di pasar komoditas, minyak menjadi salah satu pengungkit utama suasana. Minyak mentah Brent ditutup di bawah US$105 per barel, setelah harga minyak mentah turun untuk hari kedua.

ā€œSentimen pasar terdorong, salah satunya karena harga minyak mentah turun untuk hari kedua, sehingga mengurangi tekanan terhadap imbal hasil obligasi,ā€ kata Fawad Razaqzada dari Forex.com.

Menurut Fawad Razaqzada, penurunan harga minyak berperan dalam meredam kekhawatiran terhadap imbal hasil. Ketika tekanan pada obligasi mereda, sentimen yang semula tertahan cenderung kembali terbuka, termasuk pada saham yang sensitif terhadap kondisi suku bunga.

Reaksi pasar juga dinilai sejalan dengan ekspektasi pelaku industri terhadap gaya kebijakan The Fed. ā€œKemarin, The Fed cukup hawkish, dan kita melihat reaksi yang muncul di pasar valuta asing dan ekuitas seperti yang diperkirakan.ā€

Dengan demikian, penguatan Wall Street tampak lahir dari kombinasi dua elemen: sikap The Fed yang hawkish di satu sisi, dan penurunan harga minyak yang membantu menurunkan tekanan di pasar obligasi di sisi lain. Kondisi tersebut membuat investor lebih percaya inflasi dapat tetap terkendali, setidaknya dalam jangka waktu terdekat.

Pergerakan indeks yang mencolok—mulai dari S&P 500, Nasdaq 100, hingga saham chip—menegaskan bahwa perbaikan sentimen tidak hanya terjadi di satu segmen. Penurunan imbal hasil Treasury 10 tahun dari level puncak sejak 2007 turut memperkuat arah pasar yang lebih positif pada hari itu.

Secara keseluruhan, Wall Street berhasil bangkit setelah keputusan The Fed, dengan minyak yang turun dan obligasi yang melemahkan tekanan imbal hasil. Dalam rangkaian data itu, dolar yang relatif stabil serta kenaikan emas turut melengkapi gambaran bahwa pasar merespons dengan cara yang lebih tertata.

Lebih luasnya, pergantian arah pada pasar obligasi memberi ruang bagi pelaku pasar untuk mengambil posisi yang sebelumnya tertahan. Saat imbal hasil Treasury 10 tahun turun dan tidak lagi bergerak dalam jalur kenaikan beruntun, fokus perhatian beralih dari kekhawatiran biaya pendanaan menuju penilaian ulang terhadap peluang pemulihan ekonomi dalam waktu dekat.

Di saat yang sama, komponen pertumbuhan yang banyak bergantung pada ekspektasi suku bunga tampak menjadi motor kenaikan. Kenaikan yang terlihat pada Nasdaq 100 serta lonjakan saham terkait semikonduktor menunjukkan bahwa sentimen positif tidak berhenti di level indeks besar, tetapi menular ke segmen berisiko yang sensitif terhadap perubahan ekspektasi kebijakan.

Menurut penuturan Fawad Razaqzada, penurunan harga minyak yang berlanjut untuk hari kedua ikut memperbaiki suasana karena membantu menekan tekanan pada imbal hasil. Pola itu juga sejalan dengan gambaran respons lintas aset: dolar bergerak relatif stabil, sementara emas tetap menguat, sehingga mengisyaratkan pasar merespons informasi baru dengan cara yang lebih terukur dan tidak bergerak ekstrem.